Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com
Shalat Subuh baru saja usai di kawasan pinggiran Jakarta Selatan. Andi bersama jemaah lainnya segera melangkah pulang, untuk segera beraktivitas pagi itu.
Andi yang telah berpakaian kerja lengkap sebelum Subuh, segera mengambil tas kecilnya, helm, jaket, dan kunci motor. Ia segera memacu motornya menyusuri jalanan, menuju kantornya yang berada di sekitar Stasiun Dukuh Atas BNI.
Andi segera memarkir motornya di area Park & Ride Stasiun Lebak Bulus. Andi kemudian bus menuju Stasiun Fatmawati.
Bus yang ia tumpangi segera melaju menyusuri Jalan TB Simatupang, lalu masuk ke jalur tol dalam kota. Andi mulai gelisah karena mulai terjebak macet parah.
Kawasan ini terutama di jam-jam rawan (pukul 07.30–08.30), memang selalu menjadi langganan macet. Andi mulai berdoa, agar bus yang ia tumpangi bisa cepat lolos dari terjebak macet hari itu, mengingat ia sudah dapat teguran pertama dari HRD minggu lalu.
Titik-titik kemacetan seperti di lampu merah Fatmawati atau kawasan Radio Dalam/Panglima Polim kali ini, sangat ia takutkan jika kembali berakhir pada teguran kedua dari HRD. Benar saja, hari itu ia akhirnya telat melakukan fingerprint.
“Makanya besok kamu mulai naik MRT Jakarta saja. Nanti kalau sudah dapat teguran kedua, kamu tentunya akan berada dalam posisi di ujung tanduk,” nasehat Ali padanya yang membuat Andi merenung.
“Besok aku pertimbangkan deh naik MRT,” kata Andi ketika bertemu lagi dengan Ali di jam pulang.
Ditangannya ada satu kertas yang berisi teguran kedua, karena ia telat datang hari itu. Wajah Andi nampak lusuh, karena tak bisa membayangkan jika besok ia akhirnya dipecat.
“Pilihan yang bagus kawan. Ingat, masuk ke perusahaan ini susah dan sudah banyak yang antri untuk mendapatkan posisi yang kamu tinggalkan,” ungkapnya.
***
Pagi esok harinya, Andi sudah terlihat memegang satu cangkir kopi panas di dalam gerbong MRT Jakarta. Keputusannya semalam yang memutuskan untuk naik MRT Jakarta saja untuk seterusnya, membuatnya lega hari ini.
Kini ia bisa duduk tenang menjelang sampai ke kantornya, sambil membaca berita pagi di MRT Jakarta. Andi kini bersama karyawan berbusana rapi lainnya, tampak berjalan keluar dari peron MRT menuju exit gate, dengan napas lega. Ia berhasil sampai di kantor beberapa menit sebelum jam absen terakhir datang.
“Bagaimana Bro… tampaknya cerah sekali hari ini,” sapa Ali yang datang bergabung duduk dengannya bersama secangkir kopi di tangannya.
“Alhamdulillah, aku nggak stres lagi karena terjebak macet. Kini bisa datang lebih cepat ke kantor,” ucapnya penuh syukur.
***
Andi hanyalah satu dari ribuan karyawan yang jam masuk kantornya jadi terselamatkan sejak beroperasinya MRT Jakarta. Kepastian jam berangkat dan sampai di titik tujuan tanpa terjebak macet, membuat naik MRT Jakarta kini menjadi gaya hidup karyawan BUMN atau karyawan swasta, di sepanjang jalur yang dilewati MRT Jakarta.
Jika dibandingkan moda trasportasi lainnya, maka naik MRT Jakarta adalah satu pilihan yang sangat bijak. Jalur khusus yang dibangun hanya untuk dilewati MRT Jakarta, dijamin bebas macet sehingga menjamin ketepatan waktu bagi para karyawan.
Perkembangan positif inilah yang membuat warga Jakarta berharap, agar koridor MRT Jakarta ditambah dengan rute baru. Terutama rute-rute yang menjadi langganan macet di Jakarta, sehingga kemacetan Jakarta benar-benar bisa terurai dengan sendirinya.
Jika tren naik MRT Jakarta sudah menjadi gaya hidup warga Jakarta, maka multiplier efeknya akan sangat terasa. Akan terjadi pengurangan penggunaan kendaraan pribadi yang dengan sendirinya menekan konsumsi BBM warga Jakarta.
Jika konsumsi BBM kota terpadat di dunia itu berhasil ditekan, berarti juga membuat negara bisa menghemat subsidi BBM. Dengan alokasi dananya bisa diperuntukkan bagi kepentingan umum lainnya.
Jadi Percontohan
Pada masanya nanti, MRT Jakarta benar-benar akan memegang peran kunci dalam transformasi Jakarta dari pusat pemerintahan, menjadi kota bisnis dan berskala global (Global City). Peran strategis MRT Jakarta akan sangat dirasakan warga, sebagai sistem transportasi publik berstandar internasional.
MRT Jakarya akan menjadi moda transportasi massal yang tepat waktu (zero delay), aman, ramah disabilitas, dan terintegrasi. Kualitas layanan ini dipastikan sejajar dengan sistem transportasi kota-kota dunia seperti Singapura, Tokyo, atau London.
MRT Jakarta akan menjadi contoh pengembangan kawasan berbasis transit (Transit-Oriented Development / TOD). MRT Jakarta akan mengubah kawasan sekitar stasiun (seperti Blok M, Dukuh Atas, dan Bundaran HI) menjadi pusat kegiatan publik yang padat, terpadu, dan inklusif. TOD mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi serta menghidupkan pejalan kaki dan UMKM lokal.
MRT Jakarta akan menjadi akselerator integrasi moda transportasi (JakLingko). MRT Jakarta akan menjadi tulang punggung (backbone) integrasi fisik dan pembayaran antarmoda dengan LRT, KRL Commuter Line, TransJakarta, dan Kereta Bandara di titik-titik hub strategis seperti Stasiun Dukuh Atas.
MRT Jakarta akan memainkan peran sebagai dekarbonisasi dan keberlanjutan lingkungan. MRT Jakarta akan mendorong efisiensi energi dan penurunan emisi karbon, melalui peralihan penggunaan moda transportasi pribadi ke moda transportasi berbasis listrik. Hal ini sejalan dengan target indikator kriteria kota berkelanjutan (sustainable city) tingkat global.
MRT Jakarta akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan aksesibilitas. MRT Jakarta akan mempercepat mobilitas tenaga kerja dan efisiensi logistik perkotaan, mengurangi kerugian ekonomi akibat kemacetan, serta meningkatkan nilai investasi properti di sepanjang koridor MRT.
MRT Jakarta akan menjadi simbol modernisasi dan perubahan budaya usaha perkotaan. MRT Jakarta akan membentuk budaya baru masyarakat Jakarta yang tertib, antre, menjaga kebersihan ruang publik, serta menghargai waktu.
Bukti dari semua ini, bisa dilihat dari kenaikan signifikan penumpang MRT Jakarta pada September 2026. Dimana sebanyak 4.416.609 pelanggan menggunakan layanan MRT Jakarta sepanjang September 2026.
“Pada bulan tersebut pula, tercatat rata-rata 147.220 pelanggan menggunakan MRT setiap hari dari target 139.867 pelanggan,” kata Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud.
Ia mengatakan, pada hari kerja Senin—Jumat, rata-rata 165.423 pelanggan naik MRT dari target 156.276 pelanggan. Dan rata-rata 104.748 pelanggan pada akhir pekan Sabtu—Minggu dari target 101.580 pelanggan.
“Konsistensi angka keterangkutan saat hari kerja mencapai 160-170 ribu pelanggan per hari, menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat menggunakan transportasi publik saat weekdays,” tambahnya.
Selain itu, pada September, Stasiun Dukuh Atas BNI melayani hingga 746.836 pelanggan, diikuti oleh Stasiun Lebak Bulus BSI dengan 462.730 pelanggan. Sedangkan Stasiun Blok M BCA dan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta mencatatkan masing-masing 442.249 dan 442.144 pelanggan.
Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, data pada September 2026 ini juga menunjukkan relasi favorit pelanggan pada perjalanan Stasiun Istora Mandiri dan Dukuh Atas BNI. Berbagai aktivasi event dan kegiatan di sekitar stasiun seperti di Stadiun Gelora Bung Karno serta event gaya hidup lainnya seperti pertunjukan musik dan olahraga, mendorong peningkatan angka keterangkutan di Stasiun Istora Mandiri.
Sedangkan Stasiun Dukuh Atas BNI merupakan stasiun transit yang terkoneksi dan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi massal lainnya, seperti Stasiun Commuterline Sudirman, kereta bandara, dan Stasiun LRT Jabodebek Dukuh Atas BSI.
Untuk menaikkan angka keterangkutan, PT MRT Jakarta (Perseroda) telah bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dari industri wisata seperti sektor kuliner, aktivitas, hingga pusat perbelanjaan, kesehatan, pendidikan, hingga promo tiket di sejumlah tempat wisata. Kerja kolaborasi dengan sejumlah operator transportasi publik pengumpan (feeder) juga mendorong peningkatan angka keterangkutan. Lebih jauh lagi, moda pengumpan ini juga mengangkut dari kawasan hunian langsung menuju stasiun terdekat.
Kehadiran angkutan pengumpan ini akan berdampak tidak saja terhadap kenaikan angka keterangkutan, namun juga mendorong kebudayaan menggunakan platform berbagi kendaraan (ride sharing). Secara angka, operator pengumpan ini menyumbang sekitar 25 persen angka keterangkutan dari total ridership MRT Jakarta.
Terhitung sejak Mei 2023, waktu operasional ratangga dan stasiun saat akhir pekan yang biasanya mulai pukul 06 dan berakhir pada pukul 24.00, menjadi pukul 5 hingga 24.00 sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas masyarakat pada akhir pekan di sepanjang jalur MRT Jakarta. Penambahan jam operasional pun dilakukan saat penyelenggaraan event dengan massa yang besar di sepanjang jalur MRT Jakarta, seperti festival seni budaya atau perayaan pergantian tahun baru.
PT MRT Jakarta (Perseroda) berterima kasih kepada masyarakat yang telah menaruh kepercayaannya terhadap layanan MRT Jakarta dan mitra-mitra pengumpannya, sehingga lebih banyak orang yang menggunakan MRT Jakarta dalam mobilitas sehari-harinya.
Sebagai bagian dari inovasi dan mengikuti tren digital oleh masyarakat, pengguna jasa MRT Jakarta dapat menggunakan aplikasi MRT Jakarta di ponsel pintar untuk membeli tiket perjalanan, menggunakan poin penggunaan untuk ditukar dengan berbagai promo, bahkan menonton film dan bermain gim ponsel. Seluruh fitur gaya hidup ini, bertujuan untuk memberikan pengalaman penuh kepada pelanggan saat menggunakan layanan MRT Jakarta.
Pembelian tiket rombongan (maksimal lima tiket per akun) melalui aplikasi di ponsel berbasis android pun dapat dilakukan, sehingga memudahkan bagi pelanggan rombongan untuk bepergian. PT MRT Jakarta (Perseroda) juga menyediakan mesin top up uang elektronik keluaran bank di setiap stasiun.
Inovasi melalui mesin tiket kertas kode QR juga disediakan untuk memudahkan masyarakat saat membeli tiket. PT MRT Jakarta (Perseroda) menyediakan mesin tiket kertas kode QR versi mobile, seperti mesin EDC, di mana pengguna jasa dapat memesan, membayar, dan mencetak tiket kertas melalui alat mobile yang dibawa oleh petugas stasiun saat kondisi sedang ramai.
Yang terbaru, pelanggan dapat langsung melakukan pengetapan pada passenger gate, dengan menggunakan kartu kredit Mastercard dan Visa tanpa membeli tiket perjalanan terlebih dahulu. MRT Jakarta menyediakan merchadise tiket yang dapat digunakan untuk melakukan perjalanan.
Hadir dalam bentuk gantungan lucu (charm), lanyrd, pop-socket, dan lainnya. Kelebihannya, allride dapat terhubungkan (pairing) dengan aplikasi MyMRTJ dan allride wallet by GoPay. Masyarakat yang ingin mendapatkan charm, dapat berkunjung ke MRT Merch Market yang berlokasi di Stasiun Blok M BCA.
Berdasarkan data dan fakta di atas, makan peran strategis MRT Jakarta untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global sudah di depan mata. Apalagi jalur ini juga sedang dilanjutkan pembangunannya melalui proyek Fase 2A untuk memperpanjang rute dari Bundaran HI menuju Kota (Stasiun Kota), serta perencanaan Fase 2B hingga ke Ancol Barat.
Jika kawasan padat dan kawasan bisnis sudah berhasil dilayani MRT Jakarta, maka kemacetan Jakarta benar-benar akan menemui jalan keluar. Tidak akan banyak lagi motor atau kendaraan pribadi lainnya yang beredar di sepanjang jalur yang dilalui MRT Jakarta.
Masyarakat akan merasakan keamanan dan kenyamanan naik MRT Jakarta. Apalagi nantinya jika antara gerbong laki-laki dan perempuan dipisah, tentunya akan menjadi lebih nyaman lagi bagi mereka yang selama ini merasa terancam pelecehan di dalam trasportasi umum.
Jika ini terwujud, maka MRT Jakarta benar-benar akan menorehkan sejarah keberhasilan yang gemilang untuk transportasi publik yang aman dan nyaman. Dan tentunya nanti akan menjadi teladan bagi seluruh kota-kota padat dan macet di dunia, untuk segera mewujudkannya menjadi transportasi pilihan untuk kota global. (*)












