BUKITTINGGI ,- Tak dapat akal lagi meriahnya. Gedung Bung Hatta Bukittinggi, Ahad (19/10), penuh sesak. Bukan rapat dinas. Bukan kampanye.
Isinya 259 orang tua yang tertawa meledak-ledak.
“Lai sehat-sehat sajo? Lah bara cucu? Dima kini tingga?”
Kalimat itu yang paling banyak terdengar. Kalimat basa-basi Minang yang kalau diucapkan orang yang sudah 20 tahun tak bertemu, rasanya jadi haru.
Ini reuni akbar Mantan Agam. Para mantan pejabat dan pegawai Kabupaten Agam dari lintas zaman.
Wajah-wajah yang hadir masih saling kenal, walau sudah puluhan tahun tak bersua. Rambut sudah memutih semua.
Di barisan depan duduk orang yang paling dihormati. H. Aristo Munandar, Bupati Agam 2005-2015, datang bersama dua mantan wakilnya, H. Ardinal Hasan*dan Syafruddin Arifin. Di sampingnya duduk mantan Sekda di eranya, Syafirman Azis dan Martiaswanto, para mantan pimpinan lainnya juga tampak, seperti Azhar Maliki, Mukhsis Malik, Herlizon. Di belakangnya berderet puluhan mantan eselon II dan III. Semua sudah pensiun, kebanyakan ibu ibu
“Kita ini semua badunsanak. Alhamdulillah kito sehat. Kita doakan kawan-kawan kito nan lah wafat mendapat ampunan Allah, nan sakik disembuhkan,” kata Buya Eldi Efra, ketua panitia, membuka acara.
Buya yang mantan eselon III ini memilih tema yang sangat Minang: “Taragak Basuo, Bapisah Karano Jarak, Basuo Karano Taragak, Paarek Jo Raso Badunsanak.”
“Waktu samo-samo batugas dulu, mungkin ado nan indak bakalamak-an. Dengan taragak basuo ko, momentum untuk saling memaafkan,” kata Buya.
Sambutan paling ditunggu tentu dari urang tuo, penasehat Mantan Agam, Aristo Munandar.
Aristo naik ke panggung dan langsung melihat seisi gedung.
“Sajak tadi datang, ambo lihek sadonyo bagadang hati, tampak senang, galak-galak, tak ada yang sedih,” kata Aristo.
Suaranya bergetar. Dia mengulang ucapan wakilnya, Syafruddin Arifin.
“Lapeh taragak kito bang, benar-benar senang hati kito basuo-suo ko.”
Aristo tak lupa memuji panitia. “Buya ko luar biasa, wajar kito samo-samo berterimakasih ka Buya. Mudah-mudahan Buya masuak sarugo jugo lah handaknyo,” kata Aristo, disambut tawa dan amin seisi gedung.
Bupati Agam yang berhalangan hadir diwakili Asisten III, Taslim. Dia memberi sambutan di tengah riuh rendah peserta yang tak berhenti bercengkrama.
Sambutan Gubernur Mahyeldi yang juga berhalangan hadir karena tugas lain, disampaikan oleh anak emas Agam yang kini jadi pejabat provinsi.
Endrizal, Kadis Perdagangan Pemprov Sumbar, maju. Dia adalah bukti hidup bahwa karir dari bawah itu ada. Memulai karir di Agam sebagai staf biasa golongan II, naik jadi eselon IV, eselon III, Camat, sampai eselon II di provinsi.
“Gubernur Buya Mahyeldi titip salam untuk kita bersama. Beliau ingin sekali hadir, tapi tugas lain tidak bisa ditinggal. Beliau pesan, mudah-mudahan kita semua sehat selalu dan terus menjalin silaturahmi,” kata Endrizal.
Endrizal bercerita, di bawah bimbingan Pak Aristo, dia mendapat banyak pengalaman.
Tak heran, kata dia, ketika jabatan Bupati Agam kosong, Gubernur Mahyeldi menunjuk dia sebagai Pj Bupati.
“Jabatan Pj itu dipercayakan Gubernur kepada saya, karena kedekatan dan pengalaman panjang saya selama di Agam,” ujarnya.
Suasana Istana Bung Hatta memang riuh rendah. Yang di depan pidato serius ber-literasi, yang di belakang asyik bercengkrama sendiri. Ada yang sibuk tukar nomor HP. Ada yang langsung pelukan lama.
Acara makin hidup dengan penampilan vokal grup Efendi Cs, dan yang paling pecah, lagu Broery Marantika yang dibawakan oleh Martiaswanto, mantan Sekda yang ternyata suaranya emas.
Tak ada politik. Tak ada APBD. Tak ada jabatan.
Acara diakhiri dengan makan bersama, foto-foto, tukar nomor hape, dan shalat Zuhur berjamaah.
Mereka datang sebagai mantan atasan dan bawahan. Pulang sebagai dunsanak. (MK)












