BUKITTINGGI, – Kalau gedung bisa bicara, Gedung Bung Hatta Bukittinggi besok, Ahad (19/10), akan jadi saksi paling berisik tapi paling rindu. Bayangkan ada lima bupati dan seorang gubernur berserta 300 orang yang dulu setiap pagi absen di kantor Bupati Agam di Lubuk Basung, kini datang lagi, bukan untuk rapat dinas, bukan untuk apel pagi.
Mereka datang untuk saling memaafkan.
Lima bupati Agam dari tiga zaman akan duduk satu panggung. Ada *Gustiar Agus*, sang kolonel yang memimpin Agam 1990-2000 di zaman Orde Baru masih gagah. Ada *Aristo Munandar*, masih sehat, bupati dua periode 2000-2010 yang mengantar Agam masuk era otonomi. Ada *Indra Catri*, bupati teknokrat 2010-2020 yang paling lama memimpin, sekarang anggota DPRD Sumbar. Ada *Andri Warman*, bupati pengusaha yang jadi bupati 2022-2025, dan *Benni Warlis*, bupati sekarang. Mereka semua, senior dan yunior.
Mereka akan bertemu dengan seorang Gubernur. Bukan sembarang gubernur. *Mahyeldi Ansharullah*, walaulun dia ber KTP Padang, tapi dia anak Gaduik, Tilkam, ano urang Agam, Agam juga dia.
Ada apa? Apakah Agam sedang gawat darurat? maka kara tokoh tokoh berkumpul?
“Tidak ada agenda politik, tidak pula agenda pula persiapan Pemilu dan Pilkada, Jangan cari-cari kesempatan” kata Eldi Efra sambil tertawa keras di ujung telepon.
Pria yang akrab dipanggil Buya ini adalah ketua panitianya. Mantan pejabat eselon III Pemkab Agam. Didampingi bendahara, Primaidi, yang dipanggil Mak I. “Mak i yang kumpulkan kontribusi, semua peserta wajib bayar, tak ada lagi uang negara” ujar Buya.
Tentang agenda pertemuan ini, Buya menegaskan satu kalimat, ” Ini murni malapeh taragak,” katanya.
Dia tambahkan, ini silaturahmi lintas generasi. Lintas pangkat.
“Yang akan hadir tu ado nan alah pensiun 30 tahun lalu. Umua alah di ateh 80 tahun. Ado nan masih aktif, contohnya Endrizal, kini eselon II di Pemprov Sumbar. Rato-rato umua 60 tahunan,” urai Buya.
Dulu, di kantor, jarak itu jelas, ada sekat birokrasi dan pangkat, Sekda, Asisten, Kepala Dinas, sampai pegawai golongan II yang tukang ketik surat dan antar berkas. Dulu ada yang jadi atasan yang keras, pacaran, ada bawahan yang pernah dimarahi di depan rapat.
Besok, semua sekat itu dilepas di Gedung Bung Hatta.
“Makonyo target utamo pertemuan ko maaf-maafan. Maaf antara mantan atasan jo bawahan. Namonyo dinamika maso lalu, pasti ado nan tasingguang. Kini saatnyo,” kata Buya.
Ini bukan yang pertama. Dua tahun lalu pertemuan serupa juga diadakan. Tapi yang besok ini yang paling banyak dan paling istimewa, karena pertama kali digelar di Gedung Bung Hatta, gedung bersejarah di jantung Bukittinggi.
Lalu kenapa Gubernur Mahyeldi diundang?
“Beliau kita undang sebagai tamu kehormatan. Pertama, beliau urang Agam. Kedua, beliau pembina PWRI, Persatuan Wredatama Republik Indonesia, organisasi para pensiunan,” jawab Buya diplomatis.
Tapi Buya sudah pasang kuda-kuda. Agar acara rindu ini tidak berubah jadi panggung kampanye.
“Sambutan kita batasi, cuma 2-3 orang saja. Kalau dikasih panggung semua tokoh, apalagi ada yang politisi, beko kampanye se nyo. Ndak buliah!” katanya sambil gelak.
Besok, di Bukittinggi, tidak ada pidato panjang tentang APBD, tidak ada janji pembangunan. Yang ada hanya pelukan mantan pegawai golongan II kepada mantan bupatinya. Yang ada hanya cerita, “Dulu awak pernah sekantor di Lubuk Basung sejak tahun 1990 han.
Agam mungkin sudah berganti bupati lima kali. Tapi rindu para pegawainya, ternyata tetap satu. (MK)












