Konekvitas Jadikan Harga Bawang Petani Solok Untung Terus

Amri sedang memeriksa kebu bawang

Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com

“Pak Amri… Kali ini mau bertanam apa?”

Tanya salah seorang petani pada Amri Ismail, Ketua Asosiasi Bawang Merah Kabupaten Solok, saat ia sedang asik mengawasi pekerja menggarap kebunnya. Mendapat pertanyaan seperti itu, Amri tersenyum penuh semangat, lalu membeberkan rencananya.

“Berdasarkan siklus cuaca, petani bawang di Brebes Jawa Barat, Nganjuk Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat, akan berakhir masa panennya bulan depan. Kalau kita mulai bertanam sekarang, saat mereka baru akan memulai lagi di akhir panen, maka bawang kita bisa menguasai pasar saat mereka masuk masa tanam,” terangnya dengan senyum sumringah.

“Wah… perhitungan yang matang sekali Pak Ketua. Kalau begitu kami ikut dan kami bakal jual lagi menurut petunjuk Pak Amri,” jawabnya dengan senyum bahagia, lalu berlalu pergi menuju ladangnya.

Sebagai seorang ketua yang memiliki koneksi ke asosiasi bawang di seluruh Indonesia, Amri dengan cermat mencatat masa tanam dan masa panen petani bawang lainnya di seluruh Indonesia. Ia bahkan juga memperhitungkan masa panen negara pengimpor bawang lainnya, sehingga dengan cara itu, ia bisa menjaga harga bawang petani Solok tetap menguntungkan di sepanjang masa.

“Selain masa panen, saya juga memperhatikan faktor alam seperti cuaca dan siklus terjadinya bencana. Hal ini sangat penting, agar pasokan bawang selalu siap siaga,” ungkapnya.

Amri mengaku, kemajuan teknologi digital makin membuatnya bisa terus bertumbuh dan meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) petani bawang di Solok. Kini mereka jadi jauh dari bayang-bayang kerugian, karena mereka telah memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat.

“Hingga saat ini storage penyimpanan bawang hampir tak pernah dipakai, karena semua bawang hasil panen berhasil terjual ke pasar dengan harga mahal. Ini sangat kami syukuri, meski storage yang dibantukan pemerintah pada kami, untuk menumpuk bawang yang sedang anjlok harganya,” terangnya sambil menunjuk storage besar miliknya.

Kemajuan di dunia komunikasi, juga membuatnya terus melakukan inovasi. Ia pun kini tak perlu menyirami kebunnya dengan cara tradisional, tapi kini cukup pencet satu tombol, maka kebunnya bisa mentiram sendiri.

Ia pun memasang perangkat hama ulat bawang, dengan memasang perangkap dengan pencahayaan listrik di malam hari. Hal itu membuat bawang-bawangnya tumbuh berkualitas tanpa ada yang terserang hama.

Baca Juga  Pasca Bencana, Menteri Sosial Rismaharini Memasak Bersama Relawan di Dapur Umum

“Alhamdulillah saya mendapat pujian dari Kepala Bank Indonesia Sumatera Barat yang mengatakan, saya petani bawang super premium dan tak banyak yang melakukan hal serupa, karena pasarnya berbeda,” ungkapnya.

Amri juga mempelajari kelanjutan hasil panennya setelah bawangnya masuk masa panen. Ia pun telah menanam pohon cabai, bawang daun, dan selada, beberapa pekan sebelum ia panen raya.

“Dengan demikian ada keberlanjutan penghasilan, sehingga uang masuk tidak terputus. Begitu bawangnya panen, maka satu bulan kemudian, bawang daun, cabai dan selada, segera pula masuk masa panen,” terangnya.

Ia pun menunjukkan bibit pohon cabai yang ia tanam di tengah bedeng yang di dekatnya sudah siap panen bawang-bawang super premiumnya. Sementara di pinggirnya ada bawang daun yang juga mulai tumbuh dengan bagus.

Apa yang dilakukan Amri, selalu menjadi sumber inspirasi bagi petani bawang yang berada di bawah naungan kelompok taninya, maupun yang secara perorangan. Amri pun tidak pernah pelit berbagi, karena ia merasa lebih lega dengan ilmunya banyak petani yang berhasil dibantu.

Kondisi ini menurutnya tidak akan terjadi, jika konektivitas tidak terhubung ke seluruh Indonesia. Hanya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, SDM, dan inovasi.

Ia mengaku akan terus mengikuti perkembangan dunia pertanian, dengan segala kemajuan dunia digital, Ia akan gunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan petani.

Teknologi Digital

Teknologi digital seperti dikutip dari journal.hasbaedukasi.co.id, terbukti menjadi penggerak utama (catalyst) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dan efisiensi inovasi. Peran penting teknologi digital pada ketiga sektor tersebut, pertama mendorong Pertumbuhan Ekonomi.

Teknologi digital memperluas akses pasar, mempercepat arus transaksi keuangan, dan mendorong efisiensi rantai pasok (ejournal.kopertais4.or.id). Bahkan Studi eConomy SEA (Google, Temasek, & Bain & Co.) mencatat nilai ekonomi digital (Gross Merchandise Value/GMV) Indonesia tumbuh pesat dari USD 77 miliar pada 2022 dan diproyeksikan melonjak mencapai USD 100–130 miliar pada 2025 (djkn.kemenkeu.go.id).

Teknologi digital juga menjai pendorong dan tulang punggung ekonomi (E-Commerce & Fintech). Hal itu terbukti dari transaksi e-commerce yang menjadi kontributor utama (mencapai lebih dari Rp400 triliun per tahun). Akses keuangan digital (fintech/e-wallet) juga berhasil memperluas inklusi keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya tak terjangkau perbankan (unbanked).

Baca Juga  Komitmen IPCM Lestarikan Lingkungan dengan Energi Ramah Lingkungan

Selain itu, pemberdayaan UMKM juga terus maju. Lebih dari 15–20 juta UMKM terhubung (onboarding) ke platform digital, memungkinkan mereka menjangkau konsumen nasional maupun internasional tanpa batasan geografis.

Bukti teknologi digital juga mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas SDM, bisa dilihat dari digitalisasi yang mengubah lanskap ketenagakerjaan, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan efisiensi kerja.

Platform digital (gig economy seperti ride-hailing, e-commerce, dan pemasaran digital) menciptakan jutaan pekerjaan baru. Sektor digital memunculkan profesi spesialis seperti Data Analyst, Digital Marketer, Software Engineer, dan Content Creator.

Kehadiran platform edtech, MOOC (seperti Coursera, Udemy, maupun program Digital Talent Scholarship Kemkomdigi) memungkinkan jutaan tenaga kerja meningkatkan keterampilannya secara fleksibel (upskilling & reskilling).

Implementasi sistem otomatisasi berbasis AI dan Cloud Computing terbukti memangkas tugas administratif berulang, sehingga SDM dapat berfokus pada pekerjaan bernilai tambah tinggi (high-value tasks) dan pengambilan keputusan berbasis data.

Teknologi Digital juga mempercepat inovasi dan adaptasi bisnis. Teknologi digital menurunkan biaya riset dan mempercepat siklus peluncuran produk baru ke pasar (time-to-market). Validasi Pasar Berbasis Big Data: Pemanfaatan Big Data Analytics dan riset digital memungkinkan perusahaan memahami perilaku konsumen secara akurat, meminimalkan risiko kegagalan riset produk, dan menghasilkan produk inovatif yang sesuai kebutuhan riil konsumen.

Akselerasi Startup & Model Bisnis Baru: Integrasi infrastruktur digital (seperti API dan layanan cloud) memangkas modal awal (capital expenditure) untuk memulai bisnis baru. Hal ini mendorong lahirnya ribuan startup teknologi yang menciptakan inovasi di berbagai sektor (seperti EdTech, HealthTech, AgriTech, dan Logistics).

Selain itu juga ada Kolaborasi Terbuka (Open Innovation): Ekosistem digital memungkinkan kerja sama lintas disiplin dan wilayah secara real-time, mempercepat riset bersama serta penerapan hasil riset ke dunia industri.

Maka dari itu, kemajuan teknologi digital harus terus berjalan di Indonesia. Aksesnya harus diperluas, sehingga semua rakyat Indonesia bisa merasakan manfaatnya. (*)