Dari Timbunan Longsor, Herlina Kembali Menanam Harapan

Proses rehabilitasi sawah bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat. (brmp)

PADANG – Hujan turun tipis di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sabtu (26/9/2026). Rintiknya membasahi pematang. Sebagian petak sawah sudah selesai dipanen.

Kabut asap masih menggantung di langit. Matahari terlihat samar. Hujan rinai belum mampu membersihkan udara yang beberapa hari terakhir menyungkup kawasan itu.

Di tengah suasana itu, Herlina, 43, baru saja mengemasi cangkul. Alat sederhana itu dipakainya sejak pagi untuk memperbaiki pematang sawah. Cangkul diletakkan. Pekerjaan hari itu selesai.

Lina, begitu ia biasa disapa, bersiap pulang. Sejak pukul 08.00 WIB, ibu tiga anak itu sudah berada di sawah. Waktunya makan siang. Setelah itu, ia akan beristirahat sebelum kembali menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga.

Beberapa hari terakhir, aktivitas itu terus dilakukannya. Setelah memastikan anak-anaknya berangkat sekolah, Lina menuju sawah. Anak pertamanya duduk di kelas III SMP Negeri 3 Lubuk Alung. Anak keduanya masih kelas II SD Negeri 23 Pasie Laweh Lubuk Alung.

Tahun ini, Lina ingin kembali menanam padi. Pematang harus dibenahi. Air harus bisa bertahan di petakan. Sawah yang ditanami padi sekitar Mei 2026 lalu itu akan kembali menjadi sumber pangan keluarganya.

Sawah itu tidak luas. Kurang dari satu hektare. Namun, bagi Lina, lahan peninggalan orang tuanya itu jauh lebih berarti dari ukurannya.

Sawah tersebut menjadi salah satu penopang utama ekonomi keluarganya. Suaminya bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tidak besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai tiga anak.

Karena itu, setiap musim tanam memiliki arti. Biasanya Lina tidak terus-menerus menanam padi. Ia menggilirnya dengan palawija.

Padi untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Palawija menghasilkan uang untuk belanja. Pola itu juga dipercaya membuat tanah lebih subur karena sisa pupuk palawija membantu pertumbuhan padi.

“Kebiasaan kami seperti itu, kalau tanam padi terus humusnya menjadi kurang. Padi kurang subur. Kalau dibuat ladang, bisa hasilkan uang buat belanja, umurnya pendek pula,” katanya sembari melangkah meniti pematang menuju rumah.

Tahun ini seharusnya menjadi tahun biasa bagi Lina. Namun, beberapa bulan sebelumnya, ia sempat kehilangan harapan.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Nagari Pasie Laweh pada November 2025 membuat sawahnya tertimbun material longsor. Untung tidak begitu parah, hanya lumpur tidak batu-batu.

Tanah merah menutupi permukaan sawah. Pematang hilang. Bandar air tak lagi terlihat. Semuanya rata oleh timbunan material.

Baca Juga  Diduga Pelaku Cabul Ditangkap Polisi di Padang

Ketebalannya mencapai sekitar 30 hingga 60 sentimeter. Sawah yang biasanya menjadi tempat Lina bekerja mendadak tidak bisa ditanami. Untuk mengembalikannya seperti semula membutuhkan waktu, tenaga dan biaya.

Bagi keluarga Lina, biaya itu bukan perkara kecil. Hasil musim tanam sebelumnya sudah habis digunakan memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara bencana membuat aktivitasnya di sawah ikut terhenti.

Enam bulan lalu, perempuan anak ketiga dari lima bersaudara itu hanya bisa pasrah melihat lahan warisan orang tuanya tertutup material longsor.

Kini pemandangannya berbeda. Pematang mulai terbentuk kembali. Cangkul kembali bekerja. Air kembali bisa diarahkan. Bibit padi kembali ditanam.

Lina kembali berdiri di sawahnya. Harapan itu datang setelah pemerintah memberikan bantuan rehabilitasi lahan pertanian terdampak bencana. Tidak kurang Rp32 miliar disalurkan Kementerian Pertanian untuk rehabilitasi sawah rusak ringan dan sedang di Nagari Pasie Laweh.

Bantuan tersebut disalurkan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Pada Mei 2026, petani Korong Tanah Taban melakukan tanam padi serentak. Sejumlah pejabat hadir. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah ikut menyaksikan kegiatan tersebut.

Bagi Lina, perhatian pemerintah itu bukan sekadar angka dalam laporan. Bantuan tersebut membuat sawah kembali bisa ditanami.

“Kami bersyukur atas bantuan saat itu, kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, sampai sekarang kami belum bisa panen,” ujarnya.

Cerita Lina merupakan bagian kecil dari perjuangan petani Sumatera Barat setelah bencana hidrometeorologi. Di sejumlah daerah, sawah rusak. Sebagian bahkan hilang. Material longsor menutup lahan. Arus sungai menggerus hamparan pertanian. Petani kehilangan sumber penghidupan.

Pemerintah kemudian bergerak melakukan rehabilitasi lahan rusak ringan dan sedang.

Gubernur Mahyeldi saat mengikuti kegiatan tanam padi serentak di lahan sawah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (13/5/2026).(humasprov)

Saat mengikuti tanam padi serentak di Korong Tanah Taban pada 13 Mei 2026, Mahyeldi mengatakan proses rehabilitasi lahan terdampak bencana berhasil dipercepat.

“Alhamdulillah, sesuai arahan Pak Menteri, proses rehabilitasi lahan terdampak bencana kategori rusak ringan dan sedang, berhasil kita percepat dan tuntaskan. Hari ini adalah penanaman terakhir, artinya progres kita sudah 100 persen,” ungkapnya.

Mahyeldi menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, pemerintah kabupaten dan kota serta seluruh pihak terkait.

Namun, pekerjaan belum selesai. Sekitar 7.000 hektare lahan di Sumatera Barat terdampak berat akibat bencana. Lebih dari 4.000 hektare di antaranya hilang karena berubah menjadi aliran sungai atau tersapu longsor.

“Sebahagian dari lahan yang hilang itu, sekarang berubah menjadi sungai, ada juga yang benar-benar tergerus akibat longsor. Karena itu, penanganannya perlu melibatkan lintas kementerian, tidak bisa hanya Kementerian Pertanian, tapi juga perlu melibatkan Kementerian PU dan kementerian lain. Inilah yang menjadi tantangan kita saat ini,” tegasnya.

Baca Juga  Dinpar Sumbar Kembali Menggelar Sosialisasi WTBOS

Kondisi serupa juga terjadi di Padang Pariaman. Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menyebut bencana banjir dan longsor memberikan pukulan serius bagi sektor pertanian.

Total lahan sawah terdampak mencapai 1.263,4 hektare. Rinciannya, 446 hektare rusak ringan, 238,25 hektare rusak sedang, 450,7 hektare rusak berat dan 100,5 hektare hilang terbawa arus sungai.

Lahan jagung juga terdampak. Luasnya mencapai 570,35 hektare. Sebanyak 382,6 hektare rusak ringan, 71 hektare rusak sedang, 112,5 hektare rusak berat dan 4,3 hektare hilang.

“Untuk sawah rusak ringan seluruhnya sudah tertangani 100 persen sedangkan untuk lahan sawah yang rusak berat dan hilang sampai sekarang belum ada alokasi bantuan dari Kementerian Pertanian. Begitu juga lahan jagung yang terdampak. Kita berharap ini bisa segera,” kata John Kenedy Azis.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI Tedy Dirhamsyah sebelumnya mengapresiasi percepatan rehabilitasi lahan pertanian di Sumatera Barat.

Menurutnya, progres Sumbar termasuk paling cepat dibandingkan daerah terdampak lainnya, seperti Aceh dan Sumatera Utara.

“Total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya luar biasa. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14 persen, tapi Sumbar sudah memenuhi target Pak Menteri. Ini juara satu,” kata Tedy.

Bagi pemerintah, capaian itu adalah progres rehabilitasi. Bagi Lina, capaian tersebut terasa jauh lebih dari sederhana.

Ia kembali bisa mencangkul. Ia kembali bisa memperbaiki pematang. Ia kembali bisa menanam padi di tanah peninggalan orang tuanya.

Di sawah kurang dari satu hektare itu, Lina tidak hanya menanam padi. Ia sedang menjaga dapur keluarganya tetap menyala. Hujan masih turun tipis di Tanah Taban.

Kabut asap belum sepenuhnya pergi. Namun, di antara pematang yang kembali terbentuk, ada sesuatu yang tumbuh lebih dulu daripada bulir padi.

Lina tahu, musim tanam tidak selalu mudah. Bencana bisa datang tanpa memberi tanda. Tetapi selama sawah masih bisa diolah, ia memilih kembali menanam.

Sebab bagi Lina, tanah itu bukan sekadar lahan. Di sanalah makanan tumbuh. Di sanalah uang belanja dicari. Di sanalah masa depan tiga anaknya perlahan disiapkan.(yose)