Suwito SH: 30 Tahun Bolak Balik Mentawai dan Kesetiaan Pada Armada ASDP

Suwito SH (kiri) dengan salah seorang penumpang kapal KMP Gambolo. (dokumen pribadi)

Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com

Senyum ceria mengembang di bibir Suwito SH, pegawai Kementerian kehutanan, UPT Balai Taman Nasional Siberut, saat kakinya pertama kali melangkah masuk ke kapal besar KMP Ambu-Ambu, milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), di hari pertama operasinya di tahun 2006. Tekadnya kala itu, mulai hari itu dan seterusnya, maka untuk bolak balik ke tempat tugas di Siberut, ia akan naik KMP Ambu-Ambu.

“Hari itu, menjadi hari terakhir saya selama 10 tahun berangkat tugas ke Mentawai dengan Kapal Kayu Sumber Rejeki, Kapal Kayu Sumber Baru, Kapal Nade, atau Kapal Simasin,” kenangnya saat bercerita pada penulis.

Ia mengatakan, tekadnya pindah ke KMP Ambu-Ambu, selain karena pertimbangan sistem keamanan dan keselamatan yang mumpuni, juga karena adanya fasilitas khusus untuk bisa digunakan untuk shalat berjemaah.

“Saya itu meski dalam posisi musafir, jika ada kesempatan shalat berjemaah, bagi saya itu bonus yang sangat berharga. Makanya saya akhirnya setia dengan KMP Ambu-Ambu, lalu diselingi KMP Gambolo yang mulai beroperasi di tahun 2012,” terangnya.

Jadi sejak 2012, ASDP resmi mengoperasikan dua kapal utama tipe Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) untuk melayani rute penyeberangan dari Pelabuhan Teluk Bungus (Padang) menuju Kepulauan Mentawai, yaitu kapal KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo. Jika KMP Gambolo berangkat Selasa dari Padang, maka Rabu sudah sampai, maka KMP Ambu-Ambu berangkat Sabtu dan sampai hari Minggu

“Saya mulai bertugas sejak 1998. Meski sekarang ada kapal cepat, saya masih menggunakan KMP Ambu-Ambu atau KMP Gambolo, jika sedang membawa alat-alat berat dari Padang, untuk mesin speed boat sebagai penunjang tugas saya di Mentawai,” tuturnya.

Ia memuji armada ASDP dengan pelayanan profesional yang mereka berikan. Apalagi sejak tiket bisa dipesan secara online, diikuti pelayanan yang semakin bagus, makin membuat rasa setianya tumbuh semakin subur.

“Dengan armada ASDP, saya bisa bawa barang berat dengan harga terjangkau. Saya juga suka dengan kebersihan dan kantinnya bagus. Tempat tidur ada matrasnya dan ASDP tidak akan ragu untuk kembali ke Padang, jika cuaca tak mungkin untuk ditempuh,” terangnya.

Pelayanan yang sangat ramah, sangat berkesan bagi Suwito dan penumpang lainnya. Apalagi ada yang menjual makanan dan minuman juga, sehingga menjadi sebuah paket komplit dalam mendukung mobilitas penumpang dan juga logistik.

“Saya berharap pelayanannya makin ditingkatkan lagi, apalagi seiring dengan tingginya kesadaran umat Islam akan pentingnya shalat berjemaah. Mushalla yang ada di kapal saat ini sudah tak sanggup lagi menampung penumpang yang ingin shalat berjemaah,” tutur Suwito yang sering diminta penumpang kapal sebagai imam shalat berjemaah.

Baca Juga  Wartawan Firdaus & Teror Covid-19

Menurutnya, dengan adanya ruang ibadah yang diperluas, didukung oleh Kaptennya yang ramah pula dan rajin shalat, rasanya pergi dengan armada ASDP jadi lebih menyenangkan dan meninggalkan kesan tak terlupakan.

“Hal itulah yang membuat saya bahagia tiba di tempat tugas, menjalankan pekerjaan sebagai Polisi Kehutanan Perlindungan dan Keamanan Kawasan, Satwa, ilegal logging, pembinaan kelompok tani dan tugas lainnya,” ungkapnya.

Ia pun berharap pelabuhan di Mentawai diperbaiki, sehingga semakin bagus. Parkir yang kurang teratur dijadikan teratur. Ia pun meminta Kesiagaan untuk mencegah barang curian lebih diperhatikan lagi.

Dukung Mobilitas Penumpang dan Logistik

Sejak adanya armada ASDP yang melayani rute Padang dari dan ke Kepulauan Mentawai, kontribusinya bagi kemajuan perekonomian Kepulauan Mentawai sangat terasa dan dinikmati warga yang menghuni pulau terluar dari Indonesia itu. Kini mobilitas penumpang dan logistik bukan lagi satu masalah besar, karena kapal ASDP benar-benar bisa diandalkan.

KMP Ambu-Ambu dengan ukuran Tonase ± 539–540 GT (Gross Tonnage), melayani rute utama Padang (Bungus) – Tuapejat (Sipora) – Sikakap (Pagai Utara) – Muara Siberut (Siberut), memiliki fasilitas dan kapasitas untuk bisa mengangkut ratusan penumpang (kelas ekonomi dan kamar tidur VIP/AC). Geladak kendaraannya bisa membawa sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk logistik sedang.

Sedangkan KMP Gambolo yang dihadirkan sebagai kapal saudara (sister ship) dari KMP Ambu-Ambu untuk memperkuat frekuensi penyeberangan dan kapasitas angkut barang/penumpang ke Mentawai, memiliki ukuran tonase 571 GT (Gross Tonnage).

Panjang dan lebarnya 55,5 meter x 12 meter, dengan rute utama Padang (Bungus) – Tuapejat – Sikabaluan – Muara Siberut, memiliki fasilitas dan kapasitas penumpang sekitar 200–300 orang.

Armada satu ini dilengkapi ruang penyejuk udara (AC), area lesehan/tempat tidur, cafeteria, serta geladak kendaraan ro-ro untuk moda transportasi darat. Dengan demikian, kelancaran mobilitas warga dan logistik bukan lagi satu masalah besar, dalam usaha membangun Kepulauan Mentawai menjadi tujuan wisata lokal maupun mancanegara.

Tulang Punggung konektivitas Indonesia

Hingga saat ini, armada ASDP sudah menjadi tulang punggung konektivitas penyeberangan (seaway bridge) terdepan di Indonesia. Pengaruh dan dampaknya sudah mencakup skala nasional, baik dari sisi jumlah armada, jaringan lintasan, hingga volume pengangkutan logistik dan penumpang.

Untuk jangkauan operasional dan armada, operator penyeberangan terbesar di Indonesia ini mengoperasikan lebih dari 220–225 unit kapal (termasuk kapal Ro-Ro) dan mengelola puluhan pelabuhan penyeberangan utama di Indonesia.

Baca Juga  Pemkab Solok Bantah, Pengalihan Rute Atas Permintaan Bupati

Dari segi jaringan lintasan komersial dan perintis, ASDP mengoperasikan lebih dari 300 lintasan penyeberangan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sehingga bisa dikatakan ASDP adalah penjaga wilayah 3TP, karena sekitar 60–70% lintasan ASDP merupakan rute perintis (wilayah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan), yang menjamin pulau-pulau kecil atau terisolasi—seperti Kepulauan Mentawai, Sangihe, hingga Natuna—tetap terhubung dengan pulau utama.

Sedangkan kontribusinya pada mobilitas penumpang, sudah ada ratusan juta pergerakan setiap tahunnya. ASDP melayani puluhan juta penumpang dan kendaraan setiap tahunnya secara nasional.

Bahkan pada momen puncak seperti Mudik Lebaran dan Nataru (Natal & Tahun Baru), ASDP menjadi urat nadi pergerakan masyarakat. Sebagai gambaran, di 15 lintasan utama pantauan nasional saja, ASDP mampu menyeberangkan 3,4 juta penumpang selama periode Nataru dan 2,5+ juta penumpang saat peak Lebaran.

ASDP juga telah menghubungkan pusat-pusat ekonomi. Lintasan tersibuk seperti Merak–Bakauheni (Jawa–Sumatra) dan Ketapang–Gilimanuk (Jawa–Bali), telah memfasilitasi puluhan ribu pergerakan orang setiap harinya tanpa henti selama 24 jam.

Sementara kontribusinya pada distribusi logistik dan kemajuan perekonomian, ASDP telah menjadi penyokong pasokan bahan pokok (Sembako). Truk-truk logistik yang membawa bahan pangan, material bangunan, serta komoditas industri, kini bergantung penuh pada kapal Ro-Ro ASDP untuk keperluan penyeberangan antarpulau.

ASDP juga berjasa dalam menekan ketimpangan harga (Disparitas Harga). Melalui rute perintis dan dukungan program Tol Laut, kehadiran armada ASDP memastikan pasokan barang kebutuhan dasar sampai ke daerah kepulauan, sehingga harga barang tetap terkendali.

Pelabuhan ASDP juga terkoneksi langsung dengan jaringan jalan tol utama (seperti Jalan Tol Trans-Sumatra dan Trans-Jawa), menciptakan rantai pasok (supply chain) nasional yang jauh lebih efisien dan cepat.

Kontribusi ASDP di masa datang tentunya akan lebih banyak lagi, terutama untuk mobilitas warga dan logistik. Seiring dengan pertumbuhan penumpang dari dan ke Kepulauan Mentawai yang semakin banyak, maka tentu memerlukan armada ASDP sebagai penunjang mobilitas ini.

Jika kapal atau prefekuensinya ditambah, tentu akan dipertimbangkan dengan matang. Karena selama ini, ASDP tak pernah ragu menambah armada saat penumpang mencapai puncaknya di musim lebaran dan juga nataru.

Kontribusi ASDP untuk mobilitas warga dan logistik di Indonesia, benar-benar bisa membuat hidup warga kepulauan yang dilalui rutenya, merasakan keadilan yang nyata. Kini mereka bisa datang dan pergi ke daratan, sesuai keperluan mereka dan bisa kembali lagi kapanpun mereka mau. (*)