Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com
Balon dan kertas warna-warni di sebuah SD IT (Islam Terpadu) di Kota Padang, tampak begitu hidup dalam nuansa ceria di pagi itu. Sebuah spanduk bertuliskan “Selamat Datang di acara wisuda kelulusan dan wisuda tahfiz,’ tampak terpampang di atas panggung utama.
Anak-anak yang datang bersama orangtuanya masing-masing, di bahu mereka tampak bergayut selempang bertuliskan “Wisuda Tahfiz”. Semua pengunjung pagi itu, datang dengan wajah ceria, bersama momen yang sangat ditunggu anak-anak mereka.
“Sekarang kita panggilkan santri terbaik dengan hafalan 15 juz,” kata MC di penghujung acara, lalu memanggil satu persatu anak-anak yang dimaksud.
Ada tujuh anak perempuan dan enam anak lelaki yang tampak berdiri di panggung, dengan wajah sumringah. Setelah itu, MC memanggilkan kedua orangtua siswa untuk naik ke panggung, agar bisa dipakaikan sebuah mahkota oleh anak-anak mereka.
Momen itu berlangsung sangat haru. Hampir semua orang tua mencucurkan air mata, karena mereka serasa telah dipakaikan mahkota cahaya oleh anak-anak mereka.
Pelukan bangga para orangtua kepada anak mereka yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar dengan bekal hafalan 15 juz Al-Qur’an, tidak berhenti di anak terakhir yang memakaikan mahkota. MC kemudian memanggil nama salah seorang siswa untuk maju ke depan.
Siswa tersebut tampak kaget, namun meski begitu, kakinya tetap melangkah maju. MC kemudian membacakan, bahwa orangtua Ihsan, anak yang maju ke depan itu, akan diberi hadiah spesial oleh orangtuanya, karena berhasil mencapai targetnya hapal 15 juz Alqur’an.
“Ihsan cita-citanya apa nak, kalau nanti sudah punya banyak uang?” tanya MC sambil mendekat dalam jarak dua meter. Ia kemudian menyerahkan satu mik, pada Ihsan.
“Setelah mempersembahkan mahkota cahaya ini, begitu Ihsan dapat gaji yang besar dari bekerja nanti, Ihsan akan bawa Abi dan Umi naik haji bersama Ihsan, menunaikan Rukun Islam kelima…” jawabnya spontan.
“Wah… cita-cita yang sangat mulia. Mari kita aaamiinnkan bersama-sama,” ajak MC pada semua hadirin yang langsung menjawab dengan ucapan aaamiinnn.
“Nah Ihsan, orangtuamu juga mau memberimu hadiah spesial lo…. Coba buka apa hadiah spesialnya…” kata MC sambil menyerahkan sebuah amplop.
Tanpa menunggu lama, Ihsan kemudian membuka amplopnya. Disana ada sebuah buku tabungan dan sebuah kertas putih bertuliskan nomor porsi haji. Ihsan kemudian memperlihatkan isi amplop pada MC.
“Wah selamat Ihsan, orangtua kamu memberi hadiah satu nomor porsi haji untukmu beserta buku tabungannya…” tutur MC yang langsung disambut dengan tepukan tangan bergemuruh para hadirin.
Ihsan langsung berlari memeluk kedua orangtuanya. Ia tidak menyangka, di usia yang masih muda, ia sudah dapat porsi haji.
“Nah Ihsan, dengan daftar tunggu saat ini yang sudah sampai 26 tahun, berarti kamu di umur 38 atau 39, sudah bisa menunaikan Rukun Islam kelima. Selamat ya…” ucap MC sambil tepuk tangan.
Orangtua Ihsan kemudian diberi MC kesempatan untuk bicara. Dari dialog dengan MC, terungkaplah fakta, bahwa setiap ulang tahun, Umi dan Abinya menyisihkan hadiah ulang tahun minimal dua sampai dua setengah juta. Dengan harapan, saat sudah tamah SD IT nanti, ia langsung bisa didaftarkan dan mendapatkan nomor porsi haji.
“Alhamdulillah Allah SWT mudahkan, sehingga Ihsan nantinya bisa menunaikan ibadah haji di saat tubuhnya masih kuat,” ucap Abinya.
Mendengar cerita Abi Ihsan, bisik-bisik riuh bernada pujian menggema di kursi hadirin. Terlihat ada pasangan orangtua yang saling bicara pelan. Mereka sepertinya juga bertekad mau memberi anak-anak mereka nomor porsi haji, agar nanti bisa menunaikan rukun dan syarat haji tanpa dibantu orang lain, karena berangkat saat tubuh sudah ringkih.
Program Haji Muda
Kini Ihsan berkat asa dari kedua orangtuanya, merupakan satu dari jutaan Gen Z atau anak muda yang sudah mendaftar haji sejak usia muda. Dikutip dari tvonenews.com, bahwa berdasarkan data tabungan haji per Juli 2026, sebanyak 46 persen dari 7,8 juta nasabah tabungan haji di Bank Syariah Indonesia (BSI) didominasi oleh kalangan Gen Z dan anak-anak muda.
Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Harry Alexander, membeberkan fakta mengejutkan bahwa saat ini sekitar 25 persen dari total jemaah haji Indonesia diisi oleh kalangan Gen Z dan milenial.
“Perubahan demografi yang signifikan ini, mendorong BPKH untuk terus memodernisasi dan menyesuaikan ekosistem layanan digital sesuai dengan preferensi anak muda,” katanya.
Ia menyebutkan, fenomena Gen Z Berhaji ini bukan tanpa tantangan. Persyaratan setoran awal pendaftaran haji reguler sebesar Rp25 juta serta Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) reguler tahun 2026 yang menyentuh angka Rp54,19 juta kerap menjadi ganjalan utama saat pelunasan.
Menurutnya, tantangan nyata bagi pekerja muda Gen Z umumnya berkutat pada manajemen keuangan tingkat awal (entry-level salary/UMR). Selain itu, gaya hidup konsumtif, serta masih terbatasnya tingkat literasi keuangan syariah.
Maka dari itu BPKH dengan tata kelola dana kelolaan haji sebesar Rp185,73 triliun, BPKH harus terus berupaya mendapatkan kepercayaan dari nasabah tabungan haji. Mereka harus yakin, jika BPKH telah mengelola dana haji mereka secara akuntabel, transparan, dan berkelanjutan antargenerasi.
BPKH juga harus cepat respon, jika ada kabar hoax beredar terkait dana haji. Seperti beberapa tahun lalu, para calon jemaah haji dikejutkan dengan isu dana haji mereka yang telah digunakan untuk pembangunan, sehingga pemerintah jadi kesulitan dana untuk memberangkatkan jemaah calon haji yang sudah terdaftar.
Berkat gerak cepat BPKH, isu hoax ini tak jadi mengelinding bak bola salju yang semakin membesar. Kepercayaan jemaah pemilik tabungan haji berhasil dipulihkan kembali, sehingga mereka tak terpengaruh ajakan untuk menarik dana haji mereka dari bank penerima setoran haji.
Di masa datang, bukan tidak mungkin isu ini kembali dihembuskan. Maka dari itu, sebelum terjadi, BPKH harus terus memberikan laporan perkembangan pengelolaan dana haji secara berkelanjutan, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, pemilik rekening bisa beristirahat dengan tenang, bekerja lebih giat dan menabung lebih disiplin, agar saat waktu berangkat datang, dana untuk biaya pelunasan ibadah haji (bipih) sudah tersedia. Dengan demikian, impian bisa mengerjakan ibadah haji dalam usia muda, bakal menjadi nyata. (*)













