Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com
Tumpukan batu dan pasir yang berton-ton jumlahnya, langsung tersedia di sepanjang hiliran Batang Kuranji hampir sampai ke Muara Padang. Sungai yang beberapa waktu lalu dipenuhi air kuning yang ganas menerjang setiap apa yang dilaluinya, setelah air surut dan hujan berhenti, kini hanya menyisakan satu aliran kecil nan jinak.
Para penambang batu dan pasir di sepanjang Batang Kuranji dan sungai-sungai lainnya di Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat (umumnya), senyumnya langsung melebar. Kini bahan galian C yang saban hari menjadi sumber kehidupan mereka, sudah tersedia untuk berbulan-bulan lamanya untuk ditambang.
“Sebelumnya, tumpukan pasir dan batu tidak sebanyak ini. Mungkin inilah yang disebut berkah di balik bencana,” kata Ujang, salah seorang penambing galian C di Padang.
Kini menurutnya, ia dan rekan-rekan senasibnya hanya perlu waspada saat hujan mulai turun. Jika mereka tetap nekad, bukan tidak mungkin itulah saat ajal mereka berakhir.
“Sekarang hujan sedikit saja, langsung banjir di mana-mana. Hal itu memang dikarenakan oleh pendangkalan sungai, akibat tumpukan material yang dibawa air bah saat banjir,” ungkapnya.
Makanya ketika hujan mulai turun, sebagian pekerja segera berpindah ke bagian pinggir sungai. Jikapun nanti tiba-tiba ada air bandang yang datang menerjang, mereka dengan sigap bisa kembali ke tempat yang lebih tinggi.
Galian C
Galian C selama ini telah mengambil peranan penting sebagai salah satu minerba yang digunakan untuk membangun negeri. Minerba yang merupakan singkatan dari Mineral dan Batu Bara ini, di dalamnya ada Galian C sebagai kelompok Mineral Bukan Logam dan Batuan. Dalam regulasi pertambangan saat ini, istilah Galian C secara resmi dipayungi oleh kelompok ini.
Galian C di dalamnya ada batu kapur/gamping, pasir silika, batu andesit, pasir, dan batu kali. Galian C sampai sekarang selalu mengambil peranan sangat penting untuk membangun negeri.
Dalam membangun apa saja, bahan galian C adalah tulang punggung fisik dari seluruh pembangunan infrastruktur di Indonesia. Tanpa ada galian C, maka tidak akan ada pula jalan tol dan Trans-Sumatera yang telah menggunakan jutaan kubik batu andesit, sirtu (pasir batu), dan aspal/semen.
Gedung, rumah, jembatan, dan bendungan, seluruh struktur fisiknya berasal dari material batuan galian C. Maka dari itu sangat layak disebut Galian C sebagai 0.minerba untuk membangun bumi. Dan kini, pasokannya menumpuk pasca banjir bandang di Sumbar.
Apalagi bendungan sampai saat ini belum juga selesai dibangun kembali, sehingga sebagian warga Kuranji dan lainnya, masih harus dipasok air minum oleh Pemerintah Kota Padang.Tak ada lagi air gunung atau perbukitan yang bisa masuk ke aliran irigasi warga Kuranji, karena air yang masih mengalir, langsung mengalir lepas ke muara tanpa halangan.
Tak ada batas waktu yang pasti untuk berharap kapan derita terancam banjir ini berakhir di benak sebagian besar warga Padang. Warga Padang atau Sumbar lainnya, hanya perlu waspada saja, saat intensitas hujan tak cepat berhenti selama dua jam.
Waktu dua jam ini, dengan cepat menyulap aliran sungai di seluruh Kota Padang menjadi banjir bandang susulan. Tidak sedikit korban harta dan nyawa yang bisa ditelannya sampai ke dasar Samudera.
Maka dari itu, untuk mencegah material galian C menumpuk di dasar lautan, maka secepatnya bendungan diperbaiki, sehingga berfungsi seperti semula. Sangat disayangkan pasokan melimpah hadiah pasca banjir itu tidak bisa dimanfaatkan dengan sempurna.
Sejauh ini, penumpukan endapan material galian C (pasir, kerikil, dan batu/sirtu) di alur sungai pascabanjir—seperti di DAS Kuranji (Sungai Lareh, Batu Busuk), Batang Anai, dan Banjir Kanal, telah menjadi salah satu pemicu utama pendangkalan yang meningkatkan risiko banjir susulan di Kota Padang.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemerintah Kota (Pemko) Padang bersama instansi terkait telah mengambil sejumlah langkah strategis dan regulatif telah dilakukan seperti pengerukan dan normalisasi aliran sungai. Langkah paling nyata yang sedang dan terus dilakukan Pemko Padang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) adalah melakukan pengerukan yang masif.
Selain itu, kolaborasi dengan BWS Sumatera V juga dilakukan, karena mayoritas aliran sungai besar merupakan kewenangan Kementerian PUPR. Pemko Padang berkoordinasi intensif dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V untuk menurunkan alat berat.
Pengerukan difokuskan pada titik-titik sedimentasi parah, seperti di Banjir Kanal (Siteba), Banda Luruih (Kuranji), hingga aliran Sungai Lareh. Selain mengangkat deposit sedimen, material galian C hasil pengerukan kerap difungsikan kembali secara darurat untuk memperkuat tanggul sungai dan melebarkan alur air, agar kapasitas tampung sungai kembali normal.
Penumpukan sirtu pascabanjir sebenarnya memiliki nilai ekonomis sebagai material konstruksi. Pemko Padang mendorong skema penanganan sedimen yang terintegrasi dengan melakukan pembersihan alur sungai.
Pemko Padang mengeluarkan sedimen dari badan sungai, agar tidak lagi menyumbat aliran air saat curah hujan tinggi. Material batuan/pasir hasil pengerukan sungai diarah-manfaatkan untuk proyek fisik perbaikan drainase, penguatan tebing sungai, dan pembangunan infrastruktur dasar lokal.
Tidak kalah penting, juga dilakukan penataan dan evaluasi izin tambang Galian C ilegal. Penambangan galian C tanpa izin (atau pengelolaan yang buruk) di hulu dan sepanjang aliran sungai, juga telah menjadi pemicu banjir.
Selanjutnya dilakukan pengawasan ketat bersama Pemprov Sumbar. Karena kewenangan perizinan tambang galian C berada di tingkat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Kementerian ESDM, Pemko Padang aktif melakukan pemantauan dan koordinasi untuk menertibkan tambang pasir/batu liar yang memicu erosi tebing dan mempercepat pendangkalan.
Selanjutnya dilakukan penetapan zona aman tambang, untuk memastikan aktivitas ekstraksi batu/pasir rakyat tidak merusak struktur bentang alam hulu sungai.
Untuk tindakan lebih lanjut, juga dilakukan pelibatan stakeholder dan CSR BUMN/BUMD. Pemko Padang menggandeng pihak swasta dan BUMN di wilayah lokal (seperti PT Semen Padang) untuk bantuan tanggap darurat alat berat.
Perusahaan mengerahkan ekskavator untuk mengeruk material galian C di titik-titik krusial (misalnya di daerah Batu Busuk) guna mempercepat normalisasi sebelum hujan lebat kembali turun.
Jadi menjelang masalah pendangkal sungai teratasi, warga Padang dan daerah lainnya di Sumbar wajib waspada saat hujan lebat datang lagi. Semoga dengan material galian C yang melimpah, satu bendungan kokoh dan irigasi pendukung, bisa terwujud di seluruh Padang dan Sumbar umumnya, sehingga aliran air kala hujan, bisa terdistribusi ke tempat-tempat penampungan seperti pesawahan, kolam, dan lainnya.
Air tidak lagi langsung menuju sungai besar, sehingga berdampak menimbulkan banjir yang susah dikendalikan. Irigasi yang baik, tentunya juga akan menjamin produksi pertanian menjadi semakin berlimpah. (*)













