Elektrifikasi dan Harapan Besar Masa Depan Pertanian Sumatera Barat

Waktu berlalu, masa berganti. Ada perubahan yang perlahan berlangsung pada pertanian Sumatera Barat. Lahan pertanian kian terdesak oleh pembangunan permukiman, infrastruktur, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Sementara itu, kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Beberapa kali peristiwa banjir bandang besar yang menerjang Sumatera Barat dalam tiga tahun terakhir juga memberi pelajaran bahwa pertanian daerah ini harus lebih siap dalam mengantisipasi krisis pangan. Banjir bandang di Kota Padang sejak akhir tahun 2025 sampai Oktober 2026 saja menyebabkan 16 titik daerah irigasi rusak. Sementara, untuk Sumbar secara keseluruhan, data dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Provinsi Sumbar mencatat ada 656 Daerah Irigasi yang mengalami kerusakan di seluruh wilayah Sumatera Barat akibat bencana hidrometeorologi penghujung November 2025. Belum lagi kekeringan esktrem yang memicu krisis air parah di Sumbar seperti terjadi akhir tahun 2023 lalu.

Pemerintah bersama petani pun menghadapi tantangan yang tidak ringan, yaitu menghasilkan lebih banyak pangan dari lahan yang semakin terbatas. Di tengah situasi tersebut, pertanian Sumatera Barat dituntut tidak hanya mampu mempertahankan produktivitas, tetapi juga beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi dan efisiensi di setiap tahapan produksi. Sebab, menjaga keberlanjutan pertanian bukan semata-mata soal mempertahankan sawah, melainkan juga memastikan setiap jengkal lahan tetap mampu memberi kehidupan bagi masyarakat.

Maka, modernisasi pertanian menjadi salah satu jawaban. Tidak hanya berbicara tentang benih unggul dan teknik bercocok tanam, ada kebutuhan untuk mengubah cara petani mengelola lahan, mengairi sawah, hingga mengolah hasil pertanian.

Energi listrik menjadi salah satu kunci perubahan itu. Melalui program Electrifying Agriculture, PT PLN (Persero) mendorong petani di Sumatera Barat untuk memanfaatkan teknologi berbasis listrik guna meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional. Salah satunya di Kabupaten Lima Puluh Kota melalui pemanfaatan pompanisasi listrik dan huller listrik. Langkah tersebut diwujudkan PLN UP3 Payakumbuh bersama ULP Lima Puluh Kota dan ULP Payakumbuh dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota serta melibatkan seluruh penyuluh pertanian dan perwakilan kelompok tani se-Kabupaten Lima Puluh Kota.

Bagi petani, pemanfaatan listrik bukan sekadar perubahan sumber energi. Lebih dari itu, listrik membuka peluang untuk mengelola usaha tani dengan cara yang lebih praktis, efisien, dan modern. Pompa listrik, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan irigasi. Sementara huller listrik membantu proses pascapanen, khususnya pengolahan gabah menjadi beras. Kedua teknologi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mempermudah operasional dan pemeliharaan peralatan pertanian.

Manager PLN UP3 Payakumbuh, Yessi Indra saat sosialisasi pemanfaatan pompanisasi listrik dan huller listrik pada 9 Agustus 2026 mengatakan, sektor pertanian menjadi salah satu fokus pengembangan program Electrifying Agriculture. Hal itu karena pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“PLN terus menghadirkan inovasi agar tenaga listrik dapat memberikan nilai tambah bagi sektor produktif. Program Electrifying Agriculture merupakan salah satu wujud komitmen kami dalam menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekaligus menjadi pendorong kegiatan ekonomi,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak petani yang beralih menggunakan pompa dan huller listrik. Dengan demikian, produktivitas pertanian meningkat, biaya operasional dapat ditekan, dan kesejahteraan petani semakin baik.

Sementara itu, pompanisasi irigasi juga dilakukan di Batang Manganan di Jorong Padang Datar, Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar menggunakan tenaga surya. Kehadiran fasilitas itu menjadi langkah nyata menghadirkan energi bersih yang tidak hanya menerangi kehidupan masyarakat, tetapi juga menggerakkan sektor produktif dan mendukung aktivitas pertanian.

Selama bertahun-tahun, ketersediaan air menjadi salah satu tantangan sekaligus hambatan bagi petani di Tanjung Barulak karena sebagian besar lahan masih bergantung pada air hujan. Kondisi itu menyulitkan petani dalam mengoptimalkan lahan dan meningkatkan intensitas tanam. Karena itu, pompanisasi dengan mengambil air dari Batang Manganan dan mengalirkannya menuju lahan pertanian masyarakat menjadi ‘nyawa’ baru bagi pertanian di daerah itu. Tidak hanya sekadar menghadirkan infrastruktur pengairan, pompanisasi tenaga surya juga memberi harapan baru terhadap perubahan pola pertanian masyarakat. Lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami dan dipanen satu kali dalam setahun diharapkan memiliki peluang untuk meningkat menjadi dua kali panen dalam setahun.

Artinya, semakin banyak lahan yang dapat ditanami, semakin besar pula peluang produksi pertanian meningkat. Dari sana, terbuka ruang bagi peningkatan pendapatan petani, penguatan ekonomi keluarga, hingga tumbuhnya perekonomian masyarakat nagari.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat hadir dalam peresmian pompanisasi tersebut September 2026 lalu mengatakan bahwa PLTS Batang Manganan adalah contoh bahwa energi terbarukan bukan sesuatu yang jauh. Saat air mengalir ke sawah dengan energi matahari, yang dibangun bukan hanya pompa, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan produksi pertanian, membantu petani mengurangi biaya operasional, menjaga lingkungan, dan pada akhirnya memperkuat ketahanan pangan Sumatera Barat.

Listrik Menopang Industri Sawit

Jika di Limapuluh Kota dan Tanah Datar dilakukan pompanisasi dan huller menggunakan listrik, maka di Muara Labuah, Solok Selatan, PT Kencana Sawit Indonesia (KSI) bersama PT PLN (Persero) UP3 Solok tengah membahas rencana penambahan pasokan listrik dengan potensi daya mencapai 304.600 VA atau 304,6 kVA. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya PLN memperkuat hubungan dengan pelanggan sekaligus menangkap peluang pertumbuhan kebutuhan listrik di sektor industri.

Di balik aktivitas perkebunan kelapa sawit, kebutuhan energi listrik memang menjadi bagian penting yang menentukan kelancaran operasional. Mulai dari pengelolaan limbah, kebutuhan air, hingga fasilitas pekerja, semuanya membutuhkan dukungan kelistrikan yang memadai.

Bagi PLN, kebutuhan daya tersebut bukan sekadar angka penjualan. Di dalamnya juga terdapat peluang untuk mendukung produktivitas usaha, memperkuat infrastruktur kawasan perkebunan, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi berbasis listrik yang lebih efisien.

Manager PLN UP3 Solok, Hariani mengatakan, PLN tidak hanya hadir sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi dunia usaha. Melalui komunikasi yang intensif dan pendekatan proaktif, kami berupaya memastikan kebutuhan pelanggan dapat terlayani dengan baik sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan bisnis.

Kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi pengembangan ekosistem industri yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan listrik untuk fasilitas penunjang, sistem pengolahan limbah, pompa air, hingga peralatan berbasis listrik seperti traktor listrik menjadi bagian dari arah transformasi energi di sektor perkebunan.

Tidak hanya di lahan pertanian ataupun penggilingan padi di huller, electrifying agriculture di Sumbar juga mencakup pemanfaatan listrik untuk pencahayaan buatan pada kebun buah naga di Singkarak Kabupaten Solok, kilang tebu di Lawang, Kabupaten Agam, penetrasi kelistrikan bagi petani bawang di Alahan Panjang, penetrasi kelistrikan bagi para petani bawang di Alahan Panjang dan lain-lain.

General Manager PLN UID Sumatera Barat, Ririn Rachmawardini  mengatakan, listrik saat ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber penerangan, tetapi juga dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor-sektor produktif. Electrifying Agriculture menjadi salah satu bentuk transformasi layanan PLN yang menghadirkan energi listrik sebagai pengungkit produktivitas, efisiensi biaya, serta daya saing petani.

“Sinergi bersama pemerintah daerah dan para pelaku pertanian menjadi fondasi penting dalam mempercepat terwujudnya pertanian modern yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya saat menghadiri sosialisasi pompanisasi listrik dan huller listrik di Limapuluh Kota, 9 Agustus 2026.

Bagi PLN, program tersebut menunjukkan bagaimana inovasi dan kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan menjadi solusi nyata. Ketika energi bersih dapat membantu petani mendapatkan akses air yang lebih baik, manfaatnya tidak berhenti pada fasilitas yang terbangun. Ada produktivitas yang tumbuh, ada peluang ekonomi yang terbuka, dan ada harapan yang ikut terjaga.

Modernisasi pertanian memang membutuhkan proses. Namun, dengan dukungan energi yang andal dan teknologi yang tepat, pekerjaan petani diharapkan semakin efisien. Dari pengairan sawah hingga pengolahan hasil panen, listrik menjadi bagian dari ikhtiar membangun pertanian yang lebih maju, produktif, dan berkelanjutan. Energi terbarukan dapat dihadirkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. (Eriandi)