Opini  

Ditanya Bule, “Do You Can Speak English?”, Jangan Sampai Murid Kita Jawab “Little-Little”

Oleh: Rindi Antika, S.Pd.I., Gr.
(Mahasiswa Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi)

Bayangkan seorang bule bertanya pada murid SD, Where is the market? Si murid, yang tadi pagi fasih menghafal She goes to school every day, mendadak membeku, lalu menjawab, “Little-little, Mister.” Hahaha.

Lucu, tapi ya perih juga. Maka dari itu, saya rasa pemimpin negeri ini berwacana mulai tahun ajaran 2027/2028, Bahasa Inggris wajib diajarkan di SD mulai kelas 3. Ini kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Kabar bagus, namun jujur saja, Bahasa Inggris bukan barang baru di SD. Subhan Zein (2017) seorang akademisi pendidikan bahasa yang banyak meneliti pengajaran bahasa inggris anak usia dini di Indonesia mencatat lebih dari 26 juta anak sudah mempelajarinya. Bertahun-tahun, hasilnya jutaan anak masih gagap.

Jadi apa jaminannya kata ‘wajib’ membuat anak berani bicara? Wajib itu urusan aturan, hidup-matinya bahasa urusan kelas.

Di sinilah Krashen seorang ahli linguistik dan profesor emeriticus di university southeen california (AS) yang terkenal dengan teori Second language acquisiton nya ikut nimbrung. Ia membedakan acquisition, bahasa yang masuk sendiri lewat pemakaian nyata dari learning, pengetahuan sadar tentang aturan.

Baca Juga  Mengapa Anak Muda Harus Melek Hukum?

Papan tulis penuh rumus menambah learning, padahal anak lebih bergantung pada acquisition (pemerolehan bahasa terserap secara alami lewat pemakaian nyata seperti anak belajar bahasa ibu tanoa menghafal aturan). Ibarat belajar berenang: hafal teori gaya bebas tidak membuatmu mengapung sebelum masuk kolam. Krashen menambahkan, sekadar berada di tengah bahasa (exposure) belum cukup. Yang penting intake, yaitu bahasa yang benar-benar melibatkan si anak. Padahal di sini anak jarang mendengar Bahasa Inggris di rumah atau pasar, sehingga kelas adalah satu-satunya pintu.

Berat, ya. Lalu bagaimana? Mulailah dari dunia anak SD, yaitu dunia sekarang, berlari, makan dan bermain. Guru menggambar rumah sambil berkata I am drawing a house, anak langsung paham tanpa terjemahan. Ini sejalan dengan temuan Brown (1973) yang dibahas Krashen: -ing dikuasai lebih awal ketimbang -s pada kata kerja orang ketiga.

Baca Juga  Transformasi Bluebird #53laluDiandelin, Untuk Kejayaan Nusa dan Bangsa

Jadi simple present tetap penting, tapi tak harus jadi menu pembuka. Kurikulum itu acuan, bukan kitab suci. Soal salah ucap, jangan dicoret merah di depan teman. Anak hanya belajar satu hal: diam itu aman.

Padahal anak yang diam tidak sedang berbahasa. Lyster dan Saito (peneliti second language acquisition, 2010) menemukan bahwa umpan balik korektif berdampak nyata, terutama pada pembelajar yang lebih muda, dan pancingan (He …?) lebih manjur daripada sekadar mengulang bentuk yang benar.

Saya tidak menyalahkan guru, karena saya juga guru yang kadang terikat urutan kurikulum dan ujian. Tapi kalau kelas tetap jadi ajang hafalan, bisa kacau dunia persilatan Bahasa Inggris saat murid-murid kita bertemu bule di Bali. Kewajiban 2027 itu kesempatan, bukan jaminan. Pertanyaannya bukan lagi apakah anak kita mampu, melainkan sudah cukup hidup kah kelas kita?

Penulis: Rindi Antika, S.Pd.I., Gr.