Dari 710 Ribu Lansia Sumbar di Panti ada 170 Orang, Maka Panti Bukan Solusi.

PADANG,-  Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat, Senin (19/10/2026) pagi itu penuh, sebab para pengurus baru Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Sumbar 2026-2030 dikukuhkan.

Di atas podium, Sekretaris Daerah Arry Yuswandi tidak bicara soal seremonial. Dia melempar satu angka yang membuat ruangan terdiam.”Sumbar punya 710 ribu lansia, ” katanya.

Lalu dia lempar angka kedua, yang lebih sunyi. “Kita punya dua panti. Sabai Nan Aluih di Sicincin, dan Kasih Ibu di Batusangkar. Muatnya cuma 170 orang.”

710 ribu berbanding 170.

Di situ semua orang paham, persoalan lansia di Sumbar tidak akan pernah selesai kalau jawabannya hanya membangun panti.

Lansia bukan soal tempat tidur di panti jompo. Lansia adalah soal martabat di rumah sendiri.

Itulah pesan utama pengukuhan tadi siang,  Gubernur yang diwakili Sekda Arry, Ketua LLI Sumbar Dr. H. Ali Asmar, dan perwakilan LLI Pusat Dr. Lilis Heri Mas Cicih, kompak bicara satu hal: Indonesia sedang menua, dan Sumbar lebih cepat.

Data BPS yang dikutip Ali Asmar cukup menohok: tahun 2020 lansia Sumbar 10,46 persen, tahun 2025 naik jadi 12,01 persen. Secara nasional, sekarang 1 dari 8 orang Indonesia adalah lansia. Tahun 2045, 1 dari 5 orang adalah lansia.

Baca Juga  TANGGAP DARURAT BENCANA BERAKHIR, Gubernur Ajak PWI Sumbar Kawal Rehab-Rekon

Kita tidak lagi bicara tentang “orang tua orang lain”. Kita bicara tentang kita sendiri 20 tahun lagi.

“Lansia bukan beban,” tegas Arry. Ada yang masih kuat ke sawah, masih mengajar mengaji, masih menimang cucu sambil bercerita kaba. Yang mereka butuhkan bukan dikasihani, tapi diberi kesempatan untuk tetap aktif.

Karena itu, Arry menitip pesan yang tidak biasa,  tolong ganti rasa panti itu.

“Secara bertahap, kita pertimbangkan nama panti menjadi Rumah Nyaman Lansia. Biar lebih nyaman,” katanya. Bukan lagi tempat pembuangan, tapi rumah yang nyaman.

Pesan kedua, soal sekolah.

Di Sumbar sudah ada Sekolah Lansia binaan BKKBN. Sekolahnya unik: 12 kali pertemuan, lalu wisuda pakai toga. Kakek-nenek yang dulu tidak sempat sekolah, kini wisuda di usia 70 tahun.

“Program seperti ini perlu diperkuat,” kata Arry. Karena di sekolah itu lansia bukan hanya cek tensi, tapi bertemu kawan, tertawa, belajar lagi.

Lalu ada pesan paling praktis: urus KTP jangan sampai menyusahkan lansia. Disdukcapil harus jemput bola. Karena tanpa KTP, lansia tidak bisa akses BPJS, tidak bisa dapat bantuan.

Baca Juga  Dinas Perdagangan Padang Kembali Tata Pasar Bandar Buat

Sekaitan itu, Ketua LLI Sumbar yang baru, Dr. Ali Asmar, mengaku tidak bisa kerja sendiri. LLI yang lahir 29 Mei 2000 di Jakarta itu adalah organisasi independen, bukan dinas. Butuh Pemprov, BUMN, BUMD, Baznas, dan nagari.

Perwakilan LLI Pusat, Lilis Heri Mas Cicih, mengingatkan: tanpa persiapan, bonus demografi akan jadi bencana demografi. Keluarga akan kelelahan merawat orang tua, rumah sakit penuh.

Sebaliknya, kalau disiapkan, lansia bisa tetap jadi “bagian berharga dari masyarakat”, bukan beban.

Pengukuhan sudah selesai. Foto bersama sudah diambil. Pertanyaan sesungguhnya baru dimulai setelah aula kosong.

Apakah setelah ini KTP lansia yang lumpuh di rumah benar-benar diantar ke rumah? Apakah sekolah lansia itu benar-benar ada sampai ke nagari di pelosok Agam dan Mentawai? Apakah lansia yang hidup sendiri di rumah gadang yang kosong itu ada yang mengetuk pintunya?

Ukuran keberhasilan LLI 2026-2030 bukan berapa kali rapat di Aula Gubernur.

Ukurannya sederhana, apakah 710 ribu orang tua kita di Sumbar bisa menjalani masa tua dengan sehat, dihormati, dan tetap merasa dibutuhkan, di rumahnya sendiri.(M.Khudri)