RSUD Ali Hanafiah Batusangkar Terima Batuan Medis dari Dinkes

BATUSANGKAR – RSUD MA Hanafiah Batusangkar menerima bantuan medis untuk penanganan Covid-19 dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.

Wabup Richi Aprian bersama Direktur RSUD dr. Nurman Eka Putra menerimanya dari Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Arry Yuswandi didampingi Kepala Bidang SDK Beniara Asmus.

Bantuan medis untuk kebutuhan RSUD diterima, Jumat (13/8) berupa baju hazmat, masker N95, kantong jenazah, peralatan rapid antigen, sepatu bot, azithromycin, vitamin C, dan handschoen non steril.

Wabup Richi mengatakan bahwa kedatangannya ke dinas provinsi dalam rangkain konsultasi dan koordinasi terkait penanganan Covid 19 di Tanah Datar.

Dikatakannya, memang saat ini RSUD dan Puskesmas di Tanah Datar membutuhkan alat medis, berupa persediaan oksigen, obat-obatan, baju hazmat serta logistik lainnya untuk penanganan virus tersebut.

Baca Juga  Empat Pejabat Administrator Pemkab Tanah Datar Dilantik

“Alhamdulillah, kita difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi dengan sangat baik. Untuk ini semua berharap dengan melakukan koordinasi seperti ini, bisa bersama-sama berupaya mengantisipasi jangan sampai kasusnya tiba-tiba melonjak, namun belum siap terkait dengan oksigen, obat-obatan maupun sarana penunjang untuk tenaga kesehatan,” ucap Richi.

Saat itu, lanjutnya, juga dibahas masalah vaksin dan klaim rumah sakit terkait penanganan pasien di rumah sakit.

Sementara, Kadis Arry Yuswandi mengatakan menerina laporam kondisi terkini Covid-19 di Tanah Datar dari Wabup Richi Aprian, termasuk kebutuhan logistik untuk penanganannya, seperti kebutuhan oksigen dan medis lainnya.

Baca Juga  Berlarut-Larut Pengerjaannya, Belum Jelas Kapan LCM Batusangkar Dibuka

Dikatakan, terkait oksigen, saat ini pihaknya masih belum bisa mendapatkan data pasti berapa jumlah kebutugan ril oksigen di seluruh rumah sakit di Sumatera Barat. Hal ini dikarenakan ada beberapa rumah sakit belum menyampaikan laporannya melalui aplikasi Rumah Sakit online.

Arry mengharapkan ke depan seluruh rumah sakit bisa disiplin dalam menyampaikan laporannya sehingga pihaknya bisa menghitung berapa jumlah pasti oksigen dibutuhkan.

“Kalau semua rumah sakit sudah melaporkan tentu kita bisa pastikan berapa kebutuhan kita setiap hari, berapa jumlah supply dan berapa kekurangannya,” ujar Arry. (ydi)