Padang  

Menjadikan Masjid Raya Sumbar, Ikon Wajib Kunjung Wisatawan Dunia

PADANG – Pamor Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar) di Padang sebagai ikon wisata di Ranah Minang, sudah tak terbendung. Seiring perjalanan waktu, pamornya akan mengalahkan pamor Jam Gadang, di mana sampai sekarang masih menjadi simbol untuk ikon wisata di Sumbar.

Lihat saja jika ada ekspos wisata di media televisi, ketika menyebut Sumbar, maka simbol pertama yang dimunculkan adalah Jam Gadang. Sebabnya tidak lain, karena memang tak ada ikon yang bisa mewakili Ranah Minang yang seunik Jam Gadang.

Lalu apa kelebihan Masjid Raya Sumbar, sehingga satu saat akan menggantikan pamor Jam Gadang ? Hal itu tidak lain karena perpaduan unsur unik, dekat dengan bandara, area selfie yang luas, bisa dijadikan ziarah religi, dan berbagai keunggulannya lainnya.

Cerita Unik Pembangunan Masjid Raya Sumbar Bisa Dijual

Kehadiran Masjid Raya Sumbar di ibukota propinsi, bermula dari kerisauan tidak adanya masjid berukuran besar yang bisa menampung jamaah dalam jumlah ribuan. Gagasan pembangunan Masjid Raya Sumbar seperti dikutip dari id.wikipedia.org, telah muncul pada tahun 2005.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menganggap Padang selaku ibukota provinsi butuh masjid yang representatif untuk menampung jamaah dalam jumlah banyak. Dorongan untuk membangun “masjid raya” menguat, walaupun Padang telah memiliki masjid besar seperti Masjid Nurul Iman.

Gubernur Gamawan Fauzi, waktu itu rajin membawa ide ini dalam setiap kesempatan. Di hadapan para wartawan, ia pun sering mengungkapkannya.

Puncak kerisauan dan mendesaknya punya masjid ukuran besar, terjadi pada Januari 2006. Waktu itu berlangsung pertemuan bilateral antara Indonesia dan Malaysia, dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri, Abdullah Ahmad Badawi di Bukittinggi.

Karena waktu itu hari Jumat, kebingunganlah panitia untuk mencari masjid yang tepat bagi kedua kepala negara untuk melaksanakan salat Jumat. di sekitaran Jam Gadang tidak ada masjid dalam ukuran besar, apalagi didukung fasilitas parkir yang bisa menampung kendaraan dalam jumlah besar.

Pusing mencari masjid yang tepat, akhirnya dipilih lokasi Masjid Agung Tangah Sawah di Bukittinggi. Dari peristiwa inilah, semangat untuk menghadirkan Masjid Raya Sumbar, jadi semakin menggebu-gebu.

Berkat perjuangan dan perdebatan yang lumayan panjang, ide pembangunan Masjid Raya Sumbar akhirnya di setujui banyak pihak. Sejak itu, dimulailah pencarian lokasi yang bisa mewujudkan impian tersebut.

Sempat muncul usulan agar masjid baru dibangun di Kantor Gubernur, Jalan Sudirman. Namun, karena alasan nilai historis gedung tersebut, disepakatilah lokasi di Jalan Chatib Sulaiman, menempati area seluas 40.343 meter persegi.