Padang  

Menjadikan Masjid Raya Sumbar, Ikon Wajib Kunjung Wisatawan Dunia

Akhirnya Nabi Muhammad SAW meletakkan Batu Hajar Aswad pada selembar kain bersudut empat. Beliau meletakkan Batu Hajar Aswad di tengahnya yang kemudian di tiap sudut kain di pegang oleh masing-masing kabilah.

Empat sudut inilah yang akhirnya menjadi ide keempat sudut atap masjid, dan malah menyerupai Rumah Gadang. Sayangnya, cerita unik ini tak didapatkan wisatawan yang datang tanpa pemandu wisata.

Sayangnya lagi, di Masjid Raya sumbar juga tak disediakan papan informasi yang menjelaskan arsitektur masjid yang mudah di akses semua wisatawan. Tak heran, ada yang pulang dengan menyimpan rasa ingin tahu dan berakhir pada mesin pencari di internet.

Adapun polemik pembangunan masjid yang menemui jalan buntu, baru mereda setelah terjadinya gempa bumi pada 13 September 2007. Di tengah beralihnya fokus publik pada gempa, Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat pada 21 Desember 2007.

Proses pembangunan masjid memakan waktu lama. Sampai 2012, pengerjaan pembangunan masjid telah melewati empat tahap. Tahap pertama untuk menyelesaikan struktur bangunan menghabiskan waktu dua tahun sejak dimulai pada awal tahun 2008.

Tahap kedua dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu pada 2010. Tahap ketiga selama tahun berikutnya meliputi pemasangan keramik lantai dan eksterior masjid. Tiga tahap pertama berjalan dengan mengandalkan akomodasi APBD Sumatera Barat sebesar Rp103,871 miliar, Rp15,288 miliar, dan Rp31 miliar.

Memasuki tahap keempat yang dimulai pada pertengahan 2012, pengerjaan menggunakan kontrak tahun jamak. Tahap keempat menggandalkan anggaran sebesar Rp25,5 miliar untuk menyelesaikan ramp, teras yang melandai ke jalan. Pekerjaan pembangunan sempat terhenti selama tahun 2013 karena ketiadaan anggaran dari provinsi.

Terkait keterbatasan pendanaan, alokasi APBD Sumatera Barat untuk pembangunan masjid semula direncanakan hanya sebagai dana stimulan. Pada awalnya, panitia pembangunan yang diketuai oleh Marlis Rahman sempat menghimpun sumbangan masyarakat untuk membantu pembangunan masjid disamping melakukan kerja sama dengan pihak swasta dan negara Timur Tengah. Bantuan dari masyarakat dan perantau, termasuk donasi via nada sambung hanya berjalan untuk tahap pertama pembangunan.

Pada 2009, Kerajaan Arab Saudi telah berencana mengirimkan bantuan untuk mendukung pembangunan masjid. Namun, bantuan dari Arab Saudi bernilai 50 juta dolar Amerika Serikat datang bersamaan dengan gempa bumi yang melanda Sumbar, sehingga pemerintah pusat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengalihkan peruntukan bantuan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.

Meski tidak rutin, Masjid Raya Sumbar telah mulai digunakan untuk ibadah sejak awal tahun 2012, terutama Salat Jumat dan Salat Ied. Masjid ini mulai menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan tingkat Sumatera Barat seperti tablig akbar dan pertemuan diadakan.

Pemerintah provinsi memusatkan kegiatan wirid rutin jajaran pegawai negeri sipil untuk memperkenalkan masjid. Frekuensi pemakaian masih terbatas, karena belum rampungnya fasilitas listrik dan ketiadaan air bersih.