UNP  

HMD Psikologi UNP Gelar Seminar Nasional WMHD 2026, Dorong Generasi Muda Lebih Peduli Kesehatan Mental

PADANG  – Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Psikologi Universitas Negeri Padang (UNP), Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), menggelar Seminar Nasional World Mental Health Day (WMHD) 2026 bertema “A Page of Me: Every Story Deserves to Be Heard” di Aula Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNP, Sabtu (31/10).

Seminar yang berlangsung secara hybrid ini diikuti 161 peserta, terdiri atas 136 peserta luring dan 25 peserta daring. Mengusung konsep “Chapters of Me: A Journey Through Every Page”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan mental, mendorong peserta mengenali dan menerima berbagai sisi diri, serta memberikan ruang refleksi terhadap pengalaman personal.

Kegiatan tersebut dihadiri Dekan FPK UNP Prof. Dr. Suryanef, M.Si., Wakil Dekan I FPK UNP, Kepala Departemen Psikologi UNP Dr. Mardianto, S.Ag., M.Si., Pembina HMD Psikologi Silvi Juwita, S.Psi., M.Psi., serta jajaran pimpinan fakultas dan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Prof. Suryanef menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting dalam membangun interaksi sosial dan menghadapi persoalan kehidupan. Tekanan akademik, sulitnya peluang kerja, hingga renggangnya komunikasi keluarga menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kondisi mental seseorang.

“Maafkan, terima keadaan, dan selalu bersyukur,” pesannya.

Sementara itu, Dr. Mardianto menyoroti tantangan era digital, seperti digital fatigue, fear of missing out (FOMO), dan cyberbullying. Ia mengajak generasi muda berpikir realistis dan tidak membandingkan standar kesuksesan diri dengan orang lain.

“Berpikirlah realistis dan jadilah diri sendiri yang berpijak pada kenyataan, jangan mengejar citra diri yang terlalu ideal. Jangan samakan standar kesuksesan kita dengan standar orang lain,” ujarnya.

Pembina HMD Psikologi UNP, Silvi Juwita, turut mengingatkan bahaya self-diagnosis yang marak di media sosial. Menurutnya, diagnosis psikologis harus dilakukan melalui evaluasi klinis oleh tenaga profesional. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar mampu mengelola burnout dengan menyeimbangkan perkuliahan dan aktivitas organisasi serta mengenali batas kemampuan diri.

Seminar menghadirkan tiga pemateri dengan perspektif berbeda. Psikolog sekaligus Dosen Psikologi UNP, Wirza Feny Rahayu, S.Psi., M.Psi., Psikolog, membawakan materi “Between the Pages: Finding Meaning Behind Every Story”. Ia mengajak peserta memahami bahwa setiap perilaku seseorang memiliki pengalaman dan cerita di baliknya.

“Kita hanya melihat perilaku yang tampak, sementara pengalaman di baliknya belum tentu kita ketahui. Memahami itu butuh mendengarkan,” jelasnya.

Wirza juga menyoroti maraknya self-diagnosis dan kecenderungan masyarakat mencurahkan persoalan pribadi kepada kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti klinis serta empati dalam mendampingi orang yang mengalami persoalan mental.

Sesi berikutnya menghadirkan penulis, hipnoterapis, aktris, sekaligus pegiat literasi, pendidikan, dan seni budaya, Ira Yusfi, S.Pd., CH., CHt. Dalam talkshow bersama Wirza, Ira menyampaikan bahwa kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan mengenali dan mengendalikan diri.

“Meski situasi di luar buruk dan dunia tidak bersikap baik, kita tetap memegang kendali atas diri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menulis sebagai sarana pemulihan dan perbaikan diri. Menurutnya, karya tulis dapat menjadi media menyebarkan kesadaran sekaligus menjangkau pembaca yang memiliki pengalaman serupa.

Kegiatan dilanjutkan dengan workshop journaling menggunakan jurnal berbasis Johari Window untuk membantu peserta mengenali berbagai sisi dirinya.

Pada sesi kedua, Associate Prof. Dr. Fonny Dameaty Hutagalung, Dosen dan Peneliti Senior Departemen Psikologi Pendidikan dan Konseling Universiti Malaya, Malaysia, membawakan materi “My Pages, My Story: Understanding and Accepting Myself”.

Ia menilai kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat. Namun, tantangan seperti ketidakpastian ekonomi, konflik global, tekanan media sosial, budaya, dan stigma masih memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Fonny mengajak peserta berhenti membandingkan diri dengan orang lain, melihat kelemahan sebagai potensi kekuatan, serta membangun lingkungan dan support system yang positif.

Dalam sesi ini, peserta juga mempraktikkan teknik penenangan diri melalui Emotional Freedom Techniques (EFT) Tapping dan Butterfly Hug.

Rangkaian kegiatan seminar, diskusi, dan praktik refleksi diri tersebut turut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pengukuran pre-test dan post-test, rata-rata skor welas diri (self-compassion) peserta meningkat dari 3,204 menjadi 3,429 atau sekitar 7 persen. Peningkatan tersebut juga terbukti signifikan secara statistik.

Melalui WMHD 2026, HMD Psikologi UNP berharap dapat menghadirkan ruang aman dan inklusif bagi generasi muda untuk memahami, menerima, serta menghargai setiap cerita dalam dirinya. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat edukasi dan dukungan sosial dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental (yen)