Padang – UIN Imam Bonjol Padang berharap kolaborasi antara Polda Sumatera Barat (Sumbar) dan Pondok Pesantren (Pontren) terus berkembang dalam pendidikan karakter, literasi hukum, literasi digital, pencegahan penyalahgunaan narkotika, serta perlindungan anak dan generasi muda. Menurut Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd, inilah ikhtiar bersama untuk memastikan lingkungan pendidikan menjadi ruang yang aman bagi tumbuhnya cita-cita.
“Kemandirian pesantren perlu kita pahami sebagai kemampuan kelembagaan untuk mengelola potensi, memperkuat kualitas pendidikan, mengembangkan kewirausahaan, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan,” katanya, saat memberikan sambutan dalam acara ekspo kemandirian pesantren Tahun 2026, dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional dan Dies Natalis UIN Imam Bonjol Padang, di Gedung J Kampus III, Kamis (29/10/2026).
Ia mengatakan, pesantren memiliki modal sosial yang kuat, berupa kepercayaan masyarakat, budaya gotong royong, kedisiplinan, dan jaringan alumni yang luas.
Ekspo kali ini menjadi ruang aktualisasi modal tersebut. Produk-produk unggulan pesantren memperlihatkan kreativitas dan semangat kewirausahaan santri.
“Kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur’an, Musabaqah Hifzhil Qur’an, Musabaqah Qira’atil Kutub, serta Silek Tradisional Minangkabau, memberi tempat bagi keunggulan keilmuan, spiritualitas, dan kebudayaan untuk tumbuh bersama,” tambahnya.
Menurutnya, Sumbar memiliki warisan pendidikan Islam yang sangat kaya. Tradisi surau, madrasah, dan pesantren telah menghadirkan tokoh-tokoh yang pemikiran dan pengabdiannya melampaui batas wilayahnya. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, juga mengingatkan tentang hubungan yang mendalam antara nilai agama dan kehidupan budaya masyarakat.
“Kebesaran sejarah akan semakin bermakna, ketika generasi hari ini melanjutkannya melalui prestasi, gagasan, dan pengabdian yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dari lingkungan pesantren di Ranah Minang, kita berharap tumbuh kembali para ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, dan pemimpin yang mengharumkan nama bangsa,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pesan khusus pada para santri, bahwa pendidikan pesantren telah membekali santri dengan sesuatu yang sangat berharga. Baik berupa ketekunan, penghormatan kepada guru, kedisiplinan, kemandirian, dan kedekatan dengan Al-Qur’an.
“Rawatlah bekal itu sepanjang perjalanan hidup kalian.
Bercita-citalah setinggi mungkin. Lanjutkan pendidikan. Perluas pengetahuan. Kuasai bahasa dan teknologi. Asah kemampuan berpikir kritis. Dan jagalah akhlak dalam setiap pilihan hidup,” tuturnya.
Negeri ini menanti kontribusi santri dalam berbagai bidang, yakni sebagai ulama, pendidik, peneliti, ekonom, ahli teknologi, profesional, maupun pemimpin masyarakat. Ia berharap, semakin banyak lulusan pesantren dan madrasah melanjutkan pendidikan tinggi.
Kesinambungan keilmuan dari pesantren ke perguruan tinggi, akan memperkaya tradisi akademik dan membuka kesempatan bagi lahirnya generasi intelektual muslim yang unggul. UIN Imam Bonjol Padang bersedia menjadi rumah akademik yang terbuka dan ramah bagi anak-anak pesantren.
“Di kampus ini, mahasiswa dapat mengembangkan bekal keagamaan melalui perjumpaan dengan beragam disiplin ilmu, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kehidupan akademik yang lebih luas,” ucapnya.
Sementara Ketua Panitia Pelaksana, Dr.Zulkifli, mengatakan terdapat dua puluh tiga lembaga yang ikut serta meramaikan acara. Sembilan lembaga dari Kota Padang dan empat belas dari luar Kota Padang.
“Jumlah keseluruhan peserta yang tercatat lebih dari seribu santri dan guru pendamping,” katanya.
Rangkaian kegiatan menempatkan Ekspo Kemandirian Pesantren dan Madrasah Aliyah sebagai ruang memperlihatkan kapasitas, kreativitas, pengalaman, dan karya lembaga pendidikan. Di samping itu, para peserta mengikuti perlombaan kreativitas dan kemampuan akademik. Pada hari pertama dijadwalkan Musabaqah Tilawatil Qur’an, Musabaqah Hifzhil Qur’an, Musabaqah Qira’atil Kutub, pidato, serta puitisasi Al-Qur’an.
Pada hari kedua kegiatan Jumat (30/10) dilanjutkan dengan cabang lomba sebelumnya, disertai silek tradisional, pop solo Islami, nasyid, dan lagu Minang. Dengan demikian, terdapat sembilan jenis cabang lomba yang dipertandingkan, dengan hadiah sangat menarik. (Yuni)











