ACEH – Pekerja berhenti, pakaiannya penuh lumpur. “Membersihkan rumah bude,” kata seorang pemuda transmigrasi di lokasi banjir hebat Kampung Dalam, Tanjung Baru, Aceh Tamiang, Jumat (19/12).
Secangkir kopi panas, ditunggu. “Lucu kalau Aceh tak ngopi Pak,” kata yang lain.
Tapi, karena akses terputus, pemilik gerobak kopi bermesin ini, tak bisa membeli kopi gayo. “Saya beli ke Medan, tiga jam, ke Banda Aceh 12 jam,” katanya. Itupun putus.
Rinaldi namanya, usia 27 tahun, lahir 1998, kuliah di UIN Sumut. Berhenti sebab ia tertarik berdagang
Dan, tadi terlihat gerainya ramai. Orang-orang berbelanja. Saya juga. Segelas kopi hitam Rp 10 ribu, beda harga untuk jenis lain. Ia menata gelas atau cup kertas memenuhi meja, dua karyawannya meracik dan mengemas kopi untuk pelanggan. Ia berdagang selepas jembatan Kuala Simpang di Jalan Juanda kawasan Kampung Dalam, Aceh Tamiang.
Rinaldi sibuk bukan saja menata cup tapi juga menerima pembayaran dan pengembalian.
“Terima kasih Pak, awak baru mulai dagang sepekan ini,” kata dia.
Laris manis ternyata sebab nyaris tidak ada atau bahkan tidak ada yang jual kopi panas. Kopi apa juga lagi, lumpur saja sudah masuk rumah.
Pria muda itu memasang merek Kopiku Rasa. Ada spanduk di belakang gerainya, “Kopiku Tada berdiri Tangal 08 Januari 2020, di Kuala Simpang Aceh Tamiang. Dimana makna Kopiku sendiri berarti adanya hak kepemilikan untuk mengkonsumsi kopi…” Panjang tulisannya, sudahlah. Pokoknya ia berjualan pas waktunya.
Sore ini pukul 16.00 kopi hitam hangat memang terasa nikmat oleh saya. Bagi yang lain juga sebab masih antre saja. Mobil berkubang tanah lalu lalang, truk, oto tentara, polisi, BNPB, banyak lagi, antar bantuan atau habis membantu.
Bencana kita urus, Danantara datang antar bantuan dengan ratusan truk, kopi perlu diteguk. Nikmatnya tak terbada. (Kj)












