Naif, Polisi Arab yang Santun Kagumi Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi

Soesilo Abadi Piliang wartawan Singgalang bersama Naif, Polisi dari Mekkah, di Masjid Nabawi.(Ist)

Laporan Soesilo Abadi Piliang

MADINAH – Waktu menunjukkan pukul 04. 00 waktu Madinah, Jumat (3/11), para jemaah umrah dari seluruh dunia berduyun-duyun ke Masjid Nabawi, guna menunaikan shalat subuh, termasuk saya.

Di masjid nan megah dan agung itu, saya bersila, dan di samping saya ada jemaah dari Uzbeskistan dan Mekkah. Pria yang dari Mekkah yang berbusana putih bersih, dan wangi memberi salam kepada saya. “Assalamualaikum.”

“Waaalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” saya membalas salamnya.

Kemudian, pria berparas tampan berusia sekitar 20-an tersebut berbicara dalam bahasa Arab. Saya tidak bisa menjawabnya, dan saya bilang saya hanya bisa bahasa Inggris. Lalu dia menggunakan google translate.
“Are Indonesian?”
“Yes,” jawab saya senang.

Nama pemuda itu Naif. Dia orang Arab Saudi asli.

Kemudian terjadi perbincangan basa-basi diantara kami, dia tahu Indonesia tapi tidak tahu persis posisi Indonesia di Asia Tenggara, dia hanya tahu banyak orang Indonesia menjalankan ibadah haji dan umrah.

Sesekali dia memperlihatkan foto ayahnya bernama Abdullah yang gagah dan bersahaja di smartphone-nya.

Baca Juga  Henry Yosodiningrat, Anak Gaul yang Raih Gelar Profesor Unissula

Kemudian saya bercerita bahwa ada ulama besar legendaris Arab Saudi, yakni Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah asal Minangkabau. Ia lahir di Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dia mengenal tokoh Islam yang sangat disegani oleh pihak Kerajaan Arab Saudi dan masyarakat di Timur Tengah. Katanya dia dan ayahnya mengagumi tokoh tersebut.

Saya bilang bahwa saya orang Minangkabau. Dan dia pun takjub dan senang karena saya dari Minangkabau.

Saat iqomah bergema, saya agak sulit berdiri karena kaki saya kesemutan dan dia bersiap akan menolong saya untuk berdiri. Tapi saya berusaha berdiri, alhamdulillah saya tidak tumbang.

Naif ini orangnya santun, dengan isyaratnya ia kerap meminta jemaah asing tidak melintas di depan orang yang sedang sholat, dan mempersilakan lewat di jalur lain.

Usai sholat subuh, dia menawarkan saya air zam-zam. Saya menggangguk. Dia memberikan saya satu gelas cup plastik berisi air zam-zam, rasanya tenggorokan saya lega dan merasa lebih fresh.

Baca Juga  Usia Rentan, Selalu Ada Harapan, Tak Mesti Jadi Beban

“Terima kasih banyak, sukron,” kata saya.

Dia akhir pembicaraan saya pun bertanya kepadanya.”Pekerjaan kamu apa di Mekkah?”
“Police,” jawabannya bangga. Dan kami pun bertukar nomor WhastApp dan mempersilakan saya kalau mau mengontak saya di Mekkah.

Saya kagum pada polisi muda yang ramah dan santun ini. Saya membayangkan, jika semua aparat polisi di Indonesia bersikap ramah dan mengayomi masyarakat, maka masyarakat merasa nyaman dan terlindungi.

Rupanya, keramahtamahan dan kesantunan si polisi tadi sudah menjadi karakternya tapi juga karena Pemerintah Arab Saudi sudah mulai membatasi wewenang polisi syariah dan memerintahkan anggotanya agar bersikap lebih “ramah” dalam menegakkan hukum Islam, ujar Ali Ahmad, polisi muda keturunan Madura saat saya berbincang dengannya di komplek Masjid Nabawi.

Peraturan baru menyebutkan pekerjaan mereka adalah “melakukan tugas menyebarkan kebijaksanaan dan mencegah kejahatan dalam cara yang ramah dan manusiawi, berdasarkan kerangka yang dibuat Nabi Muhammad dan para penerusnya.”(*)