SAWAHLUNTO – Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Solok Nan Indah, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., mengajak masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat dengan tidak melalaikan persiapan menghadapi kematian.
Pesan tersebut disampaikan Zulkifli saat menjadi penceramah dalam Wirid Bulanan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Kota Sawahlunto di Masjid Taqwa, Nagari Talawi, Jumat (10/7). Dalam tausiyah bertema “Persiapan Hidup Setelah Mati”, ia mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.
“Kita sering kali terjebak dalam kesibukan mempersiapkan masa depan di dunia hingga melupakan kehidupan setelah kematian. Padahal, dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen seluruh amal yang telah kita lakukan,” ujarnya.
Zulkifli yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Sawahlunto menegaskan bahwa kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia. Pada saat itu, harta maupun jabatan tidak lagi bernilai, melainkan amal saleh yang menjadi bekal utama.
Dalam tausiyahnya, ia menguraikan empat bekal utama yang perlu dipersiapkan setiap Muslim untuk menghadapi kehidupan setelah mati.
Pertama, memperkuat interaksi dengan Alquran. Menurutnya, Alquran tidak cukup hanya dibaca, tetapi juga harus dipahami dan diamalkan sebagai pedoman hidup.
Kedua, meningkatkan kualitas salat. Ia menekankan bahwa salat merupakan tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab. Salat yang dilakukan dengan khusyuk, tepat waktu, dan sesuai tuntunan akan membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
Ketiga, membiasakan diri berzikir. Zikir dinilai mampu menenangkan hati, memperkuat spiritualitas, serta mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT di tengah berbagai ujian kehidupan.
Keempat, memperbanyak sedekah. Menurutnya, sedekah bukanlah pengurang harta, melainkan investasi untuk kehidupan akhirat sekaligus sarana membantu sesama.
“Jangan pernah merasa rugi untuk berbagi. Harta yang kita infakkan di jalan Allah sesungguhnya adalah aset yang sedang kita simpan untuk kehidupan yang kekal,” katanya.
Selain menjadi sarana pembinaan rohani, wirid bulanan BKMT juga menjadi wadah mempererat sinergi antarunsur masyarakat dalam membangun kehidupan keagamaan di Kota Sawahlunto.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala KUA Kecamatan Talawi, jajaran pengurus BKMT tingkat kota dan kecamatan, pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sawahlunto, tokoh masyarakat, alim ulama, bundo kanduang, serta jemaah majelis taklim dari berbagai wilayah.
Menutup tausiyahnya, Zulkifli mengingatkan bahwa ukuran kecerdasan sejati bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, melainkan kesungguhan seseorang dalam mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.
“Orang yang paling cerdas bukanlah mereka yang menumpuk harta paling banyak, melainkan mereka yang paling sering mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapinya,” pungkasnya. (sbd)












