Opini  

Esensi Terdalam Israk Mikraj

MELANGITKAN DIRI DENGAN MEMBUMIKAN SHALAT

Oleh Irawadi Uska
Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kota Solok
‘’Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Al-isra’ 17 : 1)
Sesungguhnya Peristiwa Israk Mikraj tidaklah hadir dalam ruang yang hampa akan Sejarah, kejadian monumental itu di latarbelakangi oleh fase paling gelap dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Tahun itu dikenal sebagai (‘am al-huzn) tahun kesedihan mendalam bagi beliau, karena Khadijah ra. Sang istri penopang moral dan spiritual Rasulullah wafat. Abu Thalib paman yang gagah berani sekaligus pelindung sosial-politik beliau juga meninggal. Ditambah lagi penolakan masyarakat Makkah semakin keras terhadap ajaran dakwah yang beliau kembangkan dan luka batin Nabipun semakin dalam. Dalam konteks inilah Allah SWT. “memperjalankan hamba-Nya (Muhammad SAW.) pada suatu malam.” Yang dikenal dengan Isra Mi’raj. Yang sesungguhnya bukan hanya perjalanan spiritual belaka, namun juga perjalanan yang penuh pesan moral dan sosial yang mendalam bagi umat manusia.
Israk Mikraj membawa pesan bahwa shalat yang dijemput nabi adalah ibadah yang menghubungkan dua dimensi yaitu dimensi langit dan dimensi bumi. Shalat merupakan media komunikasi langsung secara vertikal antara hamba dengan Allah SWT., yang kemudian diwujudkan dengan komunikasi harmonis secara horizontal dengan sesama manusia. Kemaslahatan sosial dan kebaikan moral akan lahir ketika nilai-nilai shalat diinternalisasi dalam jiwa seorang hamba secara baik. Dalam shalat, diajarkan nilai-nilai sikap disiplin waktu, kesetaraan derajat, dan kepatuhan pada aturan. Ketika nilai-nilai ini dibawa ke ruang sosial, maka akan tumbuh budaya saling menghormati, keadilan, dan kepedulian terhadap kelompok yang lemah. Intinya akan berkesimpulan bahwa : memanusiakan manusia adalah harga mati.
Saat diajak ‘bertamasya’ menyaksikan neraka oleh Jibril Ketika mi’raj, Nabi Muhammad SAW. sempat melihat beberapa kejadian mengejutkan dan menyedihkan, yaitu siksaan yang amat sangat mengerikan bagi umat manusia. Kesemua siksaan yang beliau saksikan tersebut merupakan akibat perilaku sosial dan moral manusia saat menjalani hidup duniawi. Diantaranya sebagai berikut :
Tukang Ghibah (Penggunjing). Nabi menjumpai kaum yang memiliki kuku panjang yang terbuat dari tembaga yang panas, kemudian mereka mencakar wajah dan mukanya sendiri dengan kuku tersebut. Nabi heran dan bertanya pada Jibril, “Siapakah mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, ”Mereka adalah orang-orang yang suka menghibah (menggunjingkan) orang lain.”
Tidak Mau Berzakat. Nabi menjumpai Kaum yang dipaksa makan batu panas dari neraka jahanam. Lalu nabi bertanya kepada malaikat Jibril, “Siapakah mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang tidak mau membayar zakat.” Zakat merupakan kewajiban yang mesti ditunaikan jika haul (waktu) dan nisab (jumlahnya) sudah mencukupi untuk dizakatkan. Jika haul dan nisabnya tidak atau belum sampai sesuai ketentuan fiqh, maka belum dikenakan sebagai orang yang wajib berzakat.
Berat melaksanakan shalat fardhu. Di fase selanjutnya nabi menemui suatu kaum yang kepala mereka pecah, setiap kali pecah maka kembali lagi kemudian pecah lagi. Nabi bertanya pada Jibril, “Siapakah pula mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang yang kepalanya berat untuk melaksanakan shalat fardhu.”
Hobi selingkuh. Selanjutnya Nabi menjumpai kaum yang di hadapan mereka ada sebuah daging yang masak lagi enak dan daging mentah yang busuk. Namun kaum tersebut memilih daging yang busuk dari pada daging yang masak nan baik itu. Nabi bertanya pada Jibril, “Siapakah mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Itu adalah gambaran orang-orang yang sudah mempunyai pasangan namun memilih selingkuh dengan orang lain.” Stop to Affair.
Penghalang Kebaikan. Kisah selanjutnya nabi menemui sebuah kayu yang ada di jalan, setiap orang yang berjalan melewati kayu tersebut akan terbakar pakaian dan tubuhnya. Nabi bertanya pada Jibril, “ini apa pula wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Itu adalah perumpamaan suatu kaum di antara umatmu yang duduk nongkrong di jalan dan mencegah orang beriman menuju ke jalan Allah SWT.”
Dari sekian banyak tafsir dan pendapat tentang esensi dari peristiwa isra mi’raj, menjemput atau terbawanya perintah shalat adalah pendapat terkuat dari sekian banyak tafsir ulama dan ahli hikmah terdahulu. Sangat jelas dan gamblang bahwa kedudukan shalat sangat tinggi bagi kaum Muslimin, yang pada akhirnya shalat berfungsi sebagai sarana perbaikan moral dan etika dengan membentuk karakter mulia seperti disiplin, sabar, jujur, dan rendah hati melalui gerakan serta bacaannya, mencegah perbuatan keji dan munkar, serta membangun hubungan spiritual yang kuat dengan Allah SWT, yang akhirnya mewujudkan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan ketenangan, dan meningkatkan kepekaan sosial.
Di titik akhir dari goresan singkat ini adalah “melangitkan diri seraya membumikan shalat” adalah sebuah ungkapan spiritual yang mendalam, sering digunakan dalam konteks tasawuf atau spiritualitas Islam untuk menggambarkan esensi sejati dari ibadah shalat. Ungkapan ini mengandung makna filosofis tentang keseimbangan antara aspek transendental dan praktis dalam kehidupan seorang Muslim.
Melangitkan diri ; merupakan transendensi dan kenaikan Spiritual yang berarti mengangkat jiwa, hati, dan kesadaran seseorang dari urusan duniawi yang rendah menuju hadirat Allah SWT Yang Maha Tinggi. Cara ini melibatkan fokus pikiran sepenuhnya kepada Tuhan, memutuskan koneksi sementara dengan hiruk pikuk kehidupan dunia, dan merasakan kedekatan ilahi. Peningkatan kualitas diri (Tazkiyah an-Nafs) menyisyaratkan usaha untuk menyucikan jiwa, memperbaiki akhlak, dan mencapai derajat spiritual yang lebih tinggi melalui ibadah dan ketakwaan.
Membumikan Salat; Penerapan Nilai-Nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari atau implikasi praktis, shalat tidak boleh hanya menjadi ritual kosong yang dilakukan lima kali sehari semalam tanpa bekas. “Membumikan” berarti membawa nilai-nilai, disiplin, ketenangan, kesadaran, dan tujuan dari salat (seperti mencegah perbuatan keji dan mungkar, kejujuran, dan empati) ke dalam interaksi sosial, pekerjaan, dan seluruh aspek kehidupan di bumi. Relevansi Sosial dan Moral, ibadah shalat yang “dibumikan” berdampak nyata pada perilaku seseorang, menjadikannya agen perubahan positif dalam masyarakat, adil, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama makhluk.
Asholatu Mi’rajul Mukminin, الصلاة معراج المؤمنين artinya “Shalat adalah mi’rajnya orang mukmin,” sebuah ungkapan hikmah yang menggambarkan shalat sebagai momen perjumpaan spiritual tertinggi seorang hamba dengan Allah SWT, mirip dengan perjalanan Israk MikrajNabi Muhammad SAW, di mana mukmin dapat ‘naik’ secara rohani untuk bermunajat langsung kepada-Nya. Ini bukan hadits, melainkan pernyataan ulama yang menekankan shalat sebagai jalan kedekatan, istirahat spiritual, dan media untuk menerima bimbingan ilahi. Semoga bermanfaat.