SATU Oktober tahun ini, Sumatera Barat kembali memperingati hari Ulang Tahunnya. Dalam pejalanan waktu yang panjang, banyak kemajuan yang di raih, yang di ukir para tokoh bersama masyarakat. Seperti sebuah lukisan yang indah, selalu di mulai dari sebuah coretan kuas. Kita kadang lupa sebuah lukisan memuat ribuah usapan diatas kanvas yang semula kosong.
Jika wajah Sumatera kini, sebuah lukisan, maka dari generasi ke generasi ada sejumlah figur yang menorehkan tangannya. Mereka itu adalah tokoh dan orang orang berjasa. Ungkapan usang menyebutkan ‘Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa yang Pandai Menghargai Para Pahlawan’, baik pahlawan yang namanya siakui kebesaran oleh bangsa melalui sebuah keputusan Presiden ataupun pahlawan yang tanpa tanda tangan, namun mereka berbuat nyata. Mereka berkarya dan mereka memberikan sumbangan pikiran, tenaga dan energinya buat kebaikan bagi orang banyak dalam berbagai bidang kehidupan.
Saat ini terdapat 17 pahlawan berasal dari ranah Minang, itu belum termasuk orang Minang yang diusulkan provinsi lain seperti AK. GANI (Abdul Kapau Gani). Di luar itu masih menunggu usulan atas jasa jasanya dalam jumlah yang tidak sedikit, seperti mr. AS’AD yang pernah menjadi Presiden RI dan yang menandatangani statuta Universitas Gajah Mada dan Abdul Halim.
Di luar itupun ada sejumlah tokoh yang amat berjasa dalam berbagai bidang. Seperti Khairil Anwar, seorang sastrawan yang menulis puisi ‘Dari Kerawang dan Bekasi’ yang membuat bulu kuduk saya berdiri saat dibacakan dalam acara kenagaraan Peringatan Hari Kemerdekaan RI di Istana. Dan puluhan bahkan ratusan tokoh lainnya di berbagai bidang yang pernah mendapat bintang jasa Adi Pradana, Maha Putra Utama, Maha Putra, bintang Jasa dan sebagainya, yang di peranannya diakui negara dalam kehidupan berbangsa.
Dalam skala lokal, rasanya tak ada yang akan membantah ketokohan mantan mantan Gubernur Sumbar yang kini telah tiada. Seperti Alm Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa, Harun Zain, Azwar Anas, Hasan Basri Durin dan Zainal Bakar.
Di luar itu ada ahli tafsir kelas dunia seperti Sekh. Ahmad Yasin Al Minangkabauwi, seorang ahli hadis yang mendunia, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkauwi, yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram dan guru dari banyak ulama, Buya Hamka serta sejumlah tokoh besar lainnya yang dapat dibaca dan diketahui kebesarannya dalam buku 1.001 tokoh Minang.
Kehebatan para tokoh tersebut, baik yang sudah di tetapkan sebagai pahlawan atau tidak, belumlah kita beri penghargaan selayaknya. Membaca buku 1.001 tokoh Minang memberi gambaran kepada kita betapa kebesaran para tokoh tersebut dengan karya-karyanya yang luar biasa hingga patut menjadi inspirasi, tauladan dan spirit bagi generasi kita dan berikutnya.
Kehebatan itu tidaklah cukup di nukilkan dalam sebuah buku, tapi selayaknya diterjemahkan dalam bentuk yang lebih luas . Salah satunya, dengan mencantumkan nama tokoh atau pahlawan itu dalam berbagai fasilitas publik.
Di Sumatera Barat atau di Kota dan Kabupaten masih banyak jalan yang belum memiliki nama, ataupun bila telah bernama, layak di evaluasi sesuai perkembangan masa.
Semisal di Kota Padang. Jalan dari Teluk Bayur ke Bandara International Minangkabau ( BIM ) setahu saya belum memiliki nama. Tapi orang lazim menyebutnya jalan By Pass. Saya kira jalan By Pass bukanlah nama jalan tapi merupakan jalur jalan yang membentang dari ujung selatan Kota Padang menuju utara.
Jalan itu digagas Gubernur Hasan Basri Durin saat beliau menjadi Walikota Padang dan dilanjutkan Walikota Syahrul Ujud. Pada jalan tersebut terdapat beberapa ruas yang panjang. Bisa saja jalan tersebut di beri nama seorang tokoh yang berjasa untuk Kota Padang atau beberapa nama tokoh berdasarkan ruasnya.
Sepengetahuan saya, saat ini belum ada rujukan aturan yang jelas untuk mengatur pemberian nama jalan dan fasilitas umum lainnya. Ketika saya bertanya kepada Google, jawabannya adalah biasanya pemberian nama jalan di tentukan walikota setelah mendapat persetujuan DPRD. Google memberi contoh Tasik Malaya.
Ketika saya bertanya kepada Meta AI, jawabannya juga hampir sama. Intinya belum ada payung hukum yang menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah, propinsi, Kabupaten dan Kota dalam hal pemberian nama jalan dan gedung atau fasilitas umum lainnya.
Salah satu tugas negara, mengatur agar hidup teratur berdasarkan falsafah bernegara dan konstitusi. Saat ini sebagian besar nama jalan adalah sebuah warisan masa lalu yang waktunya amat beragam. Ada yang diwarisi sejak awal kemerdekaan dan ada juga yang sudah beberapa kali di perbarui.
Untuk jalan yang baru dibangun, ada yang belum bernama atau dinamakan saja oleh publik atau masyarakat dengan apa yang ditentukan disana pada masa lalu. Sebagai contoh misalnya, Pinang Baririk di Agam. Nama itu sepertinya diamini saja oleh semua orang karena disana dulu ada pohon Pinang berderet deret. Waktu awal saya kesana pohon pinang itu sudah tak ada, tapi namanya tetap Pinang Baririk/berderet. Entah atas inisiatif siapa kemudian di masa Gubernur Mukhkis Ibrahim, yang rumah orang tua beliau ada disana, ditanamlah kembali pohon pinang berderet-deret, yang hingga sekarang sudah tua pula pohonnya.
Beberapa waktu lalu saya mendengar Bupati Padang Pariaman memberi namanya jalan fly over sampai bandara International Minangkabau dengan nama Sutan Muhamad Rasyid. Kebetulan ayah dari Alwin Rasyid mantan Dirut bank Niaga, yang saat beliau masih menjabat. Konon nama itu atas usulan dari Pengusaha Minang Basrizal Koto.
Di negara negara maju, nama jalan se kecil apapun menjadi sesuatu hal penting hingga sampai ke desa-desa .
Suatu ketika, seseorang teman menanyakan nama jalan rumah saya di kampung. Saya sendiri tak tahu nama jalan rumah saya, karena saya tidak pernah membaca nama jalan disana. Saya jawab saja. Tanya sajalah disitu. Sebut nama saya. Lalu dia melanjutkan, kalau saya mau kirim paket ke rumah di kampung bapak bagaimana? Saya mulai bingung. Akhirnya saya bilang, kirim saja dengan alamat masjid Ummi, pasti nanti diantar. Sesuatu yang sebenarnya amat sederhana tapi terasa pentingnya.
Nama jalan di negara negara maju, juga digunakan untuk meng apresiasikan penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap pahlawan, tokoh dalam berbagai bidang, orang orang berjasa, orang orang berprestasi yang mengharumkan nama daerahnya baik ketika dia masih hidup ataupun setelah meninggal dan berbagai pertimbangan lainnya.
Saat ini tak banyak daerah di indonesia melakukan evaluasi terhadap nama jalan yang sudah ada atau menamai jalan baru, saya kira dalam menyambut HUT Kemerdekaan ke-81, ada baiknya Pemerintah daerah memikirkan memberi nama setiap jalan yang ada di daerah masing-masing. Utamakanlah memberinya dengan nama tokoh yang berjasa dari Ranah Minang.
Saya kira lima nama mantan Gubernur Sumatera Barat yang saya sebutkan diatas, patut di abadikan sebagai jalan jalan utama di kota dan kabupaten di Sumatera Barat. Tengoklah. Di Jakarta ada nama Rasuna Said, tokoh perempuan Minang yang namanya di toreh di sebuah jalan utama di kawasan Elit jantung kota Jakarta. Bentuk penghargaan lain adalah nama Gedung, jembatan, kawasan dan sebagainya sebagaimana jembatan Siti Nurbaya, seorang wanita dalam cerita novel yang sangat populer di zamannya.
Bila wanita dalam cerita itu kita hargai, barangkali patut pula kita membesarkan nama ibu Rasuna Said, Rahmah El Yunusiah, Siti Manggopoh, Rohana Kudus dan lainnnya dengan menamai sebuah jalan, gedung ataupun jembatan dan fasilitas umum lainnya di Sumatera Barat.
Penamaan itu kelak akan menjadi pertanyaan bagi anak cucu kita. Siapa tokoh itu? Biarlah kemudian menjadi pekerjaan rumah mereka untuk menelusurinya dalam buku sejarah yang mudah mudahan tak hilang di makan waktu.
Dan mudah-mudahan juga menyemangati mereka bahwa kelak, bila mereka menoreh jasa dan prestasi untuk negeri ini namanya juga akan di ukir menjadi nama jalan, gedung atau jembatan dan sarana publik lainnya, termasuk taman taman kota. Dahulukanlah nama tokoh tokoh asal Sumatera Barat sebelum mencantumkan nama tokoh lainnya.
Ini bukan berarti saya terjangkit paham ‘Padang Disease’ atau etnosentris dan promordialisme Minangkabau berlebihan, tapi siapa lagi bila bukan kita membesarkannya? Pikiran ini bukan gagasan besar menyambut ulang tahun ke-81 tahun Sumatera Barat. Tapi meskipun kecil dan pernik pernik, saya berharap tulisan ini menjadi bermakna untuk di di kunyah kunyah. Kadang yang kecil itu indah juga/small is beautiful. (Jakarta, 1 Oktober 2026)












