SAWAHLUNTO – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin Sijantang yang kini beroperasi dengan nama PLN Indonesia Power Sijantang, Talawi, Sawahlunto, masih beroperasi optimal meski usianya telah mencapai 33 tahun.
PLTU ini dibangun sebagai pembangkit mulut tambang seiring keberadaan perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin (PTBA UPO) dan PT AIC. Unit 1 mulai dibangun pada 4 Juli 1996 dan Unit 2 pada 4 November 1996, dengan kapasitas terpasang 2 x 100 MW dan usia desain awal selama 30 tahun.
“PLTU Sijantang merupakan penyangga utama interkoneksi kelistrikan Sumatera dari Lampung hingga Aceh. Jika pembangkit ini mengalami gangguan, dampaknya bisa berupa pemadaman bergilir,” kata Assistant Manager Keuangan dan Umum PLN Indonesia Power Sijantang, Hadi Mulyadi, didampingi Humas Lilis, saat berbincang dengan Topsatu.com, Selasa (13/1).
Ia menegaskan, manajemen terus melakukan perawatan maksimal guna mencegah gangguan fatal yang dapat memicu pemadaman listrik.
Untuk operasional, PLTU Sijantang membutuhkan batubara berkualitas tinggi dengan nilai kalor sekitar 6.000 HRC. Setelah PTBA UPO tidak lagi beroperasi, pasokan batubara kini ditopang sejumlah perusahaan lokal seperti PT AIC Jaya, PT Miyor, PT SPN, PT Dasrat, PT Tahiti, dan PT BMK.
Selain itu, PLN Indonesia Power Sijantang juga mulai menerapkan co-firing dengan mencampur sekitar 5 persen biomassa serbuk kayu berkalori 4.000 HRC sebagai bagian dari transisi energi terbarukan.
“Kami juga mengembangkan tanaman kaliandra sebagai sumber energi alternatif. Saat ini telah ditanam sekitar 5.000 batang di Kenagarian Sijantang serta 3.800 batang di Desa Salak dan Kolok,” ujar Hadi.
Saat ini, pembangkit beroperasi penuh dua unit dengan kebutuhan batubara sekitar 2.000 ton per hari. Stok batubara mencapai 100 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Idul Fitri mendatang.
Tak hanya fokus pada kelistrikan, PLN Indonesia Power Sijantang juga aktif menjalankan program CSR. Sepanjang 2025, perusahaan melaksanakan sekitar 20 kegiatan meliputi pembinaan UMKM, pelatihan, beasiswa, hingga penanaman pohon, dengan total anggaran sekitar Rp1 miliar.
“Ini bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Mari bersama-sama menjaga pembangkit ini agar tetap beroperasi dengan baik meski usianya sudah tergolong tua,” pungkas Hadi. (sbd)












