SAWAHLUNTO – Siapa sangka, sebuah telepon genggam mampu mengubah nasib selembar kain tenun. Jika dahulu pengrajin Tenun Songket Lunto Barat harus menunggu distributor datang atau membawa sendiri produknya ke pasar, kini satu foto dan satu unggahan di media sosial berpotensi memperkenalkan karya mereka kepada ribuan calon pembeli.
Inilah perubahan yang dibawa Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) Tahun 2026 melalui program “Satu Sentuhan Digital, Ribuan Peluang Baru”, sebuah gerakan yang menghubungkan warisan budaya dengan kekuatan teknologi digital.
Program ini merupakan kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan digitalisasi UMKM serta SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai bentuk implementasi program, mahasiswa melaksanakan sosialisasi dan pendampingan kepada pelaku UMKM Tenun Songket di Desa Lunto Barat. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung mengenai pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi, pembuatan logo produk, penyusunan katalog digital, hingga pengenalan platform pemasaran digital.
Sebelum pelaksanaan pendampingan, mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan observasi dan wawancara langsung dengan pemilik UMKM Tenun Songket untuk mengidentifikasi kondisi pemasaran yang masih dilakukan secara konvensional, berbagai kendala yang dihadapi, serta kebutuhan digitalisasi yang diperlukan dalam mengembangkan usaha.
“Selama ini kami lebih banyak mengandalkan pelanggan yang datang langsung atau menitipkan produk kepada distributor. Kami belum terlalu memahami cara memasarkan produk melalui media sosial, sehingga jangkauan pemasaran masih terbatas,” ujar Buk Mega, pemilik UMKM Tenun Songket, saat diwawancarai mahasiswa KKN UNP.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, mahasiswa menyusun program pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan para pelaku UMKM agar materi yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pengembangan usaha.
“Kami memulai program ini dengan mendengarkan langsung pengalaman dan kebutuhan para pengrajin. Dari hasil observasi dan wawancara, kami melihat bahwa kualitas Tenun Songket Lunto Barat sudah sangat baik, namun pemasarannya masih belum memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Melalui program ini, kami berharap para pelaku UMKM dapat mulai memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas,” ujar salah seorang mahasiswa KKN UNP saat kegiatan observasi pada Rabu (9/7).
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa merancang identitas merek berupa logo yang mencerminkan karakter dan nilai budaya Tenun Songket Lunto Barat. Logo tersebut kemudian digunakan sebagai identitas utama dalam berbagai media promosi digital.
Tidak berhenti sampai di situ, mahasiswa juga menyusun buku panduan digitalisasi UMKM yang berisi materi mengenai branding, pemasaran digital, pemanfaatan media sosial, strategi pengembangan usaha, serta langkah-langkah praktis dalam menyusun katalog digital. Buku panduan tersebut disusun dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami, kemudian dicetak dan diserahkan kepada pelaku UMKM sebagai pedoman dalam mengembangkan usahanya secara mandiri.
Mahasiswa KKN juga mendampingi pelaku UMKM dalam menyusun katalog digital yang menarik sebagai media promosi. Katalog tersebut menampilkan berbagai produk Tenun Songket secara lebih profesional sehingga dapat digunakan dalam pemasaran melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Hasil program mulai terlihat dari meningkatnya pemahaman pelaku UMKM mengenai pentingnya branding dan pemasaran digital. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan secara langsung atau melalui relasi terbatas kini telah memiliki identitas merek, katalog digital, serta media promosi yang lebih menarik dan profesional.
Buk Mega mengaku merasakan manfaat nyata dari program yang dijalankan mahasiswa KKN UNP.
“Dulu kami hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung atau melalui kenalan. Sekarang kami sudah punya logo, katalog digital, dan lebih paham cara memasarkan songket melalui media sosial. Semoga dengan ini produk kami semakin dikenal banyak orang,” ujarnya.
Untuk memastikan manfaat program tetap berlanjut setelah masa KKN berakhir, mahasiswa turut menyerahkan buku panduan digitalisasi UMKM sebagai referensi yang dapat digunakan secara mandiri oleh pelaku usaha dalam mengembangkan branding, mengelola media sosial, dan memperluas pemasaran produknya. (r)












