Payakumbuh – Inflasi di Kota Payakumbuh tertinggi kedua di Sumatera Barat. Hal itu mendatangkan keprihatinan dari pemerintah daerah. Untuk itu, Pemko Payakumbuh bertekad untuk bisa mengendalikan laju inflasi. Bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah setempat terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar.
Semangat Walikota Payakumbuh Rida Ananda, mengendalikan inflasi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, dijawab dengan aksi nyata oleh lurah dan warga di kota itu. Salah satunya di Kelurahan Koto Tangah, Kecamatan Payakumbuh Barat, yang menanami lahan tidur dengan cabe dan bawang. Intinya Payakumbuh komit kendalikan inflasi.
Hal itu juga mendapat sorotan dari Radio Republik Indonesia (RRI) Bukittinggi, yang datang langsung ke Kota Payakumbuh untuk program bincang pagi dialog luar studio bersama Wako Rida Ananda, Kadiskominfo Junaidi, Camat Ul Fakhri, Lurah Khalid Zamri dan warga setempat Edi, Rabu (12/10).
Walikota Rida Ananda, kepada wartawan, usai kegiatan itu, mengatakan, sesuai dengan arahan presiden, persoalan inflasi saat ini cukup tinggi di Sumatera Barat, bagaimana mengendalikannya agar harga kebutuhan pokok tidak melonjak tinggi, apalagi kontribusi cabe dan bawanglah yang membuatnya naik.
“Kita mendorong dan mengajak seluruh masyarakat untuk bisa memproduksi atau melahirkan tanaman-tanaman yang berkontribusi terhadap inflasi, dengan memenamnya di lahan kosong, halaman, atau lewat polibag. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan tak perlu beli lagi kepasar,” ujarnya.
Menurutnya, langkah konkrit yang dilakukan adalah dengan memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT), dasawisma dan PKK untuk melakukan giat ini di tengah-tengah masyarakat. Saat ini ada 32 KWT semi aktif dan yang sangat aktif ada 11 KWT di Kota Randang.
“Kita akan dorong KWT yang kelurahannya berada di kawasan pusat kota yang tak ada lahan untuk melakukan penanaman di polibag. Selain membantu kebutuhan pangan keluarga, program ini juga dapat menjadi peluang mengembangkan ekonomi keluarga, produknya bisa di jual, ada banyak permintaan cabe. Ada bantuan dari Pemko kepada petani dengan menyediakan bibit di dinas pertanian dan dinas ketahanan pangan. Untuk pupuk juga dibuat di IPLT, di bawah stakeholdernya Dinas Perkim, hasil olahan sedimen lumpur tinja yang siap jadi pupuk ini dipaketkan dan gratis kita bagikan,” tambahnya.
Sementara itu, Warga Koto Tangah yang belajar pertanian secara otodidak, Edi menyampaikan, saat ini dirinya sedang menanam cabe sebanyak hampir 1.800 batang. Dia menyambut baik himbauan lurah dengan telah memanfaatkan lahan kosong dan lahan tidur yang belum berproduksi, dengan lahan dan alat terbatas menanam cabe.
“Kita bisa melihat harga cabe di pasar mahal sekali. Satu kilo saja di atas 50 ribu rupiah. Tentu memberatkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Semoga apa yang kita niatkan dan ingin kita capai ini, diridhoi oleh Allah SWT. Kami sangat sepakat dengan walikota, bahwa untuk menekan inflasi ini kita harus bisa memenuhi kebutuhan pokok secara mandiri,” ucapnya. 207












