Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com
“Semua Rp30.000 buk,” kata seorang pedagang bawang di Pasar Raya Padang, sambil menyerahkan bungkusan bawang merah super pada seorang ibu-ibu berpakaian dinas Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Waduh… uangnya kurang ini pak, bisa kurangi setengah kilogram Pak,” jawab si ibu memelas.
“Ndak apa buk, bawa saja dulu. Nanti kalau belanja ke sini lagi, baru dilunasi,” tawar si pedagang.
“Waduh gimana ya, saya orangnya tidak suka berutang. Bapak punya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Bank Nagari tidak ? Saya malas pula ke ATM untuk ambil uang tunai,” jawab si ibu lagi.
“Oh ada buk. Sebentar.”
Pedagang itu mengambil sebuah kertas yang sudah dipres bagus dan menyerahkannya pada sang ibu. Dengan sigap sang ibu mengambil gawainya, lalu mendekatkan gawai ke logo QRIS milik si pedagang.
“Alhamdulillah sudah masuk uangnya buk. Makasih buk,” ungkap si pedagang.
“Iya pak. Tapi tolong cabai gilingnya, baik yang halus dan untuk goreng ya pak. Untuk stok di rumah, saya malas ke pasar sering-sering. Kalau ada QRIS kan enak pak, coba dari tadi dikasih tahu,” celoteh si ibu lagi.
Setelah menyelesaikan pembayaran, si ibu kemudian berlalu. Tampak tentengannya sudah sangat berat, saat ia menuju tempat parkir.
Menurut pedagang bernama Yudi tersebut, penggunaan uang digital melalui QRIS memang masih butuh sosialisasi yang harus digencarkan. Ia menyembunyikan logo QRIS yang ia punya, karena masih banyak masyarakat yang suka belanja tunai.
“Tapi beberapa langganan tetap saya sudah banyak yang pakai QRIS. Saya biasanya langsung meletakkan kode QRIS saya begitu mereka datang. Rata-rata ASN Padang ini nasabahnya Bank Nagari, sehingga transaksi terbanyak itu memang dari Bank Nagari,” tuturnya.
Sementara Wati, salah seorang langganan setia Yudi yang baru selesai membayar pakai QRIS mengatakan, ia sangat terbantu dengan layanan digital milik Bank Nagari. Ia tak lagi repot-repot bawa uang tunai, cukup membawa smartphone saja.
“Kalau dulu saya takut dompet dicuri, kini takut gawai dicuri. Tapi kalau gawai kan bisa diletakkan di leher dengan memberinya tali,” katanya.
Ia berharap makin banyak pedagang Pasar Raya Padang dan pasar-pasar lainnya yang menyediakan QRIS. Dengan demikian, uang yang dibayarkan saat transaksi jelas jumlahnya, pasti keaslian rupiahnya, sehingga tak ada rasa was-was.
Layanan Bank Nagari
Apa yang dirasakan nasabah Bank Nagari dan para pedagang, merupakan kemudahan yang sangat cerdas. Semua berkat digitalisasi yang terus dilakukan Bank Nagari, pada setiap layanan perbankan yang dipunya.
Menurut Direktur Utama Bank Nagari, M. Irsyad, dalam sebuah jumpa pers, Bank Nagari terus melakukan peningkatan layanan, terutama teknologi digitalisasi perbankan. Apalagi, di masa pandemi Covid-19, layanan digital dapat meminimalisir dampak penyebaran virus.
WHO seperti dikutip dari halodoc.com, memang telah memberikan peringatan, agar segera berhenti menggunakan uang kertas untuk mencegah penularan Covid-19. Hasil penelitiannya sangat mengerikan, karena begitu mudahnya tertular beragam penyakit dengan perantaraan uang kertas atau logam.
Kombinasi katun sebanyak 75 persen dan linen 25 persen yang membentuk uang kertas dolar AS telah terbukti memiliki pertumbuhan bakteri yang tinggi. Bahkan uang kertas AS bisa mengandung 10 mikroba bakteri per sentimeter persegi, lebih tinggi dari dolar Australia atau Selandia Baru.
Sebuah studi pada 2017 pada dolar AS yang beredar di New York menemukan DNA hewan peliharaan, jejak kokain, dan lebih dari seratus jenis bakteri yang berbeda dalam selembar uang kertas.
Rachel Graham, ahli epidemiologi di University of North Carolina mengatakan uang koin menularkan virus lebih baik daripada uang kertas. Pada dasarnya, semua jenis uang tunai adalah benda kotor karena terlalu banyak tangan yang telah menyentuhnya.
WHO menyarankan orang-orang untuk mencuci tangan setelah memegang uang tunai, karena virus corona dapat hidup pada permukaan uang selama beberapa hari. Tiongkok dan Korea Selatan sejak Februari sudah mendisinfeksi dan mengisolasi uang kertas terutama yang berasal dari rumah sakit.
Petugas menggunakan cahaya ultraviolet atau suhu tinggi untuk mensterilkan tagihan, menyegel dan menyimpan uang tunai selama 14 hari sebelum memungkinkan mereka kembali ke masyarakat.
Sementara uang rupiah, seperti yang dikutip dari indozone.id dari berbagai sumber, material pembuatan uang kertas rupiah adalah kapas.
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), Dr. Moh. Adib Khumaidi, SpOT seperti dikutip tasikmalaya.pikiran-rakyat.com mengatakan, transaksi menggunakan uang tunai memungkinkan untuk menularkan virus corona.
Sebuah penelitian telah membuktikan, bahwa virus corona dapat bertahan di benda seperti kertas dan logam selama 48 jam. Ia mengungkapkan penularan dari uang kertas kemungkinan bisa terjadi, namun risikonya memang tidak terlalu tinggi. Bukan hanya uang kertas saja, penelitian membuktikan di benda logam Covid-19 bisa bertahan 24-48 jam.
Oleh karena itu menurut Direktur Utama Bank Nagari, M. Irsyad, pihaknya menargetkan terjadi pertumbuhan sekitar 40 persen dalam layanan digital perbankan, agar penggunaan uang tunai jadi semakin sedikit.
Ia bersyukur, karena di tengah pandemi Covid-19, Bank Nagari telah punya banyak layanan digital. Nasabah jadi dimudahkan urusannya saat bertransaksi keuangan, terutama penggunaan QRIS yang mendapat sambutan antusias nasabah.
Bank Nagari juga melengkapi layanan digital dengan kehadiran aplikasi pengajuan kredit mikro, pembukaan rekening tabungan dan layanan perbankan lainnya.
Dengan demikian, nasabah tidak perlu lagi ke kantor Bank Nagari untuk mendapatkan layanan perbankan. Meningkatkan kualitas memang sudah menjadi komitmen Bank Nagari, demi memudahkan dan memanjakan nasabah.
Bank Nagari juga meningkatkan pelayanan pada pemerintahan provinsi, kabupaten/kota di Sumbar. Layanannya juga berupa aplikasi e-retribusi, untuk tata keuangan pemerintahan agar berjalan dengan baik dan transparan.
Terkait laba, Irsyad mengakui laba Bank Nagari tergerus sebagai dampak pandemi. Tapi Bank Nagari memiliki ketahanan yang cukup dengan memberikan bantalan pada kredit jika terjadi masalah, tanpa mengurangi estimasi laba untuk tahun 2020.
Estimasi laba Bank Nagari sampai Desember 2020 diperkirakan Rp300 miliar, meski estimasi di angka Rp275 miliar. Bank Nagari tetap optimis di masa pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir.
Bank Nagari juga telah menambahkan cadangan kerugian, sesuai regulasi lebih kurang Rp100 miliar. Jadi, ditotalkan tanpa dicadangkan Rp400 miliar.
Lebih sedikit dari pada yang diestimasikan jika tidak ada Covid-19. InsyaAllah bisa memberikan yang terbaik untuk pemegang saham.
Terkait nasabah yang terdampak akibat Pandemi Covid-19, telah dilakukan restrukturisasi kredit, program pun berjalan dengan baik. Kerjasama juga sudah dijalin dengan Pemprov Sumbar dan segera diikuti Pemkab/Pemko, untuk program kredit super mikro bersubdisi atau Simamak, dengan plafon maksimal Rp3 juta. Bagi pedagang kecil, program ini tentu akan banyak membantu.
Meski begitu, menurut Pemimpin Divisi Keuangan Bank Nagari, Azmi Febrian, dalam pemberian kredit Bank Nagari tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Jika ASN, maka urusannya jauh lebih gampang. Namun untuk nasabah umum, tetap seperti prosedur normal.
Pedagang juga dikover melalui penegasan pemerintah daerah, cukup membayar 2 persen dan sisanya lewat APBD. Ini salah satu kegiatan recovery ekonomi lewat perbankan terkhusus bank daerah. Bank Nagari memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM, dengan kemudahan akses, layanan digital, dan tidak sulit terkait persyaratan.
Bank Nagari juga memberikan edukasi penggunaan kredit dan kegiatan usaha dalam masa pandemi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Sumbar tetap berjalan.
Lalu bagaimana layanan Bank Nagari pada nasabah yang masih juga ingin layanan tatap muka. Mereka juga dilayani dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat. Nasabah akan disuruh cuci tangan dulu pakai sabun, lalu suhu diukur, dan wajib pakai masker.
Jika semuanya lolos, maka di dalam gedung Bank Nagari, nasabah harus patuh menjaga jarak, dengan duduk di tempat yang bebas dari tanda silang. Nasabah akan dibantu dengan cekatan, sesuai kebutuhannya masing-masing.
Semoga dengan kebersamaan menjaga dan menerapkan Prokes, Pandemi Covid-19 cepat berlalu, sehingga kehidupan kembali normal seperti semula. Maka dari itu, senantiasa perkuat iman, imun, sehingga semua menjadi aman terkendali. (*)












