Opini  

Sejahtera untuk Mereka, Sengsara untuk Kita

Oleh Subandi, S.H
Wartawan Singgalang / Topsatu.com

 

Mereka datang dengan jas rapi dan senyum penuh data. Di tangan mereka ada grafik berwarna, panah-panah yang selalu mengarah ke atas.

“Lihat,” kata mereka, “ekonomi kita tumbuh.” Seolah-olah kesejahteraan adalah soal siapa yang paling cepat berlari, bukan siapa yang masih berdiri ketika badai datang.

Mereka meminta kita percaya bahwa kesejahteraan hidup cukup diwakili oleh satu indikator: pertumbuhan ekonomi.

Tak perlu bertanya dari mana angka itu lahir. Tak perlu peduli hutan siapa yang ditebang, gunung siapa yang dibelah, sungai siapa yang dipersempit.

Yang penting grafik naik. Angka menanjak, kita dihadiahi tepuk tangan. Angka turun, rapat darurat digelar, kita dihujat.

Atas nama pertumbuhan itu, alam dipaksa bekerja lembur tanpa upah dan tanpa hak cuti. Hutan dijadikan tabel input, gunung direduksi menjadi cadangan bahan baku, sungai disulap menjadi saluran ambisi. Mereka menyebutnya investasi. Padahal itu hanya kerakusan yang lulus uji presentasi.

Baca Juga  Wajah Wisata Kota Padang dan Ancaman Premanisme yang Tak Boleh Diabaikan

Ironisnya, kita diajak ikut bangga. Bangga karena daerah kita disebut “kontributif”. Bangga karena sumber daya alam kita dianggap “produktif”.

Bangga karena tanah kita habis lebih cepat dari kesadaran kita sendiri. Kita dijanjikan lapangan kerja. Namun yang datang justru daftar penerima bantuan, barak pengungsian, dan statistik korban bencana.

Padahal menilai sejahtera ada ukuran lain yang sengaja dikecilkan suaranya: Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Ukuran yang seharusnya bicara tentang manusia—tentang umur panjang yang sehat, pendidikan yang memerdekakan, serta hidup yang layak dan bermartabat.

Namun IPM tak cukup sensasional bagi mereka. Ia tak bisa dipercepat dengan menebang hutan semalam, Tak bisa melonjak hanya dengan menguras perut bumi.

Mereka lebih menyukai angka yang cepat naik, meski harus dibayar dengan sekolah yang rusak, layanan kesehatan yang timpang, dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ancaman bencana.

Apa artinya ekonomi tumbuh jika anak-anak kita belajar di bawah terpal? Apa makna investasi jika kesehatan dikorbankan dan lingkungan diwariskan kepada anak cucu dalam keadaan sekarat?

Baca Juga  El Nino Segera Tiba, Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

Mereka menghitung untung di ruang berpendingin udara. Kita menghitung kehilangan di rumah yang tersisa separuh.

Mereka bicara triliunan. Kita bicara tentang sawah yang hilang, air bersih yang tercemar, dan masa depan yang kian rapuh.

Saat banjir bandang datang, grafik pertumbuhan tak bisa menjadi pelampung. Saat longsor menutup jalan dan melanda, angka-angka itu tak mampu menyelamatkan kita.

Mereka menyebutnya kemajuan, padahal yang maju hanyalah kerusakan. Mereka menyebutnya kesejahteraan, padahal yang sejahtera hanya segelintir. Sudah waktunya kita berhenti menyembah angka yang merusak keberlanjutan hidup.

Sudah waktunya kesejahteraan dikembalikan pada maknanya: manusia yang sehat, terdidik, aman, dan hidup selaras dengan alam.

Karena negeri yang benar-benar tumbuh bukanlah negeri yang rakus menghabiskan, melainkan yang adil merawat. (***)