Opini  

Roehana Koeddoes, Perempuan yang Melampaui Zamannya

Roehana Koeddoes

Pahlawan sejati tak perlu validasi. Pahlawan sejati berjuang tanpa menunggu apresiasi dan puja puji. Ia hanya perlu niat tulus dari setiap langkah yang dijalani. Hingga waktu yang mengakui bahwa jejaknya telah menanam benih harapan dan perubahan yang nyata bagi orang-orang yang mau mengambil inspirasi.

Ia adalah Roehana Koeddoes, sosok perempuan Minang yang seolah menembus zamannya. Zaman di mana orang-orang masih takut bersuara, pendidikan bukan yang utama dan ketidaklaziman perempuan untuk tampil di ruang publik. Namun, Roehana membuka ruang, tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi perempuan-perempuan di sekitarnya untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan yang lebih baik. Ia melawan cemooh dengan pembuktian diri bahwa perempuan juga mampu dan berdaya bila diberi ruang.

Kiprah Roehana meninggalkan jejak sejarah yang nyata dan spirit yang nyaris tak pernah mati. Spirit yang sama masih terasa pada setiap aktifitas di Gedung Yayasan Amai Setia yang didirikannya di tahun 1911. Raga Roehana Koeddoes mungkin telah pergi, tapi ruhnya masih terus hidup, tak hanya di Koto Gadang, kampung halamannya, tapi juga bagi masyarakat Indonesia terutama perempuan.

Jejak perjuangannya tak pernah berhenti. Semasa hidup, ia berjuang untuk kemajuan perempuan dan menyampaikan pikiran-pikirannya melalui tulisan di surat kabar. Perjuangannya, seperti dikatakan Najwa Shihab saat diskusi tentang Tiga Wajah Roehana Koeddoes di IDN Times, 8 Februari 2026 lalu, masih sangat relevan dengan kondisi kekinian, yakni kemandirian ekonomi perempuan, literasi dan pendidikan.

Namun, bukti perjuangannya itu tak serta merta diakui. Namanya pun dulu banyak tak dikenali oleh masyarakat Indonesia, bahkan oleh jurnalis sendiri. Nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanannya bahkan harus ditempuh dengan waktu yang tak sebentar. Usulan untuk memperjuangkan Roehana Koeddoes sebagai pahlawan nasional telah muncul dari lembaga perempuan Sumatera Barat, Bundo Kanduang sejak tahun 2015. Namun, secara resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengajukan ke Kementerian Sosial pada tahun 2017.

Baca Juga  Ketika Ucapan Menjadi Kuasa : Membaca Tindak Tutur Anggota Dewan Dalam Sudut Pandang Filsafat Bahasa

Setelah sempat dua kali gagal diajukan sebagai pahlawan nasional, perjuangannya baru diakui oleh pemerintah secara resmi pada tahun 2019. Roehana Koeddoes diumumkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional asal Kabupaten Agam oleh Presiden Joko Widodo yang ditetapkan melalui Surat Menteri Sosial RI nomor: 23/MS/A/09/2019. Sebenarnya di era Orde Baru, Roehana Koeddoes telah menerima penghargaan sebagai wartawati pertama Indonesia tahun 1974. Penghargaan itu diberikan pada Hari Pers Nasional ke-3 tanggal 9 Februari 1987 oleh Menteri Penerangan Harmoko kala itu. Roehana dianugerahi sebagai Perintis Pers Indonesia.

Roehana Koeddoes, yang lahir dengan nama Siti Roehana pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Hidup di masa ketika akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas, Roehana justru tampil sebagai pelopor pendidikan, jurnalisme, dan pemberdayaan kaum perempuan.

Sejak usia muda, Roehana menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia pendidikan. Meski tidak mengenyam pendidikan formal secara utuh, ia belajar secara otodidak dan aktif mendorong anak-anak seusianya untuk gemar membaca. Semangat itulah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Yayasan Amai Setia pada 1911 di Koto Gadang. Lembaga ini bertujuan memberdayakan perempuan melalui pendidikan, mulai dari pengajaran bahasa Arab hingga keterampilan menjahit dan kerajinan tangan. Sekolah kerajinan ini menjadi tonggak penting dalam membuka akses keterampilan ekonomi bagi perempuan Minangkabau.

Kiprah Roehana di dunia jurnalistik dimulai sejak ia menulis untuk beberapa surat kabar. Pada 10 Juli 1912 ketika ia bersama Zubaidah Ratna Juita mendirikan surat kabar perempuan pertama di Indonesia, Soenting Melajoe. Ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi dan memimpin media tersebut hingga 1920.

Soenting Melajoe terbit di Padang dan menjadi surat kabar pertama yang seluruh jajaran redaksi serta penulisnya adalah perempuan. Cakupan peredarannya tidak hanya di Minangkabau, tetapi juga menjangkau Medan, Pekanbaru, Batavia, Malaka, hingga Singapura. Melalui media ini, Roehana menyuarakan pentingnya pendidikan, kesetaraan perempuan, serta semangat kebangsaan di tengah tekanan kolonial Belanda.

Baca Juga  Listrik Padam Bergilir, Bisakah Menuntut PLN?

Ia dikenal sebagai perempuan Indonesia pertama yang secara sadar memposisikan dirinya sebagai jurnalis profesional, meliput, menulis, sekaligus memimpin redaksi. Tulisannya kerap membangkitkan kesadaran dan semangat perjuangan.

Pada 1916, Roehana mendirikan Roehana School di Bukittinggi serta menjadi agen mesin jahit Singer untuk membantu perempuan Minang memperoleh keterampilan menjahit dan bordir. Baginya, pendidikan dan kemandirian ekonomi adalah jalan pembebasan perempuan.

Pada 1921, ia pindah ke Medan dan mengajar di Sekolah “Dharma” Lubuk Pakam serta di Medan. Di kota ini pula ia memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Hingga 1924, ia terus aktif mengajar dan menulis sebelum kembali ke Koto Gadang.

Sekembalinya ke Sumatera Barat, Roehana mengajar di Sekolah Vereeniging Studiefonds Minangkabau (VSM) Fort de Kock Bukittinggi dan menjadi koresponden tetap sejumlah surat kabar seperti Dagblad Radio dan Tjahaja Soematra. Ia tidak hanya aktif di bidang pendidikan dan jurnalistik, tetapi juga terlibat dalam gerakan sosial dan perjuangan kemerdekaan. Bahkan, ia disebut turut membantu pergerakan melalui dukungan logistik dan gagasan strategis bagi para pejuang.

Roehana wafat di Jakarta pada 16 Agustus 1972 dan dimakamkan di Karet Bivak sehari kemudian. Hingga akhir hayatnya, ia tetap dikenang sebagai perempuan yang mengabdikan hidupnya bagi pendidikan, pers, dan kemajuan perempuan Indonesia.

Roehana Koeddoes bukan sekadar wartawati pertama Indonesia. Ia adalah simbol keberanian perempuan untuk berpikir, bersuara, dan bertindak di tengah keterbatasan zaman. Warisannya bukan hanya sekolah dan surat kabar, tetapi juga kesadaran bahwa perempuan memiliki hak dan kemampuan yang setara dalam membangun bangsa. (Melda Riani)