Pulang

Oleh: Dr Gamawan Fauzi

Oleh: Dr Gamawan Fauzi,(ist)

Ketika digelar pameran lukisan di Taman Budaya Sumatera Barat 2007 atau 2008 lalu, saya membeli sebuah lukisan kecil dengan judul, PULANG.

Gambar pada lukisan itu memunculkan seorang wanita muda sedang menggendong anaknya yang masih kecil pada jalan setapak bertanah merah di bawah naungan sebatang pohon rindang yang sepi. Ia terlihat menjinjing sebuah tas besar.

Pikiran saya berkelana kemana- mana. Mungkin wanita muda ini sedang menuju rumah orang tuanya karena suaminya meninggal, atau ditinggal suaminya atau meninggalkan suaminya dan minggat ke rumah orang tuanya.

Pulang, bisa juga ke kampung halaman, rindu ketemu dengan ibu, ayah, kerabat, teman dan bertualang dengan pikiran masa lalu, tepian tempat mandi, sawah ladang, tempat bermain dan sebagainya yang membangkitkan kenangan indah dan kadang juga gundah.

Saya sengaja tak bertanya pada sang pelukis apa yang ingin dikatakan dengan lukisan bertulis Pulang itu, agar lukisan itu tetap menjadi sebuah imajinasi yang bisa mengembara kemana mana.

Makna Pulang

Pulang….adalah kata yang belum sempurna tanpa disambung dengan kata atau kalimat lain yang menunjukkan arah kemana.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia KBBI, pulang adalah kata kerja ( verba ) , yang bermakna pergi ke rumah atau tempat asalnya.

Tapi Pulang dalam arti sebenarnya bagi saya, adalah berakhirnya segala aktivitas dunia dan kemudian kita menetap di alam lain sebelum kita menetap di suatu tempat yang bernama akhirat, di surga atau neraka.

Setiap kita pasti akan pulang.

Manusia sesuci dan semulia para nabi dan rasul sudah duluan pulang.

Sekuasa para raja juga akan pulang. Sehebat dan sebesar apapun para pemimpin dunia, akan pulang.
Sekaya triliuner dengan harta melimpah ruah sekalipun pasti akan pulang.

Secerdik dan sepintar apapun pemikir, penemu ilmu pengetahuan juga akan pulang, Bahkan semiskin, sehina, sesusah apapun kehidupan keduniaan kita juga tetap pulang.

“Kulunafsin za ikatul maut, summa ilaina turjaun,” kata Allah dalam Alquran.

Dalam kehidupan umat manusia, yang dalam catatat statistik pernah saya baca, manusia yang pernah bernafas di muka bumi hingga saat ini lebih dari 102,8 miliar, dan sebagian besar sudah pulang. tinggal sekitar 8 miliar manusia yang kini sedang hidup dan mendiami bumi. Saya tak tahu berapa manusia lagi yang akan datang hingga bumi ini digulung Pemiliknya.

Konon manusia pertama yang ada di muka bumi menurut Prof. Quraisy Shihab ( Membumikan Alquran ) yaitu 100.000 tahun yang lalu, sementara usia bumi menurut ahli, yang diteliti dari batu batu tertua di bumi adalah
sekitar4,6 biliun tahun, sedangkan usia alam semesta diperkiakan berusia 10 sd 15 biliun tahun.

Dalam masa 100.000 tahun itu, ada manusia yang lahir, hidup dan lalu pulang tak banyak diketahui orang lain karena tinggalnya jauh di kaki gunung yang sepi, di pinggir pinggir hutan dan di pulau pulai terpencil. Dia tak ingin di kenal, apalagi terkenal.

Dia menikmati hidup apa adanya, dia datang, kemudian pulang. Itu saja.

Tapi ada manusia, yang sejak lahirnya sudah ditunggu banyak orang, dihitung-hitung masa hamil ibunya, dirayakan 4 bulanannya, tujuh bulanannya dengan pesta meriah, diberitakan di televisi , di koran dan media sosial, whatshaap, heboh group group WA, instagram dan facebook, karena dia anak raja dan calon raja pula kelak.

Atau dia anak sosok yang terkenal, namanya menghiasi laman-laman berita media. Dia selalu jadi sorotan entah karena apalah.

Ada juga orang yang saat pulangnya membuat gempar pemberitaan, bisa karena dia tokoh besar, banyak jasanya, banyak hartanya, luar biasa karyanya atau pemikirannya seperti Plato, Socrates, Descrates, Imanuel Kant, John Locke dan banyak lagi yang lain seperti para penemu lampu, pesawat terbang, listrik dan lan lain, atau juga penjahat sekelas mafia Columbia , Pablo Escobar terkenal, hingga di filmkan setelah dia pulang. Sayangnya dia tak sempat menonton film itu.

Di Italia juga terkenal banyak mafia yang bengis, seperti Cosa Nostra (Sicilia ), Camorra ( Naples ), Ndrangheta ( Colabria ), dan Sacra Corona Unita (Puglia).

Ada masyarakat yang menangis saat seseorang pulang, dan publik benar-benar berduka dibuatnya, tapi ada juga yang justru membuat masyarakat lega, karena bebas dari ancamannya karena perangainya yang ” Cingkahak “.

Dan, ada juga yang biasa-biasa saja, alakadarnya, tak menonjol, rata-rata air, tak ditulis oleh buku dan tak ada filmnya atau beritanya di media. Inilah yang banyak menghuni kehidupan manusia sebelum pulang. Mereka tidak dijumpai dalam buku sejarah, biografi atau otobiografi.

Lalu apakah orang orang ini, bukan orang besar ? Mungkin iya di mata manusia.

Tapi, buya Hamka mengatakan. Orang besar, adalah orang yang namanya, lebih panjang dari usianya.

Memang manusia itu berbagai ragam dalam kehidupanya menjelang dia pulang dalam waktu yang pendek .
Mark Twin mengatakan, manusia tidaklah sama dan tidak akan menjadi sama dan hidup adalah pilihan diantara Khazanah Allah yang Maha Kaya.

Cara Pulang

PULANG dalam pengertian yang terakhir ini, adalah ditutupnya lembaran hidup manusia di dunia dan memasuki alam baru yang penuh misteri/ ghaib.

Setiap agama ( kepercayaan ), memiliki keyakinan dan ajaran yang berbeda-beda tentang kehidupan setelah pulang.
Tentu saja ada juga yang percaya dan ada yang tidak, terutama mereka yang tak beragama ( atheis ) atau yang tak percaya adanya tuhan, tak percaya ada kehidupan sesudah mati dan tak percaya dengan agama sebagai ajaran dan tuntunan hidup dunia dan juga untuk persiapan Pulang.

Karena itu, pulang Itu hanya bisa diyakini dengan iman. Tanpa iman makna pulang adalah sekadar berakhirnya hidup, seperti diyakini oleh mereka yang berpaham atheis, yang berpendapat, kehidupan hanya ada dunia.

Kini muncul istilah baru yang namanya Agnistik, artinya kami tidak tahu, belum cukup bukti untuk kami percaya adanya tuhan itu.

Tapi yang juga fenomenal adalah cara Pulang. Saya pernah menonton sebuah film lama dengan judul Seribu Wajah Kematian, yang menggambarkan bagaimana bentuk-bentuk akhir kehidupan manusia, yang kemudian bergeser menjadi bangkai yang tak berharga, lalu dibenam, dibakar yang abunya di hanyutkan ke laut lepas sebagai langkah awal menuju perjalanan pulang bagi manusia yang percaya ada kehidupan lain setelah mati.

Tapi entah kemana pulangnya sesudah itu ? Hanya Allah yang tau, manusia diberikan sedikit “bocoran ” saja, kembali dalam genggamanNya.

Kita tak punya orang yang akan bersaksi dan tempat bertanya, karena belum ada yang pernah kembali setelah pulang.

Tapi sebelum kita dulu ada, dimana kita saat itu ? Kita juga tak tahu. Tapi, kini kita tiba-tiba ada dan terus saja ada yang baru tiba ,entah dari mana pula dia sebelumnya.

Banyak manusia yang mencoba menggali dengan pikirannya tentang asal-usul manusia dan kepulangannya, namanya filosof, orang yang berfilsafat, berpikir mendalam berlandaskan ilmu pengetahuan tentang sesuatu, tapi semuanya tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan dan meyakinkan, paling paling tepi tepinya saja, belum substansinya, seperti dikatakan Alexis Carrel, seorang ilmuwan Prancis, peraih dua kali Nobel(1873-1944 ), dalam bukunya ” Man The Unknown ” , manusia adalah makhluk yang belum dikenal. Para ilmuwan dan filosof banyak menjelaskan manusia dari satu sisi saja. Antara lain mengatakan, manusia adalah makhluk sosial, binatang cerdas yang menyusui, makhluk bertanggungjawab, makhluk pembaca dan makhluk tertawa.

Sementara Deskrates, seorang filosof mengatakan, “saya ada karena saya berpikir.” Itu katanya, tapi tak seorangpun menjawab, kenapa kita ada dan lalu kemana lagi kita sesudah ada ( PULANG ), kemana kita Pulang?

Setiap kita pasti akan pulang, masa yang di erat oleh detik dan menit, pastilah akan berakhir, betapapun panjangnya, tapi ada yang peduli dan ada yang tidak mau tahu. Ada yang benar-benar menyiapkan diri untuk pulang dengan amal dan ibadah.

Tiap waktu dia ingat pulang, dia selalu mengingat Tuhan tempat dia pulang, dia beribadah dan bermal sungguh-sungguh, dia hindari dosa dengan imannya dan dia tak tertarik benar dengan dunia, dia menganggap dunia sekadarnya saja. Dia yakin dengan ajaran agamanya, wamal hayatud dunya illa mathaul ghurur. Tidaklah kehidunia ini melainkan kesenangan yang menipu.

Tapi ada juga yang sebaliknya, dia kejar benar dunia, dia buru habis-habisan siang dan malam. Tak peduli dengan cara apapun. Yang

Penting dapat. Tapi, ada juga yang biasa biasa saja, diseimbangkannya dunia dengan akhirat.

Saat-saat menjelang pulang pun beragam sikap manusia. Ada yang tak peduli, ‘dima tumbuah disinan di siang,’ katanya. Tapi, ada juga yang takut, dia bukan takut pulangnya, tapi takut bagaimana sesudah pulangnya.

Namun, banyak pula manusia gembira ketika hendak pulang, banyak kisak menarik dari peristiwa ini. Sayyiduna Ali ra ditikam dan menjelang berangkat pulang , beliau berucap, “Demi Tuhan pemilik Ka’ bah, aku sudah beruntung memperoleh kebahagiaan.”

Dan ketika Bilal bin Rabah dekat dengan kepulangannya, beliau tersenyum sambil berkata, “besok aku akan ketemu para kekasih”.

Kini, lukisan berjudul Pulang itu selalu saya pelihara dengan baik. Saya bersihkan dari debu, saya lap figuranya dan saya pandang- pandang setiap hari, untuk mengingatkan saya, tak lama lagi saya juga akan pulang, agar punya bekal yang banyak di sana, di tempat saya pulang, ketempat keabadian yang penuh tanya.

Ternyata waktu sebelum pulang amatlah pendek dibadingkan masa setelah pulang. Rasanya baru kemarin saya bermain saat kanak-kanak di desa dingin ini. Kini pengembaraan saya tinggal sejengkal menjelang pulang.

Teman saya Alwi Karmena mengatakan, sayup-sayup mulai terdengar bunyi kereta yang akan membawa ke stasiun terakhir, yang akan mengakhiri semua drama kehidupan, fitnah, ghibah, dan berbagai bentuk drama dunia.

Wamalhayatud dun ya, illa lai’bu walah wu. Tidaklah kehidupan dunia melainkan permainan dan senda gurau.

Alahan Panjang, 26 Juni 2022
Penulis adalah pemerhati sosial.