Pulang

Oleh: Dr Gamawan Fauzi

Oleh: Dr Gamawan Fauzi,(ist)

Kita tak punya orang yang akan bersaksi dan tempat bertanya, karena belum ada yang pernah kembali setelah pulang.

Tapi sebelum kita dulu ada, dimana kita saat itu ? Kita juga tak tahu. Tapi, kini kita tiba-tiba ada dan terus saja ada yang baru tiba ,entah dari mana pula dia sebelumnya.

Banyak manusia yang mencoba menggali dengan pikirannya tentang asal-usul manusia dan kepulangannya, namanya filosof, orang yang berfilsafat, berpikir mendalam berlandaskan ilmu pengetahuan tentang sesuatu, tapi semuanya tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan dan meyakinkan, paling paling tepi tepinya saja, belum substansinya, seperti dikatakan Alexis Carrel, seorang ilmuwan Prancis, peraih dua kali Nobel(1873-1944 ), dalam bukunya ” Man The Unknown ” , manusia adalah makhluk yang belum dikenal. Para ilmuwan dan filosof banyak menjelaskan manusia dari satu sisi saja. Antara lain mengatakan, manusia adalah makhluk sosial, binatang cerdas yang menyusui, makhluk bertanggungjawab, makhluk pembaca dan makhluk tertawa.

Sementara Deskrates, seorang filosof mengatakan, “saya ada karena saya berpikir.” Itu katanya, tapi tak seorangpun menjawab, kenapa kita ada dan lalu kemana lagi kita sesudah ada ( PULANG ), kemana kita Pulang?

Setiap kita pasti akan pulang, masa yang di erat oleh detik dan menit, pastilah akan berakhir, betapapun panjangnya, tapi ada yang peduli dan ada yang tidak mau tahu. Ada yang benar-benar menyiapkan diri untuk pulang dengan amal dan ibadah.

Tiap waktu dia ingat pulang, dia selalu mengingat Tuhan tempat dia pulang, dia beribadah dan bermal sungguh-sungguh, dia hindari dosa dengan imannya dan dia tak tertarik benar dengan dunia, dia menganggap dunia sekadarnya saja. Dia yakin dengan ajaran agamanya, wamal hayatud dunya illa mathaul ghurur. Tidaklah kehidunia ini melainkan kesenangan yang menipu.

Tapi ada juga yang sebaliknya, dia kejar benar dunia, dia buru habis-habisan siang dan malam. Tak peduli dengan cara apapun. Yang

Penting dapat. Tapi, ada juga yang biasa biasa saja, diseimbangkannya dunia dengan akhirat.

Saat-saat menjelang pulang pun beragam sikap manusia. Ada yang tak peduli, ‘dima tumbuah disinan di siang,’ katanya. Tapi, ada juga yang takut, dia bukan takut pulangnya, tapi takut bagaimana sesudah pulangnya.

Namun, banyak pula manusia gembira ketika hendak pulang, banyak kisak menarik dari peristiwa ini. Sayyiduna Ali ra ditikam dan menjelang berangkat pulang , beliau berucap, “Demi Tuhan pemilik Ka’ bah, aku sudah beruntung memperoleh kebahagiaan.”

Dan ketika Bilal bin Rabah dekat dengan kepulangannya, beliau tersenyum sambil berkata, “besok aku akan ketemu para kekasih”.