JAKARTA – Dibanding 30 tahun lalu, proses produksi berita audio visual (AV) jurnalistik sekarang ini sudah sangat simpel. Bermodal smartphone dan aplikasinya, setiap orang bisa menjadi reporter atau produser konten.
Hal itu diungkapkan wartawan TV senior, Jamalul Insan saat mengisi kelas daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025 batch 2, Kamis (4/9).
“Dulu tahun 95, proses untuk memproduksi berita AV panjang prosedurnya. Gambar dari kameramen dicek, kemudian sampai ke editor hingga dubbing di ruang kedap suara. Sekarang tidak lagi, dan sangat simpel,” kata Jamalul yang juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pers ini.
Dia mengatakan, untuk memproduksi berita atau konten AV jurnalistik bisa dilakukan dengan modal smartphone, dan editing bisa juga menggunakan laptop.
“Dubbing juga tak perlu pakai ruang kedap suara, karena mic sekarang juga sudah bagus,” katanya.
Dengan semakin simpelnya proses produksi berita atau konten AV jurnalistik, menurut Jamalul setiap orang punya kesempatan menjadi reporter atau produser konten. Walau demikian, kode etik jurnalistik tetap harus dikedepankan.
Setelah selesai memproduksi berita atau konten AV jurnalistik, tempat penayangannya juga sangat mudah, yaitu bisa lewat platform atau media sosial.
“Kini penontonnya juga sudah mencakup global,” katanya.
Walau banyak kemudahan dalam memproduksi berita atau konten AV jurnalistik, menurut Jamalul, dalam hal ini tantangan tetap ada dan ada etika yang harus dipatuhi.
“Etika tetap berlaku, baik untuk akurasi, objektivitas dan verifikasi. Walau mengikuti perkembangan, tapi kita harus tetap disiplin verifikasi,” ujar mantan jurnalis RCTI ini.
Kemudian, tantangan dalam memproduksi berita atau konten AV jurnalistik ini, yaitu clickbait versus kredibilitas, disinformasi hingga polarisasi opini dan deepfake (teknologi manipulasi video dan audio yang menggunakan kecerdasan buatan).
Jamalul juga membagi tips sukses dalam memproduksi berita atau konten AV jurnalistik, yaitu kenali audiens digital, gunakan narasi visual yang kuat, fokus pada fakta bukan sensasi, produksi cepat tapi akurat dan gunakan gaya relevan.
Seperti diketahui, kelas daring JFC 2025 batch 2 ini diikuti sebanyak 13 wartawan dari berbagai media nasional dan lokal. Kegiatan ini merupakan program pelatihan jurnalistik yang terlaksana atas kerjasama PT Tower Bersama Infrastructure dan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan. (wy)












