Pemprov Sumbar Dorong Usaha Kecil Menengah Sumbar Terus Tumbuh

Gubernur Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. (*)

“Dapur kita sudah lolos dari izin Badan Penawasan Obat dan Makanan (BPOM) termasuk label halal,”sebutnya.

Dedi berharap usahanya tidak maju sendiri, Rendang Gadih diikuti UKM lainnya di Payakumbuh. Untuk itu, Rendang Gadih juga ikut membimbing sejumlah UKM Randang di Payakumbuh.

“Karena ke depan kita berharap produksi kita tidak lagi kecil, kita cukup drop dalam jumlah besar,”katanya.

Diakuinya, untuk memproduksi Rendang Gadih, usahanya masih punya kendala keterbatasan daging segar. Selain harga yang lebih mahal di Sumbar, jumlahnya juga terbatas.

“Kita harap ini juga ada solusinya nanti,”ulasnya.

Rendang Gadih selama ini sudah memproduksi sejumlah varian pilihan randang. Diantaranya, randang suir yang dibandrol Rp50 ribu/300 gram, randang iris dan randang paru Rp79 ribu/250 gram, randang jengkol Rp59 ribu/300 gram dan randang tumbuk Rp84 ribu/250 gram.

Tenun
Selain sentra randang, Kota Payakumbuh juga memilik sentra tenun. Kelompok Usaha Sentra Tenun Balai Panjang, Payakumbuh Selatan. Khusus untuk UKM tenun ini sekarang sudah memiliki 35 pengrajin. Setidaknya menghasilkan 40 sampai 50 potong tenunan dalam satu bulan.

Bahkan, hasil Tenun Balai Panjang sudah memiliki pasar sendiri. Biasanya hasil tenun Balai Panjang dijual pada penampung di Padang Panjang dan Bukittinggi, kini hasil tenun pengrajin Balai Panjang sudah ada yang memesan langsung.

“Syukurlah sekarang sudah ada yang memesan langsung. Kita juga sudah punya pasarnya,”sebut Ketua Kelompok Usaha Sentra Tenun Balai Panjang Efendi, kemarin.

Perajin tenun Balai Panjang, Payakumbuh sedang mengayam benang untuk dibuat tenun bahan baju, Selasa (18/6). (yose)

Dikatakannya, untuk kualitas hasil tenun Balai Panjang tidak berbeda dengan hasil tenun yang ada di Sumbar pada umumnya. Hanya saja, Balai Panjang lebih mengutamakan motif yang lahir di Payakumbuh, seperti motif saik galamai, itiak tabang dan bungo kumbuh.