Opini  

Merawat Ekosistem Kelapa, Ada Sambu Group untuk Indonesia

 Oleh Gusnaldi Saman/ Wartawan www.topsatu.com

DIA tak pernah menyebut dirinya sebagai petani kelapa, tapi lebih pada orang yang terus berupaya untuk memelihara, merawat, dan menyelamatkan agar tanaman tua itu selalu terjaga. Dialah Syamsia (60), warga Nagari Talaok Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

“Belum lahir saya, sebagian tanaman kelapa di lahan ini sudah ada. Artinya, sejak lama, tanaman keras ini telah memberikan banyak arti dalam warna-warni kehidupan keluarga kami,” sebut Syamsia, nenek yang sudah punya banyak cucu dari empat anak ini.

Dalam lelah, perempuan yang sudah mulai ringkih itu, pada sepotong siang, Minggu (06/11/2022), masih saja terlihat kuat membantu mengumpulkan biji kelapa satu persatu, yang telah diturunkan beruk dari pohonnya. Buah kelapa itu ditumpuk pada satu titik, sebelum dikupas, dan dibawa oleh pedagang pengumpul. Lumayan banyak, seratusan lebih.

Ada beberapa hektare lahan miliknya, tapi bukan hanya ditanami kelapa. Banyak tanaman tumpang sari seperti ubi kayu, ubi jalar, pisang dan lainnya. Ada juga tanaman tua seperti mangga, rambutan dan pala, hanya beberapa batang. Yang jelas, ratusan tanaman pohon kelapa yang rata-rata sudah menjulang tinggi tersebut, seperti terlihat berwibawa melindungi tanaman lain yang ada di lahan tersebut.

“Kelapa ini selalu menjadi penopang ketika tanaman muda yang ada di sekitarnya kurang menghasilkan. Sementara, kelapa hasilnya selalu stabil, tak perlu perawatan dan tidak menyusahkan tentunya. Makanya ketika ada anak saya yang ingin menebangnya, karena dianggap tanaman yang tidak produktif lagi, saya bersikeras melarangnya,” sebut Syamsia, bercerita kepada Topsatu.com, karena katanya, pada suatu ketika ada anaknya yang ingin menebang beberapa pohon kelapa di lahan yang telah menghidupi mereka, tentunya.

Namun kala itu, menurut Syamsia, dia tetap berusaha meyakinkan anaknya agar mengurungkan niatnya untuk tidak menebang pohon kelapa warisan keluarganya tersebut. Katanya, silahkan mengolah lahan dimaksud dan menanam apa saja, sepanjang tidak menebang pohon kelapa.

Sementara, siang mulai rebah. Sebentar lagi Ashar. Syamsia memandang jauh, melihat tarian daun kelapa, berayun-ayun gemulai dibelai angin, nun jauh tinggi di puncak sana, sedikit mendinginkan hatinya. Jangan ada lagi niat dari anaknya, keluarganya, siapa saja, yang ingin menebang pohon kelapa itu.

Dalam hatinya, mungkin, ada kata-kata seperti ini, “Semoga kelapa itu akan selalu ada di sini, kendatipun kita tak ada lagi.”

Dan, Syamsia pun masuk rumah. Tak jauh dari tempatnya semula mengumpukan kelapa.

Ya, cerita tentang keinginan banyak generasi hari ini ingin menebang pohon kelapa, bukan saja dialami Syamsia, tapi juga diceritakan Heri Martoni, tokoh muda asal Padang Pariaman, salah satu daerah penghasil kelapa di Sumatera Barat, sama dengan daerah Pesisir Selatan.

Menurut Heri, saat ini banyak warga di kampungnya yang hanya diiming-imingi Rp300-Rp400 ribu, sudah kepincut mau menebang tanaman kelapanya. “Sekalipun batangnya sudah tinggi, umurnya sudah tua, tapi kan tetap masih berbuah, menghasilkan,” ujarnya kepada topsatu.com, Kamis (10/11/2022).

Katanya, kendatipun di tingkat petani harga masih rendah, berkisar Rp1.200 hingga Rp2.600 per butirnya, kiranya generasi hari ini tetaplah bersyukur bisa memetik hasilnya. Terlebih, mereka tak pernah tahu entah kakek atau buyutnya yang mana, yang menanamnya dulu. “Sekarang mau menebang, seenak perutnya saja itu namanya,” katanya.

Kalaulah tidak bisa menambah pohon tua itu lebih banyak, masa iya memelihara yang ada saja tidak bisa.

Makanya, Heri minta kepada masyarakat yang punya tanaman kelapa, tetaplah dipertahankan. Jangan begitu mudah hendak menebang. Karena adakalanya, tanaman kelapa itulah yang ikut menyelamatkan ekonomi keluarga.

“Peremajaan boleh saja, tapi harus betul-betul dikaji dengan matang. Perlu melibatkan instansi pemerintah terkait dan pihak berkompeten lainnya. Soalnya, ini akan menamatkan riwayat tanaman yang sudah berusia puluhan tahun, lalu dihabisi, ditebang,” ucapnya.

Bukan apa-apa, sambungnya, di kampungnya ada warga yang kepincut beralih berusaha menanam tanam lain dengan terlebih dahulu menebang banyak pohon kelapa. Apa yang terjadi sesudahnya, pohon kelapa habis, tanaman lain yang diupayakan seperti sawit pun tak tumbuh baik di lahan tersebut. “Sawit dihabisi lagi, kini lagi nanam pepaya dan belum tentu pula akan berhasil. Artinya, sekali lagi, memang perlu kajian yang akurat bila hendak beralih tanam kelapa yang sudah banyak memberikan kontribusi ekonomi sejak lama tersebut,” ucap Heri.

Merawat Ekosistem Kelapa

Kelapa itu tanaman tua yang hebat. Bermanfaat semuanya. Seorang  Prof. Dr FG Winarno dalam bukunya “Kelapa Pohon Kehidupan”, menyebutkan, sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia mampu bertahan hidup sehat, serta menikmati kehidupannya dari dan dengan kelapa. Begitu banyak anggota masyarakat Indonesia, berhasil dalam karier hidupnya dalam masyarakat, karena kontribusi kelapa, kopra, atau produk lain yang bebasis kelapa.

Tidak terlalu berlebihan, kalau masyarakat Indonesia berutang budi pada kelapa. “Darah dan daging kita bangsa Indonesia, sangat tergantung pada jasa kelapa. Namun demikian, hingga saat ini, Indonesia tidak memainkan peran yang nyata di bidang pemasaran dan industri perkelapaan dunia,” tulis Winarno dalam bukunya tersebut.

Ya, karena begitu dahsyatnya komoditi yang satu ini, kini yang pasti, bagaimana  merawat ekosistem kelapa itu agar selalu terjaga. Berkelanjutan. Tak penting ekosistem itu muncul dari tanaman rakyat atau yang terhampar di lahan luas yang digarap pihak ketiga, inti atau plasma, sepanjang muaranya ada pada keberlanjutan tanaman kelapa tersebut.

Bukan apa-apa, di beberapa daerah sentra kelapa di Sumbar, misalnya, seperti Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Mentawai, rata-rata hanyalah kelapa rakyat, yang diwarisi masyarakat dari moyangnya, sejak lama. Jangan bayangkan kebun kelapa di hamparan luas, sejauh-jauh mata memandang.

Bila dilihat produksi kelapa di Sumbar dalam catatan BPS pada 2020, misalnya, yang mencapai angka 78. 348 ton per tahun, tentunya didominasi kelapa rakyat. “Dan, ekosistem kelapa rakyat inilah yang mesti diselamatkan,” ujar Koordinator Wilayah (Korwil) Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Provinsi Sumatera Barat, Nurkhalis.

Kepada Topsatu.com, Sabtu (12/11/2022), dia menyebutkan,  kelapa merupakan tabungan tanaman tua yang tidak hanya bermanfaat untuk generasi hari ini, tapi jauh ke depan hingga anak cucu kelak. Katanya, saat ekonomi lain macet, tak jarang bagi rakyat yang punya tanaman kelapa, dimana komoditi tersebut menjadi penyelamat ekonomi mereka.

“Artinya, bagi kita generasi hari ini, jangan terlalu mudah tebang-menebang saja,” sebutnya.

Namun demikian, Nurkhalis tokoh yang gigih dalam pemberdayaan petani ini, tak menutup mata akan pentingnya peremajaan tanaman  kelapa dimaksud guna menjaga ekosistem perekelapaan itu sendiri.

Untuk itu, sambungnya, perlu pemetaan lahan-lahan pekebunan rakyat yang mana saja, yang mendesak untuk diremajakan. Ini perlu kajian oleh pihak-pihak terkait, termasuk pentingnya campur tangan pemerintah.

“Apakah peremajaan bisa dilakukan tanpa terlebih dahulu harus menebang tanaman kelapa yang sudah ada, ini sangat perlu jadi perhatian. Begitu juga soal bibit hingga pemeliharaan, kiranya juga harus mendapat perhatian pemerintah, dan pihak ketiga yang konsen dengan perkelapaan ini,” ujarnya.

Baca Juga  Pentingnya Kepala Daerah Memahami Keterbukaan Informasi

Soal peremajaan, boleh saja dilakukan, tapi sekali lagi, katanya, perlu kajian mendalam tanpa harus terlebih dahulu menebang tanaman yang ada. Apalagi kini, juga sudah banyak bibit-bibit kelapa unggul, yang masa berbuahnya tak terlalu lama. Akan halnya jenis tanaman kelapa berpostur pendek, seperti kelapa hijau genjah, pandan wangi, kopyor, kelapa wulung dan lainnya. Rata-rata kelapa jenis ini sudah bisa dipanen 3-4 tahun.

Kelapa genjah, misalnya, terbilang produktif. Berukuran besar dan berdaging tebal. Jenis kelapa ini ada yang berwarna hijau muda dan ada pula yang berwarna kuning gading.

Yang terjadi selama ini, sebutnya, tak jarang hanya euforia pada pembagian bibit, entah dari pemerintah, pihak swasta hingga partai politik, tapi setelah itu tak ada pengawasan dan pembinaan pada petani. Yang rugi, ya petani. Cara seperti ini ke depan, menurut Nurkhalis, harus jadi evaluasi, sehingga program peremajaan tanaman untuk rakyat ini tak sia-sia begitu saja.

Dia juga minta agar petani jangan dijadikan objek belaka, tapi bagaimana bersama-sama memberdayakan mereka. Termasuk petani yang di lahan mereka punya tanaman tua seperti kelapa ini, seyogyanya juga secara berkala harus mendapat pencerahan, sehingga ekosistem perkelapaan di Tanah Air tetap terjaga. “Bagaimanapun, sebagian besar komoditi kelapa kita masih disumbang oleh petani rakyat, bukan perkebunan besar,” terang Nurkhalis.

Potensi Kelapa Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi kelapa di Indonesia mencapai 2,85 juta ton pada 2021. Nilai tersebut naik 1,47% dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,81 juta ton. Namun, produksi kelapa Indonesia cenderung menurun dalam satu dekade terakhir. Awalnya, jumlah produksi kelapa Indonesia sebesar 3,17 juta ton.  Angkanya pun menurun 7,43% menjadi 2,94 juta ton pada tahun berikutnya. Produksi kelapa Indonesia sempat naik 3,85% menjadi 3,05 juta ton pada 2013. Kenaikan tersebut hanya bertahan setahun. Angka produksi kelapa Indonesia terus turun hingga 2020. Produksi kelapa Indonesia baru kembali meningkat pada 2021 setelah turun selama tujuh tahun.

Adapun, Riau menjadi produsen kelapa terbesar di Indonesia lantaran menghasilkan 395 ribu ton. Setelahnya ada Sulawesi Utara dengan produksi kelapa sebesar 271,1 ribu ton. Produksi kelapa di Jawa Timur sebanyak 244,5 ribu ton. Sementara, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah masing-masing menghasilkan kelapa sebanyak 211,8 ribu ton dan 199,2 ribu ton.

Terkait hal ini, Dewan Kelapa Indonesia menyebutkan bahwa potensi komoditas kelapa di Indonesia masih sangat besar dan bisa ditingkatkan lagi.

Hal ini merujuk pada data Ditjen Perkebunan tahun 2020-2022, menunjukkan angka tetap tahun 2020 luas perkebunan kelapa mencapai 3.391.993 hektare (ha), produksi 2.858.010 ton kopra, produktivitas 1,119 ton kopra/ha dan tenaga kerja 6.018.309 orang.

Dari 2017-2021 produksi tumbuh 0,04 persen/tahun meskipun luas areal menyusut rata-rata 0,84 persen per tahun, serta jumlah pekebun dan tenaga kerja kelapa dari tahun menyusut rata-rata 1,78 persen/tahun. Begitu juga volume ekspor kelapa justru tumbuh 3,39 persen/tahun, serta nilai ekspor malah tumbuh 9,38 persen/tahun .

“Dari angka-angka di atas, jelas berarti potensinya masih sangat besar untuk ditingkatkan. Hulu tertinggal dari hilir. Kondisi ini jangan dibiarkan. Hulu harus diperbaiki,” kata Ketua Umum Dewan Kelapa Indonesia Gamal Nasir, seperti diwartakan Antara, Rabu (31/08/2022).

Gamal menyatakan, keterbatasan APBN membuat pembiayaan sekarang dialihkan pada Kredit Usaha rakyat (KUR), oleh karena itu perlu ada KUR khusus kelapa untuk perbaikan kebun.

Katanya, kebun-kebun benih harus diperbanyak sehingga produksi benih mencukupi. “Ini karena peluang pasar masih sangat besar dan harus dimanfaatkan,” kata mantan Dirjen Perkebunan kementerian Pertanian itu dalam sebuah webinar “Ayo Bangkit Kelapa Pohon Kehidupan menjadi Industri Strategis Nasional”.

Permintaan pasar dunia yang tinggi, tambahnya, harus dimanfaatkan dengan sebanyak-banyaknya mengolah di dalam negeri sehingga nilai tambah ada di sini juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Industri kelapa merupakan industri yang padat karya karena banyak pekerjaaan masih dilakukan manual.

Menurutnya, penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas di hulu dan mendiversifikasi produk di hilir, harus terus dilakukan. Kelapa Indonesia harus berjaya dengan menjadi pemasok produk-produk jadi pada dunia.

Sementara itu, data dari Ditjenbun juga memperlihatkan adanya pengembangan tanaman kelapa tahun 2022 ini berupa peremajaan, perluasan dan intensifikasi seluas 12.750 ha. Selain itu, ada program kelapa genjah sebar 1 juta batang (kejar) tersebar di Bojonegoro 200.000 batang, Jateng 155.750 batang, Solo Raya 103.600 batang, Nias 100.000 batang, Sulsel 77.000 batang. Kemudian, Banten 67.100 batang, Jabar 66.000 batang, Jatim 55.000 batang, Sumsel 33.000 batang, Sulut 33.000 batang, NTT 12.100 batang, Sumut 11.000 batang, lainnya 34.000 batang.

Yang jelas, disamping perlunya pengembangan tanaman kelapa itu sendiri, kini yang tak boleh diabaikan adalah bagaimana hilirisasi komoditi tersebut dioptimalkan guna memberdayakan petani di hulunya. Soalnya selama ini, produk hilirisasi itu masih sangat terbatas.

Betapa tidak, dikutip dari laman  kemenperin.go.id, Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengakui komoditas kelapa yang cukup berlimpah di Indonesia. Namun begitu, katanya, hilirisasinya masih terbatas pada industri gula kelapa, industri minyak kelapa, industri sabut kelapa, dan industri kelapa terpadu dengan contoh hasil produknya berupa santan dan air kelapa kemasan. Baru berupa produk hilir kelapa yang didominasi oleh produk intermediate yang bernilai tambah rendah. Makanya, sebut Putu, pihaknya mendorong riset dan pengembangan industri pengolahan kelapa di dalam negeri agar menciptakan produk-produk baru.

Ya, yang pasti, industri hasil perkebunan merupakan salah satu bagian dari industri agro yang pada semester I – 2022 memiliki kinerja ekspor sebesar USD14,21 miliar atau 56,6% dari total ekspor industri agro yang mencapai USD25,12 miliar. Salah satunya disumbang oleh komoditas industri hasil perkebunan kelapa, disamping komoditi primadona lainnya seperti kelapa sawit, kakao, kopi, teh dan minyak atsiri.

Kontribusi Sambu Group

Bicara perkelapaan di Indonesia, kontan tak bisa dilepaskan dari peran besar Sambu Group, terutama dalam hilirisasi industri kelapa terpadu, yang telah berhasil membuktikan dirinya menjadi pelopor dalam menghasilkan produk-produk berbahan dasar kelapa di negeri ini.

Dikutip dari laman sambugroup.com, bermula dari kehadiran PT Pulau Sambu pada 1967, yang nilai warisannya dimulai dari semangat perintis Tn. Tay Juhana. Pendiri kelahiran negara Singapura ini berkelana ke Kuala Tungkal di Provinsi Jambi di Indonesia, dan menanamkan semangat dan jiwanya untuk membangun pondasi yang bersifat inovatif dan inklusif secara sosial. Dia lalu memilih untuk mengadopsi kewarganegaraan Indonesia dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk bisnis dan masyarakat.

Selama enam dekade, Tn. Tay Juhana mewujudkan visinya menjadi kenyataan. Semangat perintisnya mengarahkan seluruh industri kelapa ke tempat yang lebih tinggi dan mengembangkan sistem yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Model bisnis baru dikembangkan, dari perdagangan kopra menjadi penggilingan kopra, yang pada saat itu belum pernah dilakukan sebelumnya di wilayah tersebut. Dia merevolusi keseluruhan proses yang ada, menghadirkan upaya inovatifnya ke berbagai pelosok dunia. Di bawah naungan inovasinya yang terus-menerus, Sambu Group tak henti-hentinya berusaha untuk memperluas jangkauannya dalam menciptakan hasil yang berguna bagi masyarakat.

Baca Juga  Kecurangan dan Topan Nabi Nuh

PT Pulau Sambu (Kuala Enok) menjadi pabrik pengolahan minyak kelapa pertama Sambu Group. Pabrik tersebut menghasilkan minyak kelapa mentah, minyak kelapa yang dikelantang dan diolah, serta pengekstrak kopra untuk pasar ekspor. Semua produk pada akhirnya dikembangkan dan disertifikasi sesuai dengan standar internasional.

Lalu, ada Pabrik PT Pulau Sambu (Guntung) didirikan pada tahun 1983 untuk menghasilkan produk yang berteknologi tinggi, seperti santan/krim kelapa, bubuk krim santan kelapa, kelapa parut kering, air kelapa, dan arang tempurung kelapa.

Diproduksi dengan menggunakan teknologi Ultra-High Temperature (UHT), krim santan kelapa dalam kemasan dipasarkan dengan merek Kara. Pada waktu itu, krim santan kelapa dalam kemasan merupakan hal yang baru, dan Kara menjadi kebanggaan Sambu Group sebagai jenis produk yang baru di dunia. Bahkan hingga hari ini, Kara menjadi satu-satunya merek yang dipasarkan baik secara nasional maupun internasional (pasar Asia, Oseania, Amerika Utara, Eropa).

Dua puluh enam tahun kemudian, didorong oleh semangat inovasi tanpa henti, Tn. Tay Juhana mendirikan pabrik pengolahan ketiga dan perkebunan kelapa PT Riau Sakti United Plantations pada 1993. Dengan penambahan jumlah pabrik pengolahan, Sambu Group mampu meningkatkan volume produksinya untuk memenuhi permintaan produk berbasis kelapa dari pasar global yang semakin meningkat.

Kemudian, pada tahun 2016, Pulau Sambu Singapore Pte Ltd didirikan sebagai cabang pemasaran, untuk memperluas jangkauan pasarnya ke seluruh dunia. Ekspansi ini dilakukan dengan harapan untuk bisa memberikan kontribusi lebih lanjut bagi pengembangan petani kelapa dan masyarakat sekitar.

Upaya tak kenal lelah dari Tn. Tay Juhana untuk terus berinovasi, membuat Sambu Group menjadi produsen produk kelapa terbesar dan paling terintegrasi tak hanya di Indonesia tapi sudah level dunia. Konsep integrasi dengan masyarakat merupakan filosofinya, yang pada akhirnya menjadi inti keyakinan perusahaan, dan inilah nilai yang menjadi fondasi Sambu Group, yang menjadikannya sukses sampai  hari ini.

Terbaru, Sambu Group mendapat kesempatan bicara dalam ajang ‘50th International COCOTECH Conference and Exhibition’, yakni konferensi kelapa internasional terbesar yang diperuntukkan bagi perkembangan kelapa di dunia. Bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia, kegiatan ini diprakarsai oleh Internal Coconut Community (ICC) berasosiasi dengan Ministry of Agriculture and Food Industries Government of Malaysia.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada 7-11 November 2022, Sambu Group turut berkontribusi dengan menjadi salah satu pembicara pada seminar kelapa internasional tersebut yang bertema “Climate Change Adaptation and Mitigation Strategy for a Resilient and Sustainable Coconut Agroindustry”. Sambu Group yang diwakili oleh Dwianto Arif Wibowo, Corporate Communication Manager, membawakan judul “Promoting Climate Friendly Production of Coconut and Products”.

Dwianto Arif menyebutkan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena yang perlu dihadapi bersama. Perubahan iklim memberikan dampak pada ekosistem kelapa, baik petani kelapa, maupun industri kelapa. Kenaikan suhu, naiknya permukaan air laut, anomali cuaca, curah hujan yang tak menentu, berdampak langsung pada produksi kelapa. Hasil panen kelapa yang tak memadai akan berpengaruh terhadap supply ke industri kelapa. Bersama, tentunya harus dilakukan mitigasi, sehingga perubahan iklim bisa diantisipasi dan dikelola dengan baik.

Katanya, guna melakukan transisi promosi produk yang ramah perubahan iklim, maka semua pihak bersama membuat strategi, yang diformulasikan secara inklusif dan tidak eksklusif. “Kita juga harus bisa mengelola pebedaan, dan juga melakukan alokasi sumberdaya yang tepat,” tutur Dwianto, seperti diwartakan Indopos.co.id, Selasa (8/11/2022).

Indonesia sendiri, katanya, memiliki tantangan dalam proses transisi mempromosi produk yang ramah perubahan iklim. Baik yang karena kurangnya kesadaran dalam memahami adaptasi atas perubahan iklim dari pemangku kepentingan kelapa, juga kesalahpahaman para pemangku kepentingan terkait tidak seragamnya peristiwa perubahan iklim itu sendiri. Lalu, tantangan lain adalah masih adanya regulatory lag, biaya produksi yang mahal, ketidakstabilan lingkungan, dan pajak serta tarrif yang belum berpihak pada ekosistem kelapa.

Menurut Dwianto, guna antisipasi dan mitigasi perubahan iklim, industri kelapa dituntut untuk mengimplementasikan program ESG (Enviromental, Social, and Governance). Dan, Sambu Group sendiri telah menerapkan prinsip ESG dalam praktik operasional perusahaan, baik untuk lingkungan, sosial, maupun kepatuhan atas berbagi regulasi. Sambu Group telah memiliki berbagai sertifikat dan penghargaan dari pihak independen dan pemerintah, sebagai pengakuan atas berbagai implementasi ESG yang dilakukan.

Ya, paling hangat, Sambu Group juga ambil bagian dalam pameran makanan dan minuman The Global Food Marketplace atau Salon International de L’alimentation (SIAL Interfood), dimana KARA Indonesia ikut serta dalam acara berskala internasional ini.

Pameran SIAL Interfood 2022 digelar pada 9-12 November 2022 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Menampilkan berbagai jenis produk unggulan. Mulai dari makanan, minuman, sampai peralatan dan aksesoris kuliner. Sedikitnya, ada 27 negara memamerkan produk mereka di acara ini. Salah satunya adalah KARA Indonesia.

Umumnya peserta SIAL Interfood 2022 adalah pelaku industri lokal. Selain bertujuan memajukan industri makanan dan minuman lokal, pameran ini merupakan bentuk realisasi program pemerintah Indonesia dalam memperkenalkan bahan baku asal Indonesia.

Menurut Direktur Utama PT Kara Santan Pertama (KSP), Martin Jimi, seperti dikutip dari merdeka.com, alasan KARA mengikuti gelaran ini adalah mendekatkan diri kepada partner bisnis potensial, baik secara B2B (business to business) maupun B2C (business to customer). “Melalui pameran ini KARA dapat memperkenalkan product range kepada pelanggan sehingga produk kelapa dapat teredukasi dengan baik,” katanya.

Seperti diketahui, KARA Indonesia menghadirkan produk-produk unggulannya yang berbahan dasar kelapa, antara lain KARA Santan dan KARA Nata de coco. Tak hanya itu, KARA Coconut Cooking Oil dan KARA Coco juga ditampilkan dalam pameran. Semua produk olahan kelapa.

Gelaran seperti ini, tentunya tak hanya untuk menciptakan peluang pasar bagi KARA Indonesia dan Sambu Group secara keseluruhan, tapi juga akan berimbas pada ekosistem perkelapaan secara keseluruhan hingga ke hulu di Tanah Air.

Terlebih, Sambu Group konsisten mengusung ESG dalam praktik operasional usahanya, ini jelas akan sangat bermanfaat bagi keberlanjutan ekosistem kelapa, baik untuk Indonesia maupun dunia. Makanya, Sambu Group tak hanya berpikir hilirisasi produk kelapa semata, tapi terus juga berupaya mengejar hingga ke hulu, melakukan pemberdayaan, penguatan, dan perhatian sosial kepada petani kelapa itu sendiri. Artinya, 55 tahun Sambu Group tak pernah lelah dalam keberlanjutan industri kelapa dan kesejahteraan para petani kelapa. Inilah komitmen Sambu Group untuk terus berkontribusi bagi ekosistem kelapa Indonesia.

Akan halnya seorang Syamsia, Heri Martoni, dan jutaan petani kelapa lainnya di negeri ini, kontan juga berharap terpeliharanya ekosistem kelapa di negeri ini. Dan, Sambu Group, teruslah berinovasi, untuk Indonesia. Semoga! (*)