Lulusan Geologi Undip Sukses Kembangkan 50 Ribu Ayam Petelur di Sijunjung

Taufik Maryudi

SIJUNJUNG – Di sudut lahan seluas 2,2 hektare yang berada di kawasan hijau dan masih ditumbuhi pepohonan, sekitar 1,5 kilometer dari jalan utama menuju pusat ibu kota Kabupaten Sijunjung, berdiri tiga bangunan besar yang tertata rapi.

Bangunan tersebut bukanlah gudang atau fasilitas industri seperti yang mungkin dibayangkan. Di dalamnya terdapat puluhan ribu ayam petelur jenis Lukmann yang dikembangkan seorang anak muda asal Sumatera Barat.

Dia adalah Taufik Maryudi (30), sarjana Geologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang kini memilih menekuni dunia peternakan.

Di lokasi peternakan yang berada di Muaro Bodi, Kabupaten Sijunjung itu, aktivitas peternakan terlihat berjalan cukup tertata. Tidak jauh dari kandang ayam, terdapat bangunan permanen yang digunakan sebagai kantor operasional. Sebuah Jeep Katana dengan pelat nomor D 11 Bandung juga terparkir di halaman.

“Kalau melihat latar belakang pendidikan, saya memang sarjana geologi. Tetapi setelah tamat kuliah, saya memilih pulang kampung dan meneruskan usaha orang tua,” kata Taufik saat ditemui Topsatu.com di lokasi peternakan, Senin (10/8/2026).

Baca Juga  Pejabat di Sijunjung Tandatangani Perjanjian Kinerja

Pilihan Taufik terjun ke dunia peternakan memang cukup berbeda dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya selama menempuh pendidikan di Undip Semarang.

Namun, dunia ayam petelur bukan sesuatu yang benar-benar baru bagi keluarganya. Setelah menyelesaikan kuliah, Taufik kembali ke kampung halaman di kawasan Atar Kumanis, Batusangkar. Ia kemudian tertarik mengembangkan usaha yang telah lebih dahulu dirintis orang tuanya.

Orang tua Taufik telah menggeluti usaha ayam petelur jenis Lukmann sejak 2019. Seiring perkembangan usaha yang dinilai cukup menjanjikan, Taufik pun ikut terjun dan mengembangkan peternakan tersebut.

“Alhamdulillah, sampai saat ini usaha tersebut tetap bertahan. Pasar telur kita meliputi Padang, Bangkinang, Jambi dan Riau,” ujarnya.

Melihat prospek usaha yang semakin baik, Taufik kemudian memperluas usahanya ke Muaro Bodi, Sijunjung. Di lokasi tersebut, ia kini mengembangkan sekitar 50 ribu ekor ayam petelur jenis Lukmann.

Menurutnya, bibit ayam diperoleh ketika berumur sekitar satu bulan dengan harga Rp13 ribu per ekor. Setelah dipelihara sekitar empat bulan, ayam tersebut sudah mulai mampu menghasilkan telur.

Baca Juga  KPU Sijunjung Nyatakan Siap Laksanakan Pilkada 2024

“Dari 1.000 ekor ayam, tingkat keberhasilan produksinya diperkirakan mencapai 80 persen,” jelasnya.

Tak hanya produksi telur yang memberikan keuntungan. Taufik juga mengaku telah memiliki pasar untuk ayam yang sudah tidak produktif lagi.

“Ayam petelur yang sudah tidak mampu berproduksi lagi sudah ada penampungnya di Kota Bengkulu,” katanya.

Sementara itu, limbah dari peternakan juga tidak menjadi persoalan. Kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan perkebunan kelapa sawit.

“Kotoran ayam juga bermanfaat untuk pemupukan lahan sawit. Berapa ton pun yang kita hasilkan pasti habis terjual,” ungkapnya.

Bagi Taufik, mengembangkan usaha peternakan bukan semata-mata persoalan bisnis. Ia juga melihat sektor tersebut sebagai peluang untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

“Yang jelas, bagi saya beternak ayam petelur jenis Lukmann ini sangat menyenangkan. Selain itu, usaha ini juga dapat menciptakan lapangan kerja baru. Sekarang kita mampu menyerap sebanyak 20 orang tenaga kerja,” pungkasnya. (subandi)