Oleh Charlie Ch. Legi
SEPANJANG bulan Januari tahun 2022 lalu, sudah empat kali Dewi bolak-balik ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Anaknya, Faruq mengalami sakit. Awalnya Faruq terkena sakit difteri. Beberapa hari kemudian terkena cacar. Dewi pusing tujuh keliling. Waktunya tersita oleh anak.
Memasuki bulan Maret, Dewi kembali mengunjungi rumah sakit setempat. Kali ini anak keduanya, Heru yang mengalami sakit. Penyakit yang diderita anak keduanya sama dengan yang diidap oleh anak pertamanya. Dewi pun mengeluh.
“Awalnya kakaknya yang sakit, sekarang adiknya, menangis saya,” lirih Dewi saat memboyong anaknya ke rumah sakit yang letaknya terbilang jauh dari rumahnya.
Ketika di rumah sakit, Dewi ditagih dokter, memperlihatkan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Saat diperlihatkan, dokter pun geleng-geleng kepala. Kedua anak Dewi rupanya belum pernah sekalipun mendapatkan imunisasi. Kecukupan gizi dan berat badan anaknya pun mendekati garis merah.
Masalah yang diderita Dewi, segendang seirama dengan yang dialami Ayu. Ayu yang memiliki satu anak kini harus menerima kenyataan pahit. Anak lelakinya mengalami lumpuh layuh. Setelah diperiksa dokter setempat, anaknya mengalami polio. Sesekali anaknya mengalami kesulitan dalam bernafas. Ayu pun pasrah dengan keadaan.
“Saya belum pernah membawa anak imunisasi di Posyandu,” aku Ayu.
Dewi dan Ayu selama ini memang abai dalam kesehatan anaknya. Pekerjaan membuat mereka lalai membawa anaknya ke Posyandu. Anaknya yang harusnya mendapatkan imunisasi lengkap, tak terpenuhi secara keseluruhan. Padahal, hampir setiap waktu kader Posyandu dan pihak Puskesmas mengajak ibu dan balita agar datang untuk melakukan imunisasi.
“Iya, saya selalu lupa membawa anak ke Posyandu,” sebut Ayu.
Ayu dan Dewi merupakan gambaran ilustrasi dari sejumlah kaum hawa di Tanah Air. Saat ini masih saja ada ibu yang enggan membawa anaknya ke Posyandu terdekat. Padahal Pemerintah terus mengajak kaum ibu untuk membawa anaknya ke Posyandu. Mendapatkan imunisasi lengkap.
“Saya sebenarnya takut membawa anak ke Posyandu, melihat anak menangis karena disuntik, seperti akan disuntik mati,” ujar Ayu.
Berawal saat Pandemi Covid-19.
Apa penyebab itu semua? Tidak saja karena kelalaian orangtua membawa anak ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi, akan tetapi juga pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Seperti diketahui bersama, kasus pertama Covid-19 di Sumatera Barat pada tahun 2020 membuat buncah warga. Saat itu, Kamis, 26 Maret 2020, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengumumkan lima orang terinfeksi virus Covid-19. Dua dari tiga orang terinfeksi berasal dari Kota Padang. Tak berselang lama, satu orang yang terinfeksi berasal dari Kota Padang dilaporkan meninggal dunia. Tepat 27 Maret 2020, Wali Kota Padang ketika itu, Mahyeldi Ansharullah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Padang dan menerbitkan Surat Keputusan Wali Kota Padang Nomor 144 Tahun 2020 tentang KLB Covid-19 di Padang.
Penetapan status KLB itu mengharuskan warga untuk tidak lagi berada di tempat keramaian. Mencegah penyebaran virus lebih jauh, Pemko Padang menetapkan keputusan meniadakan salat Jumat di masjid. Warga diminta mengganti salat Jumat dengan salat Zuhur di rumah. Akibatnya, jalanan sepi, rumah tertutup rapat, tak ada yang berani keluar rumah. Padang seperti kota mati.
Sejak pandemi merebak di tahun 2020 itu, ibu yang melahirkan enggan untuk keluar rumah. Takut terpapar Covid-19. Pelayanan Posyandu pun hampir tak dikunjungi. Akibatnya, banyak anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Efek dari semua itu, banyak anak yang terpapar penyakit, seperti campak, difteri, polio, dan lainnya.
Jika dilihat, buku KIA yang dikantongi ibu yang melahirkan pada saat pandemi Covid-19, akan banyak terdapat imunisasi yang bolong-bolong, bahkan ada anak yang belum diimunisasi usai dilahirkan. Diakui Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang dr Srikurnia Yati, jumlah kunjungan Posyandu memang menurun saat pandemi Covid-19. Pada saat pandemi merebak (tahun 2020), jumlah kunjungan ke 919 Posyandu yang ada di Padang selama setahun itu hanya 43.663 orang. Padahal di tahun 2019, angka kunjungan berada di angka 51.907.
Sementara, dokter umum di Puskesmas Ambacang, Kota Padang, Sumatera Barat, Frista Maulina, juga mengakuinya. Menurutnya, kewajiban orangtua membawa anaknya untuk imunisasi jauh menurun pada saat pandemi C`ovid-19. Di wilayah kerja Ambacang, angka penurunan kunjungan ke Posyandu di masa pandemi terbilang jauh dari harapan.
Disebutkan Frista, pelayanan Posyandu di saat kasus Covid-19 merebak memang tidak diaktifkan. Posyandu tidak dibuka untuk umum. Praktis sejak bulan Maret tahun 2020, pelayanan bagi kesehatan ibu dan anak tidak dilakukan. Angka capaian dari sasaran tidak tercapai maksimal. Bahkan bisa dikatakan turun jauh.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Ambacang, kunjungan ke Posyandu dan anak yang mendapatkan suntikan imunisasi cukup tinggi pada tahun 2019 (sebelum pandemi Covid-19). Saat itu sasaran yang ditargetkan sebanyak 4.498 orang, dengan kunjungan 3.877 orang. Di tahun itu, capaian kunjungan di seluruh Posyandu di wilayah kerja Ambacang sebanyak 86 persen.
Memasuki tahun pandemi (2020), Posyandu hanya buka dan melayani masyarakat pada bulan Januari hingga Maret. Selama tahun 2020 itu, kunjungan ke Posyandu jauh menurun, hanya 2.505 orang dengan persentase capaian 55,60 persen. Angka kunjungan sempat naik di tahun 2021, sebanyak 2.713 orang atau 62,89 persen. Ironisnya, angka kunjungan kembali menurun di tahun 2022 dengan jumlah kunjungan sebanyak 2.675 orang.
Angka ini cukup memiriskan. Di saat Indonesia menggalakkan imunisasi bagi anak, pandemi Covid-19 justru memutus mata rantai itu. Akibatnya, penyakit mewabah. Anak rentan tertular. Kekebalan tubuh menurun.
Efek besar dari terputusnya imunisasi anak pada saat pandemi Covid-19, terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Aceh. Banyak anak yang terkena polio pada tahun 2022 dan 2023 di daerah ujung Indonesia itu. Melihat kondisi tersebut, sejumlah daerah menggalakkan Crash Program Polio (CPP). Daerah yang berbatasan dan berada tidak jauh dari Aceh melakukan gerakan tersebut. Anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi polio ditemui ke rumah-rumah. Sweeping itu pun berjalan penuh drama.
Seperti di wilayah kerja Ambacang, Padang. Sweeping ke rumah-rumah dilakukan secara maraton, keluar masuk gang. Melewati sawah dan sungai, bahkan melewati pematang sawah untuk mencapai rumah yang berada di tengah sawah. Cukup banyak penolakan dari warga saat dilakukan sweeping. Seperti orangtua yang sengaja menyembunyikan anaknya saat petugas datang, orangtua yang menyebut bahwa vaksin atau imunisasi yang tidak halal, hingga kepada aksi mengelabui petugas kesehatan. Pun begitu, dari sekian banyak yang menolak, banyak juga warga yang patuh dan bersedia agar anaknya diimunisasi polio.
Mengenal Posyandu.
Sebenarnya, agar warga Indonesia terbebas dari penyakit menular, Pemerintah telah mencanangkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) pada tahun 1986 silam. Posyandu merupakan pelayanan yang bersifat terpadu dengan tujuan memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat. Karena di Posyandu dapat diperoleh pelayanan kesehatan lengkap pada waktu dan tempat yang sama. Kegiatan yang berlangsung di Posyandu bahkan memang terbilang paripurna, ibu dan anak mendapatkan informasi tentang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), imunisasi, gizi, penanggulangan diare, dan lainnya.
Posyandu yang digagas sejak 1986 silam bertujuan penting untuk menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu, seperti ibu hamil, melahirkan, serta nifas. Selain itu Posyandu juga membangun budaya Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Termasuk meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB, serta kegiatan lainnya yang menunjang tercapainya masyarakat sehat sejahtera. Posyandu juga berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.
Di Posyandu, ibu dan anak juga mendapatkan banyak informasi seputar kesehatan ibu dan anak. Dari sinilah “canang” (tempat penyampai pesan) terbaik bagi ibu. Di Posyandu akan diperoleh bagaimana agar anak mendapatkan asupan gizi terbaik supaya tidak mengalami stunting (gagal tumbuh). Di Posyandu diukur berat badan, lingkar kepala, dan tinggi badan. Di Posyandu juga ditekankan bahwa anak rutin dibawa ke Posyandu hingga usia lima tahun.
Terpenting bagi anak, di Posyandu mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap. Imunisasi dasar lengkap itu yakni pada saat bayi berusia sebulan, diberikan imunisasi BCG polio 1, hal ini bertujuan untuk menghindari bayi tertular tuberculosis dan polio. Memasuki bulan kedua, bayi mendapatkan suntikan imunisasi DPT-HB-Hib 1 Polio 2. Suntikan ini untuk mencegah polio, difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis B, meningitis dan pneumonia. Di bulan ketiga, bayi mendapatkan imunisasi DPT-HB-Hib 2 Polio 3. Kemudian di bulan keempat mendapatkan suntikan DPT-HB-Hib 3 Polio 4. Sedangkan di bulan kesembilan, bayi mendapatkan suntikan imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak.
Imunisasi dasar ini teramat penting bagi anak. Sebab, pada masa awal kehidupan bayi akan sangat rentan terkena penyakit berbahaya, seperti penyakit saluran pernafasan akut, polio, kerusakan hati, tetanus, campak dan penyakit lainnya. Apabila anak terkena penyakit tersebut, akan memiliki risiko kematian yang tinggi atau paling tidak mengalami derita disik dan mental berkepanjangan maupun cacat.
Melalui imunisasi, perlindungan terhadap anak akan menjadi cukup tinggi. Imunisasi mampu mencegah penyakit tersebut. Sebab imunisasi dapat merangsang kekebalan tubuh bayi agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut.
Tak heran jika anak Dewi dan Ayu mengalami sakit pada saat bayi. Sebab pada saat anak butuh imunisasi, Ayu dan Dewi tidak memberikannya. Apalagi Ayu dan Dewi kerap mendapatkan informasi tidak benar (hoaks) tentang imunisasi. Tidak saja mengalami sakit, anak Dewi dan Ayu juga dapat menularkan penyakit yang sama kepada anggota keluarga yang lain. Begitu juga sebaliknya, anak mereka juga dapat tertular penyakit yang dibawa oleh orang dewasa yang berkontak dengannya.
Apabila telah mengidap sejumlah penyakit, anak yang tidak mendapatkan imunisasi sejak lahir akan mengalami penurunan kualitas hidup. Misalnya, bayi yang mengalami campak akan menyebabkan kebutaan. Begitu pula polio yang dapat menimbulkan disabiltas atau kematian. Bayi yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap juga mengalami penurunan harapan hidup serta batasan terhadap dirinya saat dewasa nanti. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap tidak akan mudah melakukan perjalanan ke negara lain, termasuk akses untuk bersekolah.
BIAN dan Imunisasi Ganda
Sebenarnya, mengatasi keterlambatan anak mendapatkan imunisasi dapat dikejar melalui vaksin kombinasi atau suntikan ganda. Vaksin kombinasi ini berguna untuk mempercepat jadwal imunisasi yang sudah tertinggal. WHO dan UNICEF bahkan mengungkapkan bahwa terjadi penurunan berkelanjutan terbesar dalam vaksinasi anak-anak pada rentang waktu 30 tahun belakangan ini. Tercatat bahwa pada saat pandemi Covid-19, tepatnya pada tahun 2021, sebanyak 25 juta anak melewatkan satu atau lebih dosis vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DPT3) pada layanan imunisasi rutin. Padahal di tahun 2020, angka ketertinggalan vaksinasi ini hanya 23 juta anak, dan 19 juta anak di tahun 2019.
Mengkhawatirkannya lagi, 18 juta dari 25 juta anak yang melewatkan satu atau lebih dosis vaksin itu tidak menerima dosis tunggal DPT sepanjang tahun. Mereka umumnya berasal dari Indonesia, India, Nigeria, Ethiopia, dan Filipina.
Pandemi Covid-19 telah mengganggu keberlanjutan aktifitas manusia. Termasuk gangguan yang signifikan terhadap pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Pengobatan untuk anak-anak sulit didapat, begitu halnya imunisasi. Pelaksana tugas Perwakilan UNICEF, Robert Gass bahkan menyebut bahwa anak-anak di Indonesia berisiko besar tertular penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio. Jutaan anak berada dalam situasi kesehatan yang cukup genting.
Mengejar ketertinggalan imunisasi pada anak, UNICEF bersama mitra dan pemerintah melakukan kampanye Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN). Kampanye ini dimulai pada bulan Mei 2022 lalu. Ketika itu pemerintah menargetkan 27 juta anak mendapatkan suntikan dengan sasaran di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Sementara, untuk tahap kedua yang dimulai pada bulan Agustus 2022, berlangsung di Jawa dan Bali.
Pada kampanye BIAN ini dilakukan pemberian imunisasi tambahan campak-rubela dan pemberian imunisasi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Siapa saja anak yang akan diimunisasi saat BIAN? Anak yang menjadi sasaran imunisasi tambahan campak-rubela saat BIAN menyasar Provinsi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sasarannya adalah anak usia sembilan bulan sampai dengan kurang dari lima belas tahun. Kemudian di Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, seluruh provinsi di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua dengan sasaran yakni anak usia sembilan bulan sampai dengan kurang dari dua belas tahun. Serta di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan sasarannya adalah anak usia sembilan bulan sampai dengan lima puluh sembilan bulan.
Sedangkan untuk sasaran Imunisasi Kejar adalah anak usia dua belas bulan sampai dengan lima puluh sembilan bulan di seluruh provinsi. Terutama bagi yang tidak atau belum lengkap mendapatkan imunisasi OPV, imunisasi IPV, dan imunisasi DPT-HB-Hib. Sedangkan di Provinsi Bali dan DIY tidak melaksanakan pemberian imunisasi tambahan campak-rubela, namun tetap melaksanakan Imunisasi Kejar.
Pada BIAN ini, diberikan imunisasi kepada anak usia 9 bulan hingga anak yang akan memasuki Sekolah Dasar. Bagi anak usia 9-11 bulan yang belum mendapatkan imunisasi rutin campak-rubela dosis pertama maka dosis imunisasi tambahan campak-rubela saat BIAN dicatat sebagai cakupan imunisasi dasar lengkap dan BIAN. Kemudian bagi anak usia 18-24 bulan yang telah mendapatkan 1 dosis imunisasi rutin campak-rubela maka hasil layanan saat BIAN dicatat sebagai cakupan imunisasi lanjutan baduta (imunisasi campak-rubela dosis kedua) dan BIAN.
Bagi anak usia 18-24 bulan yang telah mendapatkan 3 dosis imunisasi rutin DPT-HB-Hib maka hasil layanan saat BIAN dicatat sebagai cakupan imunisasi lanjutan baduta (imunisasi imunisasi DPT-HB-Hib dosis keempat) dan BIAN. Selanjutnya, bagi anak (yang akan memasuki kelas 1 sekolah dasar) di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua yang mendapatkan imunisasi tambahan campak-rubela saat BIAN, maka hasil layanan saat BIAN dicatat sebagai cakupan BIAS campak-rubela bulan Agustus dan BIAN.
Namun begitu, BIAN yang dilaksanakan sepanjang tahun 2022 belum begitu menggembirakan. Kementerian Kesehatan mencatat, pelaksanaan BIAN tahap I di Jawa dan Bali memang hampir mencapai target nasional. Waktu itu, penerima imunisasi tanbahan campak-rubela sebanyak 9.236.593 anak atau 97,9 persen. Sementara hasil yang kurang menggembirakan terjadi di luar Jawa dan Bali. Penerima imunisasi tambahan campak dan rubela hanya sebanyak 17.287.803 anak atau 63,9 persen dari target.
Selain itu pemerintah juga mengajak orangtua untuk memberikan imunisasi ganda bagi anaknya. Anak yang mengalami ketertinggalan imunisasi, diharapkan mendapatkan pemberian suntikan ganda. Pemberian suntikan ganda ini dilakukan dalam satu kali kunjungan vaksinasi. Suntikan ganda dilakukan pada lokasi yang berbeda, namun jika dilakukan di lokasi yang sama, jarak satu suntikan dan suntikan lainnya adalah 2,5 cm.
Seperti dikutip dari salah satu media nasional, Ketua Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI), Prof. Dr. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) menyebut bahwa vaksin kombinasi atau suntikan ganda sangat berguna dan sudah dilakukan oleh negara-negara lain. Bahkan WHO sudah lama memberikan suntikan tersebut di negara maju dan berkembang. Seperti di Amerika Serikat, Spanyol dan German. Di Amerika Serikat, 249 dan 1.712 anak dilakukan pemberian vaksin PCV + DtaP-IPV-HBV pada bulan yang sama.
Lalu di Spanyol, 619 anak mendapatkan vaksinasi PCV + DtaP-HBV-IPV/Hib pada bulan yang sama. Dari hasil tersebut antigen vaksin teruji aman dan efektif, serta dapat merespon imun antionemulokal pada bayi dan anak. Kemudian di German, 604 anak dilakukan pemberian vaksin PCV + DtaP-HBV-IPV/Hib pada bulan yang sama. Dari hasil tersebut, antigen vaksin tersebut memiliki profil keamanan dan kemanfaatan yang teruji.
Berbahayakah bagi Anak? Pemberian vaksin kombinasi ini tidak menimbulkan efek samping bagi anak. Antibodi yang masuk ke dalam tubuh akan mampu beraksi bersama-sama. Apabila vaksin diberikan satu per satu, akan membutuhkan waktu jeda yang cukup lama, hingga dua minggu untuk membuat antibodi bekerja, kemudian baru diberi vaksin lainnya.
Keuntungan lain suntikan ganda diberikan pada anak yakni akan dapat mengurangi kunjungan ke fasilitas kesehatan, serta melindungi anak dari kondisi penyakit yang rentan. Pemberian suntikan ganda tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa atau memaksa. Akan tetapi dilakukan dengan lembut dan cepat. Suntikan dilakukan pada bagian kiri dan kanan paha, atau satu bagian saja. Namun memiliki jarak suntik minimal 2,5 cm.
Bayi yang disuntik mesti dalam keadaan nyaman dan dialihkan perhatiannya saat dilakukan suntikan. Karena itu dibutuhkan petugas yang mahir menyuntik dalam waktu singkat. Diharapkan tidak terjadi trauma pada anak.
Agar orangtua tidak merasa khawatir terhadap anaknya, perlu peranan penting tenaga kesehatan dalam meyakinkan orangtua. Karena orangtua dipastikan tidak mengerti mengapa anak mereka membutuhkan banyak suntikan pada kunjungan yang sama ke Posyandu. Di sini dibutuhkan penjelasan tenaga kesehatan terkait keuntungan suntikan ganda, serta memberikan jaminan.
Dalam memberikan jaminan kepada orangtua, tenaga kesehatan diharapkan mampu menjawab pertanyaan dan kekhawatiran orangtua terkait keamanan dan pentingnya suntikan ganda. Serta efektifitas vaksin, dan rasa sakit, termasuk ketidaknyamanan anak. Tenaga kesehatan juga diharapkan memberikan tanggapan yang jelas terhadap pertanyaan orangtua, serta mengambil langkah yang tepat untuk mengurangi rasa sakit selama imunisasi.
Teknik penyuntikan kepada anak juga mesti dipahami oleh tenaga kesehatan. Saat melakukan penyuntikan, anak disarankan untuk duduk di atas pangkuan orangtua. Hal ini dilakukan agar anak merasa nyaman selama vaksinasi. Kemudian tenaga kesehatan memberikan sentuhan khusus dengan mengelus kulit atau memberikan tekanan di dekat tempat suntikan sebelum dan selama injeksi. Kemudian menyuntikkan vaksin yang paling tidak menyakitkan terlebih dahulu ketika dua vaksin diberikan berurutan. Misalnya, pada usia empat bulan, urutan pemberian vaksin adalah OPV-IPV-DPT. Setelah itu, melakukan injeksi intramuskular cepat tanpa aspirasi. Orangtua juga diharapkan menyusui bayi selama dan setelah vaksinasi, atau memberikan beberapa rasa manis minuman dan menggunakan teknik mengalihkan perhatian bayi.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Satria dalam acara Pekan Imunisasi Dunia 2023, di Gedung Kemenkes RI, Senin (27/3/2023) mengatakan sudah banyak penelitian yang mengatakan imunisasi ganda bermanfaat dan tidak menyebabkan masalah bagi anak. Reaksi lokal pasca suntik vaksinasi ganda ataupun tidak, hasilnya tidak jauh berbeda.
Prof Hindra menyatakan KIPI adalah suatu reaksi yang ditimbulkan pasca melakukan vaksinasi. KIPI terbagi menjadi dua, tingkat serius dan non serius. Menariknya, hingga saat ini, berdasarkan angka KIPI Imunisasi Ganda di Indonesia sejak 2016 – 2022 didominasi oleh KIPI non serius. Dengan begitu, vaksinasi ganda dianggap aman bagi anak dan tidak menimbulkan permasalahan kesehatan lainnya.
Suntik imunisasi ganda memiliki manfaat lain bagi anak. Rasa nyeri atau tidak nyaman akan dirasakan anak dalam kurun waktu singkat saja. Selain itu juga menghindari “lupa” atau keterlambatan pada suntikan berikutnya, serta menghindari rasa traumatik pada anak. Apabila sering bolak-balik ke Posyandu tentu anak akan mudah teringat dengan rasa sakit disuntik. Dengan begitu trauma pada anak pun terjadi.
Agaknya, agar anak Dewi dan Ayu tidak lagi mengalami sakit yang berkepanjangan, Dewi dan Ayu mesti membawa anaknya ke Posyandu terdekat. Memberikan suntikan ganda agar anak tervaksinasi dengan baik. Apabila imunisasi anak mereka tercukupi dengan baik, setelah dewasa nanti, anak Dewi dan Ayu akan hidup sehat. Mendapatkan kemudahan dalam bekerja, mencari pekerjaan, serta dapat bepergian ke luar negeri tanpa harus terkendala selama perjalanan.
Kesuskesan suntikan imunisasi ganda tidak saja perlu dukungan dari orangtua. Akan tetapi dibutuhkan dukungan lebih dari berbagai pihak. Dukungan paling berpengaruh yakni melalui media komunikasi. Apalagi sesuai data Strategi Komunikasi Imunisasi yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, masyarakat Indonesia pada umumnya, sebanyak 196,7 juta orang atau 73,7 persen populasi telah menggunakan internet untuk berselancar di dunia maya. Seluruh pengguna internet itu, pada umumnya lebih banyak mendapatkan informasi tentang imunisasi melalui media sosial dengan persentase sebesar 57,5 persen. Paling banyak, masyarakat memperoleh informasi imunisasi melalui pesan whatsapp, yakni sebesar 83,17 persen.
Tidak mudah memang untuk meyakinkan masyarakat, utamanya orangtua dalam mengajak dan membawa anak untuk imunisasi. Namun begitu, penggunaan media massa secara masif dan bergerak hebatnya informasi tentang penting dan amannya suntikan imunisasi ganda akan dapat memengaruhi masyarakat. Cara jitu dalam menyadarkan masyarakat akan pentingnya imunisasi yakni lewat influencer yang mengkampanyekan program tersebut. Hal ini tentunya menjadi solusi yang tepat pada saat ini. Di tengah ramainya pengguna internet, influencer terbaik dan tepat sangat diperlukan. Seperti menggunakan jasa artis tenar sebagai influencer dalam mengampanyekan pentingnya imunisasi diyakini pesan yang disampaikan akan mudah melekat dalam ingatan khalayak.
Selain itu, tiap daerah melalui kepala daerah juga diharapkan peranannya dalam mengkampanyekan imunisasi. Seperti penggunaan platform media yang dimiliki tiap pemerintah daerah. Serta materi konten ajakan dan imbauan dari kepala daerah untuk warganya. Hal ini dirasa, pesan-pesan yang disampaikan akan dapat sampai ke tengah masyarakat bahwa “imunisasi bukan suntik mati, akan tetapi memperkuat antibodi”.(*)
)* Penulis wartawan media online TOP Satu berdomisili di Padang












