Oleh Tim Pengabdian Masyarakat Upgrisba
TANAH DATAR— Menyandang predikat sebagai salah satu desa terindah di dunia versi majalah pariwisata internasional Budget Travel, Nagari Tuo Pariangan tidak pernah kehabisan pesona. Terletak di lereng Gunung Marapi, nagari ini adalah perpaduan sempurna antara hamparan sawah berundak yang hijau, warisan budaya Minangkabau yang luhur, dan denyut nadi kesenian tradisi yang masih terjaga murni.
Namun, keelokan alam, kekayaan budaya, dan keelokan seni (wisata terpadu) tidak akan berbicara banyak di panggung global jika tidak dibersamai oleh kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal sebagai pemandu jalan.
Sadar akan tantangan tersebut, sebuah langkah nyata diambil lewat program pengabdian masyarakat Universitas PGRI Sumatera Barat yang membawa rombongan dengan ketua Dr. Lili Perpisa, M.Pd dan anggota Dr. Zulfa, M.Pd, M.Hum, Dr. Zulfaneti, M.Si serta 3 orang mahasiswa yang berasal dari Prodi Sejarah, prodi bahasa Inggris dan prodi Sain data. Pengabdian ini dibuka oleh wali nagari langsung pak Tasman beserta perangkat dan ketua Pokdarwis Afrizal Depi beserta anggotanya. Pengabdian ini bertemakan “Sosialisasi Pemberdayaan Pokdarwis Nagari Tuo Pariangan melalui Implementasi Program English for Tour Guide Berbasis Wisata Terpadu: Alam, Budaya, dan Seni.”
Langkah ini bukan sekadar pelatihan bahasa biasa, melainkan sebuah misi “menjemput dunia” ke jantung alam Minangkabau.
Mengapa Harus Pokdarwis dan Bahasa Inggris?
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) adalah ujung tombak pariwisata berbasis komunitas (*community-based tourism*). Merekalah yang pertama kali menyapa wisatawan, menceritakan sejarah *Sawah Satampang Baniah*, hingga menjelaskan filosofi di balik arsitektur Rumah Gadang yang ikonik.
Di sinilah program English for Tour Guidehadir sebagai solusi konkret. Melalui implementasi program ini, anggota Pokdarwis dibekali kemampuan bahasa Inggris praktis yang dirancang khusus (English for Specific Purposes) untuk kebutuhan pemanduan wisata terpadu.
Tiga Pilar Utama: Alam, Budaya, dan Seni
Pelatihan ini dirancang cerdas dengan mengintegrasikan tiga potensi utama Nagari Tuo Pariangan:
Pilar Alam (Nature) Peserta dilatih menjelaskan keunikan geografis Pariangan, mulai dari pemandian air panas alami, pemandangan hijau yang menyejukkan mata, hingga rute trekking yang aman bagi wisatawan mancanegara.
Pilar Budaya (Culture): Ini bagian paling krusial. Peserta diajarkan bagaimana mengalihbahasakan konsep-konsep adat Minangkabau—seperti Situs Batu Lantak Tigo, sejarah kedatangan nenek moyang orang Minang, hingga sistem matrilineal—ke dalam bahasa Inggris yang mudah dipahami tanpa mengurangi nilai sakralnya.
* Pilar Seni (Art): Pariangan kaya akan seni pertunjukan dan kerajinan. Pokdarwis dilatih untuk mempromosikan musik tradisi talempong pacik, tari-tarian, hingga proses pembuatan batik tanah liek dalam narasi bahasa Inggris yang memikat (storytelling).
Menuju Pariwisata Berkelanjutan yang Mendunia
Melalui sosialisasi dan pendampingan yang intensif ini, Pokdarwis Nagari Tuo Pariangan tidak hanya diposisikan sebagai penonton di rumah sendiri, melainkan sebagai aktor utama sekaligus ambassador budaya.
Ketika pemuda-pemudi lokal sudah fasih berucap, “Welcome to Pariangan, the cradle of Minangkabau culture,” dengan percaya diri, maka gerbang pariwisata internasional otomatis terbuka lebih lebar. Impact-nya tentu saja bermuara pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat secara berkelanjutan.
Program pengabdian ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 2026 menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat lokal adalah kunci utama pembangunan daerah. Nagari Tuo Pariangan kini tidak hanya siap memanjakan mata dunia dengan keindahan alamnya, tetapi juga siap menyentuh hati para pelancong lewat keramahan dan cerita yang disampaikan langsung oleh anak nagarinya.
Pariangan rancak, pariwisatanya bergerak, masyarakatnya berdampak!












