PEKALONGAN – ‘Senang sekali belajar membatik di Rumah Batik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG),’ jawab para siswa Difabel di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Pekalongan itu serentak. Ungkapan senang dilontarkan mereka, karena pertanyaan dari penerima Journalism Fellowship on CSR Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) ingin mengulik perasaan para siswa sedang asyik membatik di media non kain, yakni gerabah di teras Rumah Batik TBIG Pekalongan.
Ya, mereka duduk berselonjor. Ada canting ataupun kuas, pewarnaan hingga gerabah sebagai media ekspresinya, tersedia di depan mereka. Dengan sigap, tangan-tangan lincah nan piawai itu melukis di atas gerabah. Kuas ataupun canting dicelupkan ke pewarnaan. Warnanya berasal tumbuh-tumbuhan. Ada merah, biru, kuning, ataupun hijau. Kepiawaian mereka memadukan warna agar lukisan tampak indah nan menawan. Dengan sabar dan telaten, mereka menyelesaikan hasil karya di atas gerabah itu. Rasa puas terpancar di wajah mereka ketika melihat hasil karyanya. Senyum nan indah otomatis terpancar dari wajah mereka.
“Mereka, siswa difabel dengan hambatan pendengaran dan intelektual dari SLB. Belajar membatik sepulang sekolah. Rata-rata mereka masih duduk dibangku SMP maupun SMA,” ucap Trainer Difabel Rumah Batik TBIG Pekalongan, Joko Padmanto seraya menjelaskan pembelajaran membatik bagi siswa SLB merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui program Rumah Batik TBIG.
“Sepulang sekolah, para siswa mengikuti pelatihan/kursus di Rumah Batik TBIG. Pelatihan ini mereka ikuti selama enam bulan,” ucap Joko Padmanto juga seorang guru di SLB. Sehingga, komunikasi mereka lancar ketika belajar teknik batik tulis dan batik cap.
Terkadang, kata Joko Padmanto, ada sedikit kesulitan berkomunikasi dengan para siswa yang hambatan pendengaran. “Ada kosa kata yang tidak familiar dengan kehidupan sehari-hari. Seperti, canting dan melorot. Solusinya, kami menyepakati istilah dan bahasa baru. Sedangkan, mereka yang ada hambatan intelektual, saya menempatkan pembelajaran yang pas,” ucap Joko Padmanto yang menikmati tugasnya sebagai Trainer Difabel Rumah Batik TBIG.
Baginya, melatih para siswa difabel membatik adalah tugas dan tanggung jawabnya. Kelak, teknik membatik yang telah dipelajarinya bisa menjadi bekal mereka di masa depan. Sebab, ranah pekerjaan mereka tidak seluas kita. “Rumah Batik TBIG memberikan ruang bagi mereka untuk eksplorasi diri, menjadikan referensi diri apa yang dikerjakan masa depan. Keahlian ini penting bagi mereka kelak,” jelasnya.
Apalagi, rata-rata usia mereka relatif muda. Pelatihan ini bisa menjadi referensi mereka menemukan keahlian yang cocok dan nyaman untuk mereka geluti selepas pendidikan formal yang dilakoni saat ini. “Kalau menemukan kecocokan dan nyaman, lanjut. Itu tumbuh secara naluriah. Contohnya, Sekar, kemampuan cantingnya cukup bagus. Itu karena ia hobby melukis. Bahkan, dengan bakatnya tersebut, menghantarkan nama Sekar bersinar di tingkat cabang Dinas Pendidikan Jawa Tengah,” ucap Joko Padmanto seraya menyebutkan para siswa yang mengikuti pelatihan ini diberikan materi membatik dan prosesnya.
Di kelas dasar diajarkan membuat batik dan bagian-bagiannya. Setelah mereka menguasainya, lanjut tingkat inkubasi. Di tingkat ini mereka orientasi berwirausaha batik bisa menjadi landasan finansial masa depannya. Selama lima tahun berjalan, Rumah Batik TBIG sudah meluluskan para siswa difabel, 50 wisudawan.
Menariknya, Rumah Batik TBIG memberikan kebebasan para lulusan mengeluti bidang ilmu yang disukainya. “Ada para siswa kita, usai pelatihan ini mereka, menggeluti profesi menjahit ataupun desainer. Namun, yang jelas, Rumah TBIG memberikan bekal skill bagi siswa difabel. Bahkan ada direkrut bekerja di Rumah Batik TBIG,” jelas Joko Padmanto. (*)












