Opini  

Menuju Satu Abad Perti, Refleksi dan Transformasi dari Rahim Canduang

Oleh Asrial Gindo
(Wartawan Senior & Alumni Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Canduang)

Tanggal 5 Mei 2026 ini, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) genap menapaki usia 98 tahun. Bagi saya, dan ribuan alumni yang pernah mereguk ilmu di bawah naungan atap Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, milad kali ini bukan sekadar deretan angka di kalender. Ini adalah alarm sejarah yang mengingatkan kita bahwa hanya tersisa dua langkah lagi menuju satu abad pengabdian organisasi yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, sang Inyiak Canduang.

Sebagai alumni yang kini bergelut di dunia literasi dan jurnalistik, saya melihat Perti berada pada persimpangan zaman yang menantang. Kita mewarisi tradisi intelektual yang luar biasa, namun romantisme masa lalu tidak akan cukup untuk menjawab tantangan umat yang kian kompleks. Milad ke-98 ini harus menjadi momentum transisi: dari organisasi yang menjaga tradisi, menjadi organisasi yang memimpin transformasi.

Baca Juga  Membangun Kesadaran Lingkungan Melalui Pembelajaran Fisika Termodinamika

Revitalisasi Tarbiyah di Era Disrupsi

Akar kita adalah pendidikan (tarbiyah). Namun, tantangan hari ini bukan lagi sekadar mempertahankan kurikulum kitab kuning, melainkan bagaimana nilai-nilai luhur tersebut mampu berdialog dengan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi yang mendisrupsi segala lini kehidupan. Sebagai alumni, saya berharap Perti mampu melakukan rejuvenasi pada lembaga-lembaga pendidikannya. Kita butuh kader yang tidak hanya fasih ber-istidlal, tetapi juga cakap dalam literasi digital dan kritis terhadap arus informasi.

Kiprah Nyata di Tengah Umat

Perti lahir dari kegelisahan terhadap kondisi sosial masyarakat. Maka, di usia hampir seabad ini, kehadiran Perti harus semakin dirasakan melampaui pagar-pagar pesantren. Perti harus menjadi suara yang jernih dalam mengawal isu-isu kebangsaan, menjadi penengah (wasathiyah) di tengah polarisasi, serta menjadi motor penggerak ekonomi keumatan yang mandiri. Dakwah kita harus menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat bawah—persis seperti yang diajarkan para pendahulu kita di nagari-nagari.

Baca Juga  Merayakan Kemenangan di Halaman Kantor Bupati Dharmasraya

Menjemput Satu Abad

Dua tahun menuju usia seratus tahun adalah waktu yang singkat untuk berbenah. Konsolidasi organisasi harus diperkuat, dan sinergi antar-alumni di berbagai lintas profesi—mulai dari akademisi, birokrat, hingga praktisi media—harus diorkestrasi dengan baik.

Mari kita jadikan Milad ke-98 ini sebagai titik berangkat untuk mempertegas posisi Perti sebagai pilar peradaban Islam di Nusantara. Kita tidak boleh hanya menjadi saksi sejarah yang pasif, tetapi harus menjadi pelaku sejarah yang progresif. Sesuai dengan semangat pendiriannya, Perti harus tetap menjadi suluh yang menerangi jalan umat menuju kemaslahatan dunia dan akhirat.

Selamat Milad ke-98 Perti. Teruslah tumbuh, teruslah mengabdi.****