PADANG – Perhimpunan Perbankan Nasional Sumatera Barat (Perbanas Sumbar) kembali menyalurkan bantuan sembako 1.000 paket untuk korban bencana hidrometeorologi di Kota Padang, Sabtu (14/3) lalu. Sebelumnya, Perbanas Sumbar telah mendistribusikan bantuan 1.000 paket sembako untuk korban bencana hidrometereologi di Kabupaten Agam.
Bertempat di Rumah Dinas Walikota Padang, Ketua Perbanas Sumbar Irawan Sumardi yang didampingi Imelda Tjakra Bendahara Perbanas Sumbar, dan anggota Perbanas Yenny Wiranata , Taufik, Sarah, serta Cindy, menyerahkan secara simbolis bantuan yang merupakan program Komite Masyarakat Perbankan Peduli kepada Walikota Padang, Fadly Amran.
Walikota dalam kesempatan itu sangat mengapresiasi langkah Perbanas yang membantu korban bencana alaman. Ia menekankan bahwa bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat yang tengah berjuang memulihkan kondisi ekonomi pascabencana.
“Terima kasih Perbanas .Makin banyak bantuan yang didapat, tentu akan meringankan beban yang tengah dialami warga. Kita berharap warga terdampak dapat menjalani hari raya dengan lebih baik,” ujar Fadly Amran.
Fadly Amran menambahkan bahwa bantuan ini akan segera disalurkan agar manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat sebelum Lebaran tiba. Ia juga mendoakan agar amal kebaikan para pegawai bank yang tergabung dalam Perbanas dilipatgandakan pahalanya.
Ketua Perbanas Sumatera Barat, Irawan Sumardi yang juga Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Area Sumbar menjelaskan, bahwa bantuan ini berasal dari kas organisasi yang dikelola bersama oleh 23 anggota perbankan berjaringan nasional di wilayah tersebut.
“Jika di awal bencana kita bergerak pada tanggap darurat, kali ini kami ingin mengambil peran bersama Pak Walikota untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak melalui CSR,” kata Irawan.
“Mengikuti tagline Bapak Walikota, ‘Basamo Mangko Manjadi’, Perbanas berkomitmen untuk terus berperan aktif mendampingi masyarakat,” pungkasnya.
Bencana hidrometeorologi di Kota Padang pada akhir 2025 dan awal 202 6menyebabkan kerugian sangat masif, diperkirakan mencapai Rp5,5 triliun. Dampak utamanya meliputi 8 warga meninggal dunia akibat terseret arus sungai kerusakan ribuan rumah, infrastruktur vital seperti jembatan dan jalan, serta terganggunya ekonomi, pendidikan, dan layanan air bersih bagi puluhan ribu warga. (Soe)












