Oleh Soesilo Abadi Piliang
(Wartawan Utama Topsatu.com)
Sumatera Barat memiliki sejumlah gunung berapi di beberapa wilayahnya. Pada satu sisi, keberadaan gunung berapi memberikan manfaat besar terutama dari kesuburan tanah vulkaniknya untuk pertanian , penyediaan material bangunan, sumber air, menjaga keanekaragaman hayati, potensi wisata alam dan edukasi. Disisi lain, masyarakatnya juga harus mewaspadai potensi bahaya gunung berapi, terutama gunung berapi yang aktif.
Salah satu gunung berapi di Sumatera Barat yang aktif, adalah Gunung Marapi yang juga termasuk gunung berapi yang sangat aktif di Indonesia yang sering mengalami erupsi dan letusan kecil, serta terus berada pada status Waspada (Level II) ,dengan catatan erupsi hingga ratusan kali sepanjang tahun 2025.
Gunung Marapi yang terletak dalam kawasan administrasi Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, yang berketinggian 2.891 mdpl merupakan bagian dari sekitar 127 gunung api aktif dari total 500 gunung api di Indonesia, dan menjadikannya salah satu negara dengan gunung api terbanyak di dunia.
Berdasarkan data terbaru Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dalam rentang bulan Agustus-November 2025, terdapat sejumlah gunung berapi di Indonesia beraktivitas di atas normal, dengan Gunung Lewotobi Laki-laki(NTT) di level Awas (Level IV), Gunung Merapi (DIY-Jateng) dan Ili Lewotolok (NTT) di level Siaga (Level III), serta puluhan gunung lainnya seperti Semeru, Bromo, Anak Krakatau, Sinabung, dan Rinjani di level Waspada (Level II).
Khusus Gunung Marapi, seperti diwartakan sejumlah media massa, termasuk Topsatu.com, pada Minggu (14/12/2025), Pos Gunung Api melaporkan Gunung Merapi menyemburkan abu vulkanik setinggi 1.200 meter pukul 16.37 WIB.
Dari laporan PGA setempat, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah utara. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 9,8 milimeter serta berdurasi sekitar 61 detik.
Gunung Marapi memiliki riwayat catatan letusan; Pertama, pada tanggal 8 September 1830 dilaporkan Gunung Marapi mengeluarkan awan yang berbentuk kembang kol abu-abu kehitaman dengan ketebalan 1.500 m di atas kawahnya, disertai dengan suara gemuruh. Kedua, Gunung Marapi meletus pada tanggal 30 April 1979, akibatnya 60 orang tewas dan juga 19 orang pekerja penyelamat terperangkap oleh tanah longsor. Letusan tersebut juga mengeluarkan batu dan lumpur yang menyebabkan kerusakan sedikitnya di lima daerah kawasan pemukiman penduduk setempat. Ketiga, memasuki akhir tahun 2011 hingga awal tahun 2014, Gunung Marapi menampakkan peningkatan aktivitasnya melalui letusan yang menyemburkan abu dan awan hitam. Pernah di akhir tahun 2011 semburan abu terbawa angin ratusan kilometer jaraknya hingga mencapai Kabupaten Padang Pariaman. Keempat, pada tanggal 26 Februari 2014, Gunung Marapi meletus pada pukul 16.15 WIB, melepaskan material pasir, tefra, dan abu vulkanik ke wilayah Kabupaten Tanah Datar dan Agam. Status gunung ditetapkan Siaga (level 2) dan radius 3 km dari pusat kawah harus dikosongkan. Kelima, pada tanggal 7 Januari 2023, Gunung Marapi mengalami erupsi pada pukul 6.11 WIB. Kelima, pada tanggal 3 Desember 2023, Gunung Marapi meletus, menyebabkan setidaknya 24 pendaki tewas. Abu mencapai ketinggian 3.000 meter (9.800 kaki) dan jatuh di wilayah terdekat yang menyebabkan hujan pasir di beberapa daerah sekitar gunung serta polusi udara. Zona eksklusi seluas 3 kilometer (1,9 mil) diumumkan. Kelima, bencana galodo (banjir bandang) terjadi di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Marapi pada 11 Mei 2024 di malam. hari Sebanyak 63 orang tewas dan 10 orang hilang akibat kejadian ini.
Saat ini, Gunung Marapi masih berstatus Waspada atau Level II. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi, antara lain melarang masyarakat, wisatawan, atau pengunjung berkegiatan di dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas (Kawah Verbeek).
PVMBG juga mengingatkan ancaman potensi lahar hujan, terutama bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang airnya berhulu di puncak gunung api. Kondisi tersebut terutama saat hujan atau musim hujan.
Kewaspadaan Terjadinya Erupsi
Mengingat Gunung Marapi Berstatus Waspada (Level II), seluruh elemen masyarakat, terkhusus yang tinggal tak jauh dari Gunung Marapi mesti mewaspadai dan kesiapan mereka saat terjadi erupsi, seperti yang ditekankan oleh BNPB.
Jika gunung meletus, segera lindungi diri dari abu dan awan panas dengan pakaian tertutup, masker/kain, dan kacamata, hindari area bahaya (lereng, lembah), ikuti arahan petugas, dan siapkan logistik evakuasi; jika di dalam ruangan, matikan listrik/kompor dan tutup ventilasi, sementara di luar ruangan, cari tempat berlindung kuat, sambil terus memantau informasi dari PVMBG/BPBD untuk evakuasi aman ke tempat pengungsian.
Edukasi Kepada Masyarakat
Terkait masalah Gunung Marapi, Pemda (Provinsi-Kabupaten-Kota) sudah melakukan edukasi secara berkelanjutan kepada masyarakat. Mengapa edukasi sangat penting? Menyelenggarakan program pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang risiko gunung meletus, tanda-tanda peringatan dini, dan tindakan yang harus diambil saat terjadi erupsi
Karenanya edukasi mitigasi bencana (sebelum, saat, dan sesudah erupsi) penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memahami bahaya (primer seperti awan panas, sekunder seperti lahar hujan, tersier seperti kerusakan lingkungan), mengetahui jalur evakuasi, dan cara melindungi diri, sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Program edukasi melibatkan pemerintah, akademisi, dan warga untukmembangun sistem mitigasi yang tangguh.
Setelah mengetahui apa yang harus dilakukan saat erupsi Gunung Marapi seperti poin di atas, diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat yang terdampak erupsi, sehingga korban akibat paparan atau dampak erupsi dapat lebih diminimalisir.(*)












