“Mana Wali Nagari?” tanya Benni Warlis.
Pertanyaan itu diajukan bupati Agam Benni Warlis saat akan memberikan sambutan pada acara peluncuran penyaluran beras cadangan pemerintah Jumat (18/7/2025) di Surau Ka’bah Nagari (Desa Adat) Panampuang, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam.
Tak ada sahutan dari Etiwarmon, sang Wali Nagari. Yang mengacungkan tangan merespon “absen” bupati adalah Sekretaris Nagari (Sekna) Panampuang, Syahril namanya. Tapi mengetahui wali nagari kehadirannya diwakili, bupati malah mengusir aparatur yang mengendalikan administrasi pemerintah terendah itu.
“Sudah, keluar saja. Ini malu kita ini. Wali Nagari dari daerah lain sementara banyak yang hadir,” tegasnya.
Patuh saja, Syahril langsung melucus keluar yang disaksikan lebih seratus orang yang hadir termasuk kepala OPD dan Perwakilan Badan Pangan dan Bulog. Pengunjung hening, ada berbisik ” asailah” , sebagian pegawai kecut, tapi ada yang menahan gelak, yang pasti banyak yang tidak setuju dengan “ketegasan” bupati itu.
Bupati Benni Warlis, memberikan pernyataan kata nya, Wali Nagari Panampuang, Etriwarmon sudah sering dilaporkan masyarakat, karena sering tidak hadir dalam kegiatan resmi. “Kegiatan resmi harus dihadiri wali nagari langsung, tidak boleh diwakillkan” kata bupati.
Wali Nagari Panampuang ini agaknya sudah “ditandai” oleh bupati, sebagai wali nagari yang sering tidak hadir di acara resmi.
“Wali Nagari ini sudah beberapa kali di acara Bupati, jarang sekali datang. Bukan hanya di sini, ini kekecewaan warga juga yang disampaikan pada saya,” bupati menjelaskan.
Camat IV Angkat Rahmad Fajri diperintahkan oleh bupati untuk membina Wali Nagari yang bersangkutan. Tentu saja camat dengan sigap bilang, “siap, siap, siap pak!” , dia berdiri dengan sikap sempurna .
Kejadian ini langsung dilahap oleh wartawan, terutama wartawan media online, tak berbilang jam, berita terbit dan di surat kabar pun terbit besoknya.
“Saya peringatkan Camat untuk koordinasikan lagi, lakukan pembinaan. Akan saya tindaklanjuti nanti. Bukan hanya sekali ini, beberapa waktu lalu kegiatan dengan Baznas tidak hadir juga,” kutip Antara online.
Tapi Seknag Syahril menjelaskan bahwa undangan kegiatan wali nagari di Padang mendadak dan tidak bisa pula diwakilkan.
“Wali Nagari sedang di Kota Padang ada kegiatan peningkatan kompetensi aparatur desa di bidang komunikasi publik,” ucap Syahril sebagaimana dikutip oleh media sambil menambahkan bahwa tidak ada masalah pribadi wali nagari dengan bupati.
Sebenar nya ini hal biasa dalam pemerintahan bahkan sejak Orde Baru dulu. Seorang Bupati dan Walikota, Gubernur Bahkan Presiden, biasa saja mengusir bawahannya dalam pertemuan dan rapat, jika itu perlu mereka lakukan, walau itu menjadi santapan enak pers dan media massa.
Seorang bupati era Orde Baru tidak hanya membentak dan mengusir, “malampang” bawahan pernah terjadi. Bagi ASN Agam sekarang, silakanlah bertanya kepada mantan PNS Agam yang pernah berdinas dimasa bupati M.Noor Syafe’i. Ini bupati bukan sembarang bupati, dia tentara, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dulu namanya, pangkatnya kolonel. “Acok sekali pak M.Noor Syafei malampang PNS yang madar, bukan hanya PNS , polisi yang tilang tilang PNS juga pernah dilampang pak M.Noor Syafe’i” kata seorang pensiunan yang sekarang sudah gaek.
Bupati Padang Pariaman, Anas Malik namanya, bapak itu top bukan di Pariaman saja, di seluruh Sumbar dulu tak ada yang tak kenal. Anas Malik yang sukses menjadikan Pantai Pariaman bersih ( dulu wese terpanjang di dunia) bahkan pernah menampar preman preman bermain domino di kedai, saat orang mulai bekerja disawah dan ladang, menggalas di pasar atau jam kantor. “Pagi pagi lah main domino ang!” itu kata Anas Malik.
Walau main lampang, bupati bupati dan walikota dulu dekat dan akrab dengan masyarakat. Rakyat merasakan ada pemimpin, walau tak jelas benar apa yang diberikan Kepala Daerah itu kepada mereka, yang jelas rakyat senang dan suka kepada bupati bagak, tapi penghiba kepada orang susah.
Lain pula gaya wali kota Padang, Syahrul Ujud namanya. Tak ada main kasar, dia berkomunikasi dengan rajin bersilahurahmi, dimana ada kemalangan dia ada disana, setiap diundang baralek dia pasti datang, semua orang disalami, bahu orang ditepuk tepuk, yang ditepuk berbunga bunga hatinya, itu ilmu ambok namanya, semua orang pasti suka diambok, bertaruh saya untuk itu, sehingga tak ada warga kota Padang yang tidak kenal dengan nama Syahrul Wujud.
Di Pasaman pernah ada Taufik Martha, ini tentara bagak juga, terkenal bagak dan tegas, tapi lakek tangannya membangun Pasaman luar biasa.
Pertanyaannya, apakah gaya kepemimpinan kepala daerah zaman Orde Baru itu masih relevan dizaman menjelang Perang Dunia ke 3 ini? Jawabannya tergantung situasinyalah, yang jelas dari insiden pengusiran oleh bupati Agam yang bahkan menjadi berita head line sebuah koran harian terkenal di daerah ini bagi saya menghasilkan beberapa catatan.
Tindakan bupati Benni Warlis dipastikan melahirkan berbagai penilaian dan kesimpulan ditengah tengah masyarakat diantaranya dipresentasikan lewat media massa dan medsos. Sebagaimana ditulis diatas, salah satu koran harian menulis di headline dengan judul Bupati Agam Usir Sekna Nagari Panampuang, Mendapat Berbagai Kecaman. Diberitakan banyak pihak mengecam Benni yang usir Sekna dalam pertemuan. Ada tokoh masyarakat yang menyebut cara mengusir itu mempermalukan orang dan tidak beretiket. Bahkan secara eksplisit dikaitkan pula dengan adat. “Apakah itu beradat namanya?” tanya seorang tokoh. Menurut saya penilaian ini agak berlebihan pi agaknya, sebab menyuruh keluar itu tidak termasuk mahariak mahantam tanah, sebagai sikap tabu seorang pemimpin Minangkabau.
Agam adalah kawasan darek, salah satu Luhak Nan Tigo, termasuk pusat Minangkabau selain Tanah Datar dan 50 Kota. Artinya, ini Luhak beradat, semua wilayah Minangkabau ber adat, tapi ini pusatnya, asal Adat Minangkabau, Syarak Mandaki Adaik Manurun.
Orang Agam ini telinganya tipis, gampang tersinggung, sensitif dengan ereang jo gendeang, walau pun kadang sulit diduga, iya belum tentu iya, tidak belum tentu tidak. Dalam tambo disebut karakter orang Agam itu dengan kiasan bumi nyo angek, aia nyo karuah, ikan nyo lia. Tentang ini, saya yakin Benni Warlis pasti paham, sebab beliau seorang ninik mamak dari Agam Tuo, Datuk Batuah gelar beliau.
Kembali ke pengusiran Seknag tadi, Seknag itu tidak salah, kemudian dia diusir, tentu sangat memalukan dirinya dapat perlakuan itu, dia sudah mewakili wali nagari, mengapa pula dia yang diusir di acara itu? Lagi pula, ketidakhadiran wali nagari di acara itu bukan karena bolos, atau tak suka bupati, tapi dia mewakili wali wali nagari Agam memenuhi undangan suatu kegiatan pelatihan di kota Padang dimana salah satu narasumbernya adalah pejabat Kejaksaan Tinggi.
Disisi lain, hal itu tak perlu terjadi jika komunikasi internal pemerintahan di Agam berjalan efektif. Di era digital ini, apa pula sarik nya berkomunikasi, wali nagari bisa what ap (WA) langsung pak bupati dan camat, atau lewat Diskominfo. Bupati sebelumnya, yang digantikan AWR, yaitu Indra Catri (IC), suka juga membaga baga bawahan, tapi setahu saya soal komunikasi beliau dengan siapa saja lancar, tak ada WA yang tak dibalas, kepala SKPD minta izin keluar daerah dalam propinsi cukup WA saja, walau acok mahariak, tapi tak pernah keluar di koran, aman aman saja.
Lain lagi Aristo Munandar, jarang sekali marah, dia lebih banyak membangun silaturrahmi, tak pernah nonjobkan bawahan, sepertinya Aristo meniru gaya kepemimpinan seniornya, Syahrul Ujud.
Saya tidak tahu kalau Benni Warlis menggunakan pendekatan ala IC dan Aristo dalam berkomunikasi atau tidak, tetapi saya dapat informasi bupati ini kurang dekat dengan pers. Patut diduga dalam kasus nagari Panampungan ini saya yakin wali nagari tak ada WA WA dengan bupati.
Di Medsos muncul aneka komentar baik dalam bentuk sindiran maupun kalimat langsung.
Salah satunya adalah status facebook milik Adrian Jambak, dia menulis, “Pemimpin yang peduli rakyatnya itu bukan hanya membentak anak buah didepan orang ramai lalu di posting, tapi kebijakannya yang berpihak kepada rakyat, karena rakyat gak butuh pencitraan, rakyat butuh kesejahteraan.Sampai disini jelas ya pak ya. ?? ” begitu tulis Adrian di statusnya.
Persepsi Adrian diatas menyimpulkan Benni Warlis berusaha mencari ruang untuk pencitraan atau membangun popularitas, ditengah minim informasi positif atas kepemimpinannya. Salahsatu hasil yang diharapkan adalah, munculnya persepsi positif bahwa bupati pemimpin yang tegas dan disiplin.
Tapi tak bisa pula dipungkiri kalau ada yang menyimpulkan “sikap tegas” bupati itu adalah residu Pilkada, Nyiak Wali ini tidak bersama beliau waktu Pilkada, padahal di nagari nya dibangun masjid ka’bah, apa iya benar begitu, saya tak tahu pula. Yang jelas bupati Agam Benni Warlis adalah seorang ninik mamak dan ulama serta seorang cendekia, tentu tidak akan berpandangan dan berpaham sempit, beliau seorang mantan birokrat yang berpengalaman.
Kesimpulan saya adalah, pengusiran Seknag itu oleh bupati hanya sebagai “teguran”, tapi karena peristiwa ini telah menjadi polemik, saya yakin Benni Warlis akan lebih berhati hati ke depannya. Mungkin yang perlu ditingkatkan efektifitas komunikasi dan silaturrahmi bupati dengan semua pihak, khususnya dengan aparatur sampai tingkat jorong, umumnya dengan semua komponen warga, apakah Pers, LSM dan Ormas Ormas, fokus lah untuk kemajuan Agam.












