Opini  

Roehana Koeddoes : Wartawati Pertama Indonesia dan Perannya dalam Pendidikan Perempuan

Roehana Koeddoes

Oleh Alya Humaira, Mahasiswi Unand jurusan Sastra Inggris 23

Roehana Koeddoes lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Ayahnya bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan bekerja sebagai kepala jaksa di pemerintah Hindia Belanda dan ibunya bernama Kiam. Roehana juga merupakan sepupu dari Agus Salim. Rohana tumbuh dalam keluarga yang gemar membaca. Sejak kecil ia sudah dapat mengakses material membaca seperti buku, majalah dan koran yang dimiliki ayahnya.

Pada masa itu, pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas, namun Roehana Koeddoes berhasil melampaui batasan-batasan tersebut. Pada umur 5 tahun Rohana sudah mengenal abjad latin, arab dan arab melayu berkat didikan ayahnya. Ketika Roehana beranjak usia 6 tahun ayahnya pindah tugas ke Alahan Panjang sebagai juru tulis, disana ia diajari membaca, menulis dan berhitung oleh tetangga nya, Jaksa Alahan Panjang Lebi Jaro Nan Sutan dan Adiesa yang menganggap Roehana sebagai anak mereka sendiri, lantaran tidak memiliki anak. Rohana juga bisa berbahasa Belanda di usia 8 tahun.

Meski tidak memiliki pendidikan formal, Roehana sangat peduli dengan nasib perempuan yang tidak memiliki kesempatan untuk mengemban pendidikan. Ketidaktersediaan sekolah untuk perempuan lah yang mendorong Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, sekolah yang mengajarkan kaum perempuan tentang keterampilan. Semangat juang Roehana untuk mendirikan sekolah sungguh berkobar kobar. Kepada suaminya Abdul Koeddoes, Roehana mengucapkan keinginan nya untuk memperluas perjuangan nya itu. “Kalaupun hanya mengajar, yang bertambah pintar hanya murid-murid saya saja. Saya ingin sekali membagi berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan kaum perempuan di daerah lainnya.”

Setelah berdiskusi dengan suaminya itu, Roehana akhirnya mengirimkan surat kepada Datuk Sutan Maharadja, yang merupakan pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, di Padang. Rohana menyampaikan keinginannya agar perempuan dapat menerima kesempatan pendidikan yang sama dengan laki-laki. Rohana juga mengusulkan agar ada ruang untuk tulisan perempuan. Dengan itu, lahir lah surat kabar “Soenting Melajoe”. Tulisan yang dimuat di Soenting Melajoe beragam. Selain berita terjemahan dari bahasa Belanda yang dikerjakan Roehana, koran tersebut juga menyajikan sejarah, tulisan kontributor dan juga puisi.

“Pahlawan perempuan yang gerakan nya secara lokal namun berhasil menginspirasi secara nasional,” ujar seorang dosen Universitas Andalas Padang, Dr. Ilmiawati, ketika di wawancarai.

Dalam buku 100 Great Woman yang disusun oleh Fenita Agustina dkk., terungkap bahwa banyak petinggi Belanda yang mengagumi kemampuan dan prestasi Roehana. Perjuangannya yang luar biasa juga diabadikan dalam beberapa surat kabar sebagai pionir pendidikan perempuan di Sumatera Barat.

“Dia orang yang sebenarnya yang tidak terkungkung oleh peran gender di masa itu, ia inisiatif, ia bergerak dan ia lahir di minangkabau yang matrilineal nya terasa di zaman itu,” Ujar Dr. Ilmiawati.

Roehana Koeddoes menjadi teladan bagi banyak wanita Indonesia dengan membuktikan bahwa perempuan juga mampu berprestasi di bidang pendidikan dan jurnalistik. Sebagai contoh, dalam sebuah wawancara, dia pernah berkata, “Perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki. Mereka harus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan berkontribusi pada masyarakat.” Peran Roehana Koeddoes tidak hanya terbatas pada kesuksesannya sebagai wartawati, tetapi juga dalam memperjuangkan pendidikan yang setara bagi perempuan. Dia aktif mempromosikan akses pendidikan bagi perempuan di berbagai kesempatan dan menjadi panutan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

“Menurut saya pribadi Roehana Koeddoes ini sosok wanita yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral HAM sesama manusia,” Ungkap salah satu mahasiswi jurusan hukum Universitas Andalas, Syifa Harty Suryani

Roehana Koeddoesjuga memiliki pengaruh yang besar dalam budaya lokal. Melalui tulisannya, dia memperkenalkan budaya dan tradisi kepada masyarakat luas, menjadikannya sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam melestarikan kearifan lokal. Perjuangan Roehana Koeddoestidak hanya memperjuangkan hak pendidikan perempuan, tetapi juga pemberdayaan perempuan secara luas. Dia mendukung pemberian kesempatan yang setara bagi perempuan dalam berbagai bidang, termasuk politik dan ekonomi.

“Menurut ku Roehana Koeddoesadalah sosok pahlawan sejati, ia memiliki peran yang besar dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia. Dengan sifatnya yang tekun dan giat, ia pun berhasil mewujudkan impiannya itu.” Ucap salah satu mahasiswa jurusan sastra Inggris Universitas Andalas, Yuke Yulia Evan ketika di wawancarai.