Padang  

Rektor Upgrisba Prof. Ansofino: Universitas Ini  Satu Satu nya Perguruan Tinggi Yang Mengkonservasi Budaya Minangkabau.

­PADANG, _Budaya Minangkabau  sebagai Mata Kuliah   Unggulan di Upgrisba telah berkontribusi  dalam rangka menkonservasi Budaya Minang Kabau sebagai ke arifan lokal yang telah menjadi kekayaan bangsa. Kebudayaan Minangkabau yang terkenal unik, telah  banyak dilirik oleh masyarakat nusantara bahkan  dunia, perhatian dunia sangat tinggi,   padahal etnis Minangkabau secara kuantitatif sangat sedikit dibanding jumlah penduduk Indonesia apalagi dunia.

Hal itu diungkapkan oleh Rektor Universitas PGRI Sumbar (Upgrisba) Prof Dr. Ansofino  pada acara pembukaan Festival Budaya Minangkabau dan Kewirausahaan sebagai penutupan perkuliahan sekaligus Ujian  Akhir Semester (UAS) pada tahun ajaran semester genap tahun 2024.
Rektor Ansofino didampingi oleh ketua Badan Pengawas Harian (BPH) Upgrisba Dr. H. Dasrizal dan anggotanya Dr.H.Buchari Nurdin para Wakil Rektor,  Ketua Prodi, Dosen pengampu  Budaya Minangkabau Dr.Zulfa,  M.Khudri,  Yazirman Murad dan mahasiswa sebanyak 12 rombel pengikut  mata kuliah Budaya  Minangkabau yang diwajibkan di Perguruan Tinggi ini sejak tahun 2015 lalu.

Walaupun telah melakukan upaya  konservasi budaya Minangkabau,     namun  kita belum benar benar berhasil.  Untuk itu,  kata Ansofino tidak ada salahnya kita belajar kepada negeri Cina, sebagaimana perintah Nabi  Muhammad,  yaitu tuntut lah ilmu sampai ke negeri Cina, kita perlu belajar kesana, saya terkagum kagum dengan Cina ini. “Tapi sebagai orang Minang yang belajar budaya Minangkabau,  saya juga kagum dengan budaya Minangkabau”  kata Antono .

Ansofino menjelaskan,  Cina mengkonservasi Budayanya sejak 19 abad lalu, sampai sekarang  Budaya mereka  masih bertahan. Ternyata di Cina strategi mengkonservasi budaya mereka, diantara yang bisa  kita lakukan adalah  Documentation and Research.  “Mendokumentasikan dan me riset budaya ini tugas universitas,  dulu bakalam dilidah,  batambo ditangan. Sehingga kita tidak  punya catatan tentang kemegahan masa lalu, sebagai contoh,   kemegahan Pagaruyuang kita tak punya catatannya”  katanya.
Hari ini  kata Rektor, pencatatan itu lebih canggih,  dalam  perspektif ekonomi kreatif,  bisa dalam bentuk cerita komik, komik digital,   kita punya banyak cerita,  banyak sekali,  ada cerita Malin  Kundang, ada cerita Cindua Mato, Cerita Si Bungsu,   tidak ada komiknya.
“Saya berharap lahir komik cerita Budaya Minangkabau, bisa secara digital atau,  film pendek  dan sebagainya, dengan itu  kita bisa  mendokumentasikan Budaya Minangkabau”  jelasnya.
Di Cina,  mereka melindungi situs sejarah, peninggalan peninggalan sejarah mereka yang panjang mereka konservasi. “Kita di Minangkabau punya jalur kereta api, tapi tidak kita  pelihara,  itu jalur kereta api zaman kolonial,  seharusnya mata kuliah ini hendak nya melakukan riset riset kecil” katanya,
Selanjutnya,  Culture Education,  pembelajaran budaya,  salah satunya  dengan  melindungi bahasa atau Langgue Conservation.  Orang Cina sangat melindungi bahasa mereka,  terutama dalam bisnis,  kalau dalam bisnis mereka menggunakan bahasa mereka, apalagi dalam mempertahankan budaya mereka. ” Orang kita malu berbahasa Minang,  ini adalah salah satu kelemahan orang Minang, saya perhatikan di rantau, banyak sekali orang awak ini malu berbahasa Minang, bahkan ada yang tidak mau ngaku kalau dia orang Minang” katanya.

Baca Juga  BPBD Padang Bersihkan Pohon Tumbang di 20 Titik

Ini yang sedang kita lakukan,  dengan mewajibkan perkuliahan budaya Minangkabau artinya kita telah mengkonservasi budaya. Mata kuliah Budaya Minangkabau ini wajib  menanamkan kebanggaan  mahasiswa akan keminangannya.  “Jangan sampai malu menjadi orang Minang, saya bangga sekali menjadi orang Minang,  karena kita memiliki banyak kelebihan ”  kata Rektor.

Ketiga kata Ansofino,  Digital Preservation,  atau pelestraian budaya dengan digital.  Di Cina sangat intensif mendigitalisasi budaya mereka,   kita bisa pula melakukan  itu,  “Sebagaimana yang saya sebut tadi,  kita bisa mendigitalisasi budaya kita, Sebagaimana yang sudah dimulai,  kita telah punya telempong digital yang sudah punya HAKI,  ini harus kita diintensifkan dengan menggali potensi budaya Minangkabau” jelas Rektor

Baca Juga  Padang Kembali Diselimuti Kabut Asap

Ketua BPH Dasrizal dalam sambutannya mendukung paparan Rektor Ansofino.  Dasril mengajak mahasiswa agar memelihara nilai budaya Minangkabau. ” Selain untuk diri pribadi ananda, budaya Minangkabau ini ananda kembangkan  dan ajarkan pula kepada murid muridnya nanti” kata Dasrizal.
Banyak sekali nilai nilai Minangkabau dalan perkuliahan ini yang ananda dapatkan. ” Nilai itu  antara lain  etika dan norma norma,  tahu dengan nan ampek,   tentang raso dan pareso,  kemampuan menempatkan diri dalam bersikap dan berbicara”  kata Dasrizal

 

Seusai pembukaan langsung digelar festival,  sebanyak 12 kelas menampilkan tari tradisi kabupaten kota se Sumbar yang dinilai oleh tim juri.  (MK)