Opini  

Patroli Malam di Hutan Jati dengan Mobil Bak Terbuka

Oleh
Khairul Jasmi

Malam mulai memanjat dinding sepi, ketika mobil bak terbuka yang kami naiki berhenti di Dusun Bringin, Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jatim, Jumat (31/7/2026). Saya jauh dari rumah.

“Tak biasa kemping,” kata Ketua Dewas Perum Perhutani, Raden Mas Aris Santosa, ketika melihat saya turun dari bak terbuka, seperti orang kehilangan anak tangga.

Di depan mata, ada rumah dinas Perhutani. Rumah dari kayu jati, sudah tua. Ada ratusan rumah penduduk di situ, seperti enklaf. Tak ada sesiapa pun. Cahaya temaram di teras rumah penduduk memberi pantulan pada gelap di malam hening ini. Tadi, kami telah melewati hutan jati, yang diam.

Kami bergerak dari Kota Madiun bersama Direktur Operasi Wawan Triwibowo dan jajaran. Dari Kota Madiun lewat Wungu dan RS Paru Dungus menuju Kare, kami melewati dua hutan Perhutani, kanan-kiri jalan penuh pohon jati menjulang. Batang-batang jati berdiri rapat, lurus, seperti tiang-tiang rumah gadang yang tak berdinding. Cahaya lampu menyapu lantai hutan yang penuh daun jati kering, kelabu keperakan. Di sela tajuk, langit malam tinggal segaris biru tua. Seutas kabel listrik melintas di atas, satu-satunya tanda zaman.

Di posko pengamanan tumbuh menjulang sebatang jati berusia 100 tahun. Akar jati itu mencengkeram tanah seperti jari raksasa. Sarung kotak-kotak membalut batangnya. Saya berkodak di sana bersama Kadewas. Kami berdua tampak kecil di kakinya.
Setelah menusuk sampai ke Dusun Bringin, kami balik kanan. Sekarang di jalan raya, mobil meluncur jauh, lalu berbelok ke kiri. Melewati desa-desa yang juga telah tidur. Melaju lambat ke hutan jati, terus seperti masuk pada lorong waktu.
Jati saja sekeliling. Teringat saya kursi mahal di Padang, “kursi jati.” Tak tahu kayunya di belahan mana, mungkin Jepara.

Baca Juga  Amerika Serikat Macam Orang Bagak Bawa Ladiang di Selat Hormuz

Kami singgah di pos jaga hutan. Dindingnya papan, dicat hijau pupus, sudah mengelupas di sana-sini. Di dinding itu tertempel rekapitulasi gangguan keamanan hutan tahun 2025: RPH Mruwak, BKPH Brumbun, KPH Madiun. Angka-angka berbaris. Pencurian pohon, perusakan hutan, temuan dalam kawasan. Nilai kerugian ratusan juta rupiah.

Kadewas berdiri lama menatap tabel itu, topinya hijau, rompinya bertuliskan Perhutani di punggung. Di sebelahnya, spanduk kecil: RPH Mruwak, Pos Petak 6, lambang Polhut merah hitam. Ada peta kerja digambar tangan, ditempel begitu saja.

Di dalam pos, kami duduk mengelilingi meja kayu panjang. Bangkunya keras. Di dinding, poster satwa dilindungi dan kalender 2026. Sebuah buku catatan terbuka di atas meja, pena tergeletak.

Empat wajah menengadah ke satu arah, mendengarkan. Malam-malam begini, di tengah hutan jati, rapat berjalan juga.
Pos berikutnya, Pos Petak 34, RPH Malang, masih BKPH Brumbun. Di dindingnya struktur kepegawaian tahun 2026, lengkap dengan foto: asper, KRPH, para mandor polter. Nama-nama penjaga hutan yang tak pernah masuk koran. Di bawah spanduk, ada coretan tanggal dengan pensil di papan: 25-02-25. Entah siapa yang menulis, entah menandai apa.

Baca Juga  Yang Rajin dan Vokal yang tak Terpilih

Dan, di pemberhentian terakhir ada mata air dan dibuatkan kolam pemancingan. Para penjaga hutan itu, pria-pria perkasa, menyalami kami dengan takzim.

“Selamat datang, Ndan,” katanya. Tentu ucapan itu bukan karena ada bintang tiga di topi Kadewas, melainkan demikian adab mereka. Lalu mereka memberi hormat, seperti prajurit yang menyambut rombongan kawannya yang balik berjuang.

Malam telah jatuh ke bulan Agustus. Kami lapar-lapar tanggung, siap santap mie. Setelah lama berbincang, kami pamit dengan salam nan takzim, lalu meluncur lagi ke kota. Kawan-kawan penjaga hutan rimba Pulau Jawa di sini, bekerja siang malam, ketika orang-orang sudah tidur di dipan kayu jati.
Patroli dengan mobil kap terbuka dikawal beberapa motor trail, salah satunya dikendarai Wawan Triwibowo. Bunyinya meraung seolah merobek malam. Memasuki hutan jati Perhutani seperti melangkah di kompleks perumahan. Ada blok-blok, petak-petak dan anak petak. Dipakukan dalam peta sejak zaman Belanda. Peta ini selalu dibawa petugas.

Malam mulai ambil ancang-ancang hendak menyambut subuh ketika saya merebahkan diri di kamar hotel. Inilah perjalanan sekitar 4 jam yang menggoda keingintahuan saya. Hutan jati memang woke. *