Karena Pertamina Kami Berdaya dan Berjaya

Santi, menjahit baju pesanan pelanggannya. Kepandaian menjahit didapatnya dari pelatihan porgram CSR Pertamina. Ist

Setelah ikut pelatihan menjahit yang berlangsung 4 bulan, Santi kembali mengulang pelajaran yang ia dapat dengan membongkar pakaian jadinya dan menjahitnya kembali sebagai bahan praktik. Kemudian dia membuat baju anak-anak dan keluarga lain. Hasilnya cukup baik. Kemudian ia memberanikan diri menerima orderan untuk orang lain hingga sekarang. Untuk model pakaian atau aksesoris yang mau dia buat, Santi selalu menggupdatenya di internet, sehingga produk yang dia buat terkesan baru dan tidak pasaran.

Menurutnya, dalam menjalankan usaha intinya ada niat. Kemudian ada kemauan untuk bekerja dan terus bekerja serta membuat pesanan terbaik untuk pelanggan. Sekali saja hasilnya bagus dan memuaskan maka orang akan kembali. Sebaliknya, jika kerja kita tidak bagus orang akan pergi dan mencari yang lain.

Diceritakan Santi, Lebaran Idul Fitri 2019, orderannya cukup banyak. Ia pun kalang kabut menerima pesanan. Pesanan terbanyak baju seragam keluarga. Begitu pula untuk soal permak pakaian juga tak kalah banyak. Dan Lebaran kemarin itu dia pun bisa menjahit sendiri baju Lebaran untuk anak-anaknya.

“Anak-anak saya bangga dapat baju Lebaran yang saya jahit sendiri. Modelnya saya tiru dari youtube dan tidak pasaran. Pas mereka pakai banyak pula yang suka dan bertanya, dimana baju itu dibeli. Langsung saja saya jawab, bajunya tidak dibeli tapi saya buat sendiri,” cerita Santi, dengan mata berbinar.

Sejak dirinya dikenal sebagai tukang jahit, penghasilan Santi, terus membaik dari hari ke hari. Jika dikalkulasikan, minimal Rp75 ribu per hari. Belum lagi orderan permak pakaian. Dari hasil itu dia pun sudah punya simpanan di bank sedikit banyaknya.

Ke depan Santi, berharap program CSR Pertamina dan PKPU Human Initiative terus berlanjut, agar dia bisa mendapatkan ilmu yang lebih dari sekarang.

“Harapannya kalau ada pelatihan menjahit lagi, saya ingin pelatihnya yang bisa membuat baju kebaya. Sebab saya belum bisa buat kebaya. Kebaya sekarang banyak dipesan orang, sedangkan saja belum pernah belajar,” harapnya.

Suami Santi, Murtiadi seorang nelayan, yang mengandalkan laut sebagai tempat mencari nafkah. Ketika musim hujan tiba, sang suami tak bisa melaut. Usaha jahit Santi lah yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Yulista Susanti dan Santi Safitri berharap, wabah Covid-19 cepat berlalu dan program CRS PT. Pertamina Bungus Teluk Kabung, Padang Sumatera Barat tetap berjalan, agar ekonomi masyarakat di daerahnya tetap bergerak.

 

Ekonomi Berdaya