PADANG – PT Semen Padang tengah menguji coba larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai pakan alternatif ikan nila. Uji coba ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk mendukung pengelolaan limbah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
Kegiatan ini dilaksanakan di Pokdakan Lubuk Tampurung Indah, Kecamatan Kuranji, Padang, dan melibatkan kerja sama dengan Pemerintah Kota Padang serta Universitas Andalas. Empat jenis pakan diuji secara paralel guna mengidentifikasi pakan terbaik berdasarkan efisiensi dan hasil pertumbuhan ikan.
Kepala Seksi TJSL Unit CSR PT Semen Padang, Edi Fahrizal, menjelaskan bahwa inti program adalah mengubah sampah organik menjadi maggot yang bernilai ekonomi tinggi. “Maggot kami jadikan pelet alternatif. Jika hasilnya efektif, ini bisa menjadi solusi atas mahalnya pakan ikan komersial,” ujarnya.
Empat jenis pakan dalam uji coba tersebut adalah pakan komersial murni, pakan olahan Gerpari (roti, susu kedaluwarsa, ampas tahu), pelet Kito SP (berbasis maggot), serta kombinasi pakan komersial dan maggot segar. Setiap perlakuan dilakukan dengan tiga kali ulangan untuk validasi.
Edi menambahkan, program ini merupakan bagian dari siklus maggotisasi, yakni pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi bahan baku pakan. “Dengan pendekatan ini, kita bisa kurangi sampah kota sekaligus bantu petani ikan lebih hemat biaya,” katanya.
Langkah inovatif ini juga sejalan dengan prinsip ISO 26000 serta Peraturan Menteri BUMN tentang pelaksanaan program TJSL. Hal ini menunjukkan komitmen PT Semen Padang terhadap pembangunan berkelanjutan dan kebermanfaatan sosial.
Pemerintah daerah menyambut positif inisiatif tersebut. Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang, Alfian, kehadiran pakan maggot sangat potensial dalam membantu pembudidaya kecil yang selama ini terbebani oleh harga pakan tinggi.
Selain berkontribusi pada sektor perikanan, program ini juga mendukung Asta Cita Presiden Prabowo dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pengurangan limbah domestik. Jika sukses, pendekatan ini bisa direplikasi di wilayah lain di Indonesia. (*)












