Opini  

Belajar di Negeri Dingin Tanpa Salju

Pemred Harian Singgalang, Khairul Jasmi ketika memberikan pelatihan menulis di Convention Hall Alahan Panjang, Kabupaten solok.

 

Oleh Roni Aprianto/ Wartawan Madya

Jarum jam menunjukkan pukul 13.45 WIB. Hawa dingin tetap saja terasa di kawasan wisata Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Hanya saja tidak sedingin ketika malam hari. Alahan Panjang dikenal dengan negeri dingin tanpa salju.

Selasa 5 November 2024. Saya baru saja selesai berkemas- kemas, hendak menuju Convention Hall untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas SDM wartawan yang digagas Kominfo Dharmasraya. Acaranya pukul 14.00 WIB. Pematerinya, Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi.

Saya tiba di Kawasan Wisata Alahan Panjang, Senin (4/11) bersama kru Kominfo Dharmasraya dan puluhan wartawan lainnya. Saya bersama wartawan LKBN Antara, Ilka Saputra, wartawan Online, Brando, Oscal Rupada dan Dika Delo’id menginap di salah satu villa di kawasan wisata itu. Anggrek 5 namanya. Ruangannya cukup luas, terdapat empat tempat tidur dan dua kamar mandi, itu saja tak ada yang lain.

Convention Hall tak jauh dari tempat saya menginap. Jalan kaki, 3 menit sampai. Belum tiba di Convention Hall, android saya berbunyi, rupanya panitia acara bernama Amrijal menelfon.

” Assallamualaikum,” saya menyapa.

“Waalaikumsalam,” balas Amrijal sembari minta tolong menghubungi Pak Khairul Jasmi.

Tanpa memperpanjang obrolan, saya lantas menghubungi penulis hebat itu. Handphone berdering.” Sudah sampai dimana Bang,” saya bertanya kepada Komisaris Semen Padang itu.

Baca Juga  Visi, Misi, dan Karakteristik Lembaga Pendidikan Islam

“Sudah dekat, tak lama lagi saya sampai,” terang wartawan yang akrab disapa KJ ini.

Tak berselang lama, Innova hitam tiba di lokasi. KJ disambut hangat Kadis Kominfo, Rovanly Abdams, Kabid Kominfo, Misbah Mutakhir, Kru Kominfo Amrijal dan puluhan wartawan.

KJ tampak cool dengan style kemeja putih, celana hitam. Ia tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Di awal pelatihan, pemateri memperlihatkan dua foto. Foto pertama sesosok petani dan hamparan sawah. Foto kedua satu unit laptop yang di sisi kirinya terdapat secangkir minuman. Dua foto tersebut untuk memancing naluri jurnalistik para wartawan.

“Perhatikan dua foto ini, apa kira- kira yang menarik dari dua foto ini untuk dijadikan tulisan,” terang  KJ.

Puluhan wartawan yang ikut dalam kegiatan, terdiam, serupa orang terhipnotis. Lantas wartawan senior itu pun menjelaskan secara detail sudut- sudut pandang yang menarik di dalam foto itu untuk dijadikan tulisan.

“Hari ini kita tidak belajar membuat berita, karena saya yakin semuanya sudah bisa. Hari ini kita belajar menulis,” terangnya.

KJ pun menerangkan secara singkat, padat, bagaimana cara menulis dengan baik, cara mengambil sudut pandang yang menarik untuk ditulis, menulis cepat, agar tulisan enak dibaca dan cara mendapatkan data.

“Tidak seorang pun bisa menulis dengan baik jika tidak dicoba. Menulis bukan ilmu tapi keterampilan. Keterampilan itu perlu latihan. Kalau sudah dilatih maka akan bisa dengan sendirinya. Dan akhirnya yang kita tulis itu menjadi ilmu bagi banyak pembaca,” jelasnya.

Baca Juga  El Nino Segera Tiba, Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

Pada sesi latihan tersebut juga diwarnai canda tawa, mencairkan suasana tegang. Rupanya di balik tampilan yang cool, penulis ini pun humoris.

Di dalam pelatihan ini, KJ juga menantang peserta untuk menulis, langsung diucapkan apa yang ada dalam pikiran. Tanpa basa- basi tiga orang langsung menerima tantangan itu, yakni wartawan Padang Eskpres, Zufia Anita, Haluan  Maryadi dan saya.

“Menulis itu lepaskan beban apa pun. Befikir dulu, selesai dalam kepala kemudian pindahkan ke tulisan. Artinya, jangan berfikir saat menulis, tapi berfikirlah sebelum menulis,” terangnya.

Lanjut KJ, wartawan itu mesti punya rasa bahasa atau ciri khas bahasa. Bahasa tulis jurnalis ibarat pedang di tangan pesilat, menyatu, tidak memberatkan.

“Menulis itu berat, tapi akan mudah jika sudah mendapatkan darimana mesti memulainya. Menulis jangan copy paste. Jika membiasakan, salin tempel , saat itu Anda sudah berhenti jadi wartawan yang sesungguhnya,” jelasnya.

Di akhir acara, Dinas Kominfo memberikan hadiah tanda apresiasi kepada wartawan yang pro aktif dalam kegiatan tersebut. Diserahkan langsung narasumber KJ. Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. (***)