Investor Lokal Militan untuk Mewujudkan Ekonomi Mandiri, Berdaulat, dan Maju Bersama

LITERASI DINI - OJK Perwaklan Sumbar menggelar lomba mewarnai tingkat TK, untuk literasi keuangan sejak dini, pada hari BIK 2025, Sabtu (19/10/2025). (Hendri Nova)

Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com

“Kalau kalian memang cinta pada Indonesia dan tak ingin perusahaan-perusahaan besar Indonesia dikuasai atau dimiliki asing dalam porsi besar, maka kalian harus menjadi investor pasar modal yang militan. Beli saham perusahaan tersebut, tahan, dan jadilah penabung saham andalan Indonesia, lalu nikmati deviden yang dibagikan setiap tahunnya pada kalian para investor,” kata Early Saputra, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Barat (Sumbar) dalam sebuah sekolah pasar modal di Padang.

Early menyampaikan materinya dengan penuh semangat, sehingga berhasil menarik perhatian para investor muda dari beberapa Perguruan Tinggi di Sumbar. Mata mereka terbuka lebar, apalagi ketika disinggung masalah nasionalisme.

“Jadi apakah besarnya kepemilikan asing di perusahaan besar Indonesia, dapat mengakibatkan ketidakstabilan politik, terutama saat pemilu presiden maupun reshuffle kabinet dan penggantian Menteri Keuangan?” tanya Aldo, salah seorang mahasiswa UNP.

“Iya tepat sekali. Dan ini selalu selalu terjadi dan terjadi lagi di setiap dua peristiwa penting itu atau jika terjadi demo besar-besaran. Terutama seusai pemilu, bagaimana investor asing ramai-ramai menjual sahamnya, karena takut dengan ketidakstabilan politik. Mereka hanya mau modalnya aman dan mereka akan kembali lagi, setelah yakin tensi politik sudah tenang,” jawab Early bijak.

Semua peserta tanpa mengangguk-angguk pertanda paham akan yang disampaikan. Alhasil, para peserta pada hari itu membuka rekening saham, pada mitra-mitra sponsor di acara tersebut.

Apa yang dikatakan Early memang sebuah fakta yang tak bisa dibantah. Contohnya saja saat Jokowi terpilih sebagai presiden dua periode.

Situs cnbcindonesia.com membuat judul besar ‘Jokowi 2 Periode, Asing Kok Tinggalkan Pasar Saham Indonesia?.’ Juga di saat ada gugatan hasil Pilpres ke MK, cnbcindonesia.com menurunkan judul berita ‘Investor Asing Mulai Kabur dari RI, Karena Gugatan Pilpres ke MK?’

Masih banyak lagi berita serupa, seperti saat terjadinya demo yang menggugat kebijakan pemerintah. Investor asing langsung melakukan aksi jual bersih mengamankan dananya ke aset luar negeri lainnya.

Hengkangnya investor asing di Pasar Modal Indonesia, sudah pasti akan mengganggu perekonomian Indonesia. Apalagi jika kepemilikan mereka melebihi 50 persen seperti di tahun 2019, dimana porsinya sempat mencapai lebih dari 50% (51,85%).

“Sejak pandemi 2020, dominasi komposisi kepemilikan di pasar saham bergeser dari yang sebelumnya mayoritas dimiliki investor asing menjadi investor domestik,” ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy, seperti dikutip dari cnbcindonesia.com Rabu (23/7/2025).

Menurutnya, komposisi kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia tercatat sebesar 45,91% pada akhir Juni 2025. Angka ini turun dari sepuluh tahun yang lalu, yaitu sebesar 63,79% pada tahun 2015.

“Dengan demikian, basis investor domestik pada pasar modal Indonesia menjadi lebih solid dan dapat menjadi cushion yang lebih baik jika terjadi tekanan eksternal,” sebutnya.

Menurutnya, peningkatan kepemilikan investor domestik tidak terlepas dari pertumbuhan investor yang pesat yang didukung oleh edukasi dan literasi keuangan yang meningkat pula.

DAFTAR – OJK Perwaklan Sumbar menggelar pendaftaran investor baru, untuk literasi keuangan, pada hari BIK 2025, Sabtu (19/10/2025). (Hendri Nova)

Irvan mengungkapkan, komposisi kepemilikan investor domestik di pasar saham Indonesia yang mendominasi saat ini, jika dirinci lebih lanjut, komposisi kepemilikan investor ritel yang hampir seluruhnya adalah investor domestik, tercatat sebesar 18,2% per Juni 2025. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, tahun 2015 yang sebesar 6,5%.

Sementara itu, pada Juni 2025, komposisi kepemilikan investor institusi domestik juga masih cukup besar, yakni 38,2%, naik dari 30,1% pada 2015. Sisanya, investor asing memegang 43,6% dari total nilai kepemilikan.

“Hal ini menunjukkan bahwa secara total, investor domestik, baik ritel maupun institusi masih mendominasi modal di pasar saham Indonesia,” imbuhnya.

Pengaruh investor asing, kata Irvan, tentunya masih relevan, terutama pada saham berkapitalisasi besar. Namun secara struktural, dominasi investor asing sudah menurun dibanding 10 tahun lalu karena pertumbuhan pesat investor domestik, baik institusi maupun ritel, yang menyokong likuiditas pasar.

“Kami berharap partisipasi yang imbang antara domestik dengan lokal, sehingga dapat terwujud pertumbuhan yang sehat dari pasar modal Indonesia,” tuturnya.

Dari sisi aktivitas transaksi, investor ritel domestik menyumbang sekitar 44% dari total transaksi hingga Juni 2025, menjadikan investor ritel sebagai kontribusi terbesar di pasar modal RI.

“Melihat peran penting tersebut, BEI terus mendorong partisipasi investor ritel melalui berbagai kegiatan edukasi baik offline maupun online yang dijalankan bersama berbagai stakeholder, seperti kantor perwakilan BEI di seluruh wilayah Indonesia, duta pasar modal, galeri investasi, serta melalui media sosial untuk menyebarkan informasi terkait pasar modal,” pungkasnya.

Baca Juga  Mau Ajukan Pinjaman KUR Bank Mandiri? Lengkapi Dulu Syarat Berikut Ini

Investor Lokal Militan

Di masa datang, kegiatan edukasi harus lebih gencar lagi dilakukan BEI dan semua perangkat lainnya. Semakin banyak masyarakat yang terliterasi, maka akan semakin banyak mereka berinvestasi di Pasar Modal Indonesia.

Apalagi dari total populasi Indonesia pada tahun 2025 yang berkisar antara 278 hingga 280 juta jiwa, baru sekitar 6,8% dari total populasi yang terdaftar di Pasar Modal Indonesia. Angka ini menunjukkan peluang yang sangat besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia untuk jadi investor di Pasar Modal Indonesia.

Sementara Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per awal November 2025 mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai sekitar 19,32 juta Single Investor Identification (SID) atau menjadi investor pasar modal.

Lalu apa yang akan terjadi, jika literasi keuangan yang dilakukan BEI dan perangkat terkait, berhasil meliterasi Indonesia dari TK sampai PT?

Jika seluruh peserta didik di Indonesia, dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT), memiliki SID, maka akan terjadi lonjakan jumlah investor yang luar biasa signifikan dan membawa dampak transformatif bagi pasar modal Indonesia.

BERKERUMUM – Warga Padang berkerumun mendaftar jadi investor pada iven yang digelar OJK Perwaklan Sumbar yang juga menggelar pendaftaran investor baru, untuk literasi keuangan, pada hari BIK 2025, Sabtu (19/10/2025). (Hendri Nova)

Skenario ini akan menghasilkan beberapa dampak fundamental, dimana akan terjadi perubahan budaya. Investasi akan menjadi bagian dari budaya sejak dini, bukan lagi hal yang asing atau eksklusif.

Indonesia akan memiliki generasi melek finansial. Indonesia akan memiliki generasi muda yang memahami risiko dan potensi keuntungan investasi sejak dini, mengurangi potensi terjebak dalam investasi ilegal (bodong) di masa depan.

Juga akan terjadi penguatan likuiditas dan kemandirian Pasar Modal Indonesia. Jika basis investor domestik kuat, maka Pasar Modal Indonesia akan didominasi oleh investor domestik, mengurangi volatilitas akibat sentimen investor asing dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Alhasil, potensi ini akan menjadi sumber dana pembangunan. Dana yang terhimpun dari jutaan investor muda ini akan menjadi sumber pembiayaan jangka panjang yang sangat besar, bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Secara otomatis, maka akan terjadilah pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pemerataan kesejahteraan, dimana keuntungan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia akan dinikmati secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat melalui kepemilikan saham atau instrumen investasi lainnya.

Sementara perkiraan pertambahan SID-nya sangat luar biasa. Total peserta didik Indonesia (TA 2024/2025) dari data BPS dan Kemendikbud tercatat jumlah peserta didik (TK hingga SMA/SMK) sekitar 52,9 juta siswa. Ditambah estimasi mahasiswa PT (sekitar 9-10 juta), maka total peserta didik mencapai sekitar 62-63 juta jiwa.

Sementara total SID saat ini, November 2025 mencapai sekitar 19,32 juta SID. Sedangkan total populasi Indonesia (2025), diperkirakan sekitar 284,4 juta jiwa.

Jika diasumsikan sebagian besar peserta didik tersebut belum memiliki SID, potensi penambahan adalah sekitar 63 juta SID baru. Dengan demikian, jumlah total SID akan meningkat drastis menjadi sekitar 82,32 juta SID (19,32 juta eksisting + 63 juta baru).

Peningkatan jumlah SID dari 19,32 juta menjadi 82,32 juta adalah pertambahan sekitar 326%.
Persentase terhadap total populasi Indonesia akan melonjak dari saat ini sekitar 6,8% menjadi sekitar 29% dari total populasi.

Skenario ini, meskipun terlihat ambisius, secara signifikan akan mempercepat visi Indonesia Emas 2045, dengan fondasi ekonomi yang kuat dan berbasis pada partisipasi masyarakat yang luas. Hal itu juga akan mempercepat upaya mewujudkan ekonomi Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan maju bersama.

Untuk mencapai target ini, maka BEI harus melakukan literasi dulu pada Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, maupun kementerian lainnya yang memiliki lembaga pendidikan. Paparkan keuntungan besar yang akan diperoleh, jika anak-anak sejak dini sudah memiliki saham di perusahaan-perusahaan besar Indonesia, terutama yang dimiliki pemerintah.

Misalkan saat melakukan literasi di TK, SD, SLTP, dan SLTA, pihak Pasar Mudal Indonesia, bisa melakukan pendekatan hadiah ulang tahun berupa saham. Sedangkan untuk kalangan mahasiswa, bisa dilakukan saat pembayatan UKT pertama, dimana setiap mahasiswa otomatis sudah menjadi investor di Pasar Modal Indonesia.

Nah, misalkan hadiah ulang tahun atau tambahan UKT-nya sebesar minimal Rp100.000 saja, untuk saham blue chip milik Pemerintah. Itu berarti dari 63 juta peserta didik (TK hingga PT) berinvestasi sebesar Rp100.000, maka akan ada dana segar sebesar Rp6,3 triliun yang masuk ke Pasar Modal Indonesia.

Baca Juga  7 Pilihan Tempat Wisata Keluarga di Surabaya Saat Weekend

Investasi masif dari 63 juta peserta didik yang masing-masing menyumbang Rp100.000 (total Rp6,3 triliun), akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan dan positif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Dana ini akan memperkuat pendanaan pembangunan nasional, terutama untuk pembiayaan jangka panjang yang penting bagi pembangunan. Aliran dana sebesar Rp6,3 triliun ini akan memperkuat modal kerja dan investasi perusahaan, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi secara makro.

Dampak positif lainnya, maka akan terjadi pengurangan ketergantungan kepada modal asing. Dominasi investor domestik yang semakin kuat dan akan mengurangi ketergantungan pada investor asing, sehingga ekonomi Indonesia menjadi lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh sentimen atau gejolak ekonomi global.

Selanjutnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berupa peningkatan investasi riil. Perusahaan yang mendapatkan suntikan dana dari pasar modal akan memiliki kapasitas untuk melakukan ekspansi, seperti membangun pabrik baru, memperbarui teknologi, dan menciptakan lapangan kerja baru. Peningkatan investasi riil ini akan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Dampak berikutnya, maka akan terjadilah pemerataan kesejahteraan. Dengan semakin banyak masyarakat yang menjadi investor dan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi (melalui dividen atau kenaikan harga saham), kesejahteraan ekonomi akan lebih merata dan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang. Hal ini sejalan dengan tujuan inklusi keuangan.

Berikutnya, akan meningkatkan stabilitas dan ketahanan ekonomi, berupa peningkatan likuiditas pasar. Masuknya dana besar akan meningkatkan likuiditas pasar modal, membuat transaksi jual-beli lebih aktif dan efisien.

Juga akan terjadi stabilisator pasar. Basis investor domestik yang besar dan solid, dapat menjadi penstabil pasar saat terjadi gejolak eksternal. Jika investor asing melakukan aksi jual, investor domestik dapat menyerap saham tersebut sehingga volatilitas pasar tidak terlalu parah.

Selanjutnya dapat mendorong inovasi dan transformasi ekonomi, berupa aokasi sumber daya optimal. Dana dari investor akan mengalir ke sektor-sektor yang paling produktif, mendorong efisiensi alokasi sumber daya secara keseluruhan.

Akan terjadi juga transformasi digital, dimana partisipasi investor dari kalangan pelajar dan mahasiswa akan mendorong adopsi teknologi digital dalam investasi, mempercepat transformasi pasar modal Indonesia dan menjadikannya lebih modern dan kompetitif.

Secara keseluruhan, skenario ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, memperkuat kemandirian finansial nasional, serta menciptakan fondasi ekonomi yang lebih tangguh di masa depan.

Bayangkan jika penambahan dana ini terjadi setiap ulang tahun mereka, maka setiap tahunnya akan menambah modal masuk di Pasar Modal Indonesia. Apalagi jika 63 juta investor baru tersebut secara konsisten menambah investasi sebesar Rp100.000 setiap tahun pada hari ulang tahun mereka, maka dalam 10 tahun ke depan akan terkumpul dana investasi tambahan yang sangat besar, mencapai total Rp63 triliun.

Dampak dari skenario ini terhadap perekonomian Indonesia dalam 10 tahun ke depan, maka akan menjadi sangat transformatif, dimana akan terjadi kemajuan ekonomi mandiri. Indonesia akan semakin mandiri dalam pembiayaan pembangunan, mengurangi kebutuhan utang luar negeri secara signifikan.

Dana Rp63 triliun (plus imbal hasilnya) akan menjadi pilar utama pendanaan proyek strategis dan ekspansi perusahaan nasional. Juga akan tercipta generasi muda yang teredukasi secara finansial, memahami konsep menabung, berinvestasi, dan risiko sejak dini. Ini akan menjadi aset sosial yang tak ternilai bagi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Secara otomatis akan terciptalah kapitalisasi pasar yang meningkat pesat. Basis investor domestik yang solid akan meningkatkan likuiditas pasar modal dan mendorong pertumbuhan kapitalisasi pasar secara signifikan. Pasar Indonesia akan menjadi lebih dalam (deep), kuat, dan tangguh menghadapi gejolak global.

Efek hebat lainnya, maka akan terjadilah pemerataan kesejahteraan yang lebih luas lagi, dimana dengan puluhan juta masyarakat yang memiliki kepemilikan aset produktif (saham perusahaan besar), hasil pertumbuhan ekonomi akan terdistribusi lebih adil.

Selanjutnya maka akan terciptalah stabilitas ekonomi jangka panjang. Ketahanan ekonomi nasional akan meningkat drastis karena pasar didukung oleh partisipasi domestik yang kuat, mengurangi volatilitas akibat keluarnya dana asing (capital outflow).

Secara ringkas, skenario ini akan mempercepat visi Indonesia untuk menjadi negara maju dengan fondasi ekonomi yang kuat, inklusif, dan berdaulat.

Dengan demikian, maka upaya mewujudkan ekonomi mandiri, berdaulat, dan maju bersama bukan lagi menjadi mimpi, namun akan terwujud sempurna untuk kesejahteran rakyat Indonesia. (*)