JAKARTA – Wartawan Senior Harian Singgalang , Drs. H.M.Khudri M.Pd memberikan tausiah untuk emak emak Minangkabau yang tergabung dalam organisasi Bundo Kanduang DKI Jabodetabek.
Khudri yang sedang berada di Jakarta diundang oleh pengurus Bundo Kanduang DKI Jabodetabek yang diketuai Suherni Syam untuk berbuka bersama di Hotel Balairung Jalan Matraman Jakarta Sabtu (23/4) kemaren. Acara itu dihadiri oleh puluhan Bundo Kanduang Minang Jabodetabek dengan Pembinanya mantan Wamendiknas Prof Dr.Fasli Djalal
Khudri yang juga dosen luar biasa Universitas PGRI Sumbar (UPGRISBA) dan wartawan media online Top Satu itu berbicara tentang Tanggung Jawab Bundo Kanduang Menurut Adat dan Budaya Minangkabau.
Peran Bundo Kanduang. Sebelumnya Khudri menginformasikan bahwa Budaya Minangkabau menjadi mata kuliah wajib di UPGRISBA Sumbar. “UPGRISBA mempelopori pelestarian keminangkabauan” katanya.
Dia menguraikan pertama Bundo Kanduang itu adalah, Limpapeh Rumah Nan Gadang. Sebagai Limpapeh, maka Bundo Kanduang menjadi marwah, inspirator, motivator, ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito, awih tampek minta aia dan lapa tampek mintak nasi
Yang kedua sebagai Amban Puruak Pegangan Kunci, atau memegang harta, induak bareh. “Bundo Kanduang sebagai manajer keuangan dalam keluarga ” katanya.
Peran ketiga adalah sebagai unduang unduang ka Madinah. “Ungkapan ini artinya Bundo Kanduang ini adalah pembimbing dan pendidik untuk menanamkan syarak atau ajaran Islam dalam rumah tangga dan di rumah gadang” katanya.
Terakhir kata Khudri, Bundo Kanduang adalah Payuang Panji ka Sarugo. “Artinya doa Bundo Kanduang mengantarkan kebahagiaan untuk anak anaknya didunia dan akhirat, doanya makbul” ujarnya.
Dari penjelasan di saat detik detik azan Magrib berebut berbuka puasa itu dosen Budaya Minangkabau ini menyimpulkan sendiri tanggungjawab Bundo Kanduang yaitu , menjadi istri yang baik, mendidik anak ka agamo, adaik, akhlak, menjadi suri teladan di keluarga dan masyarakat dan problem solver. (Eri)












