Solok  

Sulap Sampah Jadi Rupiah: Kisah Pasutri di Nagari Sungai Buluh Utara Ubah Limbah Menjadi Inspirasi

Pernahkah Anda membayangkan bahwa tumpukan sampah dapur yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir, justru bisa berubah menjadi cairan ajaib penyubur tanaman? Atau botol plastik bekas dan sedotan yang berserakan, menjelma menjadi tas cantik dan alas meja bernilai jual tinggi? Di Nagari Sungai Buluh Utara, Sumatera Barat, imajinasi itu bukan sekadar angan-angan. Ia adalah realitas sehari-hari yang digerakkan oleh sepasang suami istri inspiratif  Zetri dan Zaherman.

Di balik rimbunnya pepohonan nagari, terdapat semangat luar biasa dalam menjaga bumi. Zetri, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PKK Nagari Sungai Buluh Utara, tidak hanya berdiam diri melihat masalah lingkungan. Bersama suaminya Zaherman, mereka memulai revolusi kecil dari halaman rumah sendiri.

Berawal dari kepedulian mendalam terhadap kebersihan lingkungan  Zetri menerapkan prinsip bioteknologi sederhana namun berdampak besar. Ia mengolah sampah organik rumah tangga menjadi eco-enzyme. Melalui proses fermentasi sisa sampah organik, gula, dan air, terciptalah cairan serbaguna yang multifungsi. Tidak berhenti di situ, inovasi berlanjut pada pembuatan Pupuk Organik Cair (POC). Sinergi ilmu pengetahuan dan kearifan lokal terlihat jelas ketika Zaherman ikut ambil bagian.

Kotoran kerbau yang sering dianggap limbah bau oleh sebagian orang diolah tangan dingin mereka menjadi pupuk organik berkualitas. Produk ini kini tidak hanya menyuburkan kebun sendiri, tetapi juga dipasarkan kepada masyarakat sekitar, menjadi salah satu sumber penghasilan utama keluarga. Ini adalah bukti nyata penerapan IPTEK tepat guna mengubah masalah (limbah ternak) menjadi solusi ekonomi (pupuk komersial).

Baca Juga  Pasar Raya Solok Ditutup, Hoax

Namun, kreativitas Zetri tidak terbatas pada limbah basah. Matanya yang jeli melihat potensi limbah anorganik membuktikan bahwa sampah plastik bukanlah akhir dari segalanya. Dengan sentuhan seni kerajinan tangan, sedotan bekas disulap menjadi alas meja estetis, botol teh plastik berubah fungsi menjadi tas unik, vas bunga, hingga asbak kreatif dari bahan daur ulang. Setiap karya yang dihasilkan bukan hanya mengurangi volume sampah di nagari, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

Lebih jauh lagi, dedikasi mereka merambah ke sektor kesehatan tradisional. Zetri aktif membudidayakan berbagai tanaman obat dan mengolah bahan alam menjadi jamu tradisional. Ramuan dari jahe merah, gula merah atau gula putih, cengkeh, kulit manis, dan serai diracik dengan takaran presisi, menghadirkan minuman herbal yang menyehatkan sekaligus melestarikan warisan leluhur.Konsistensi tidak pernah mengkhianati hasil.

Dedikasi tanpa lelah dalam pengelolaan limbah ini mengantarkan Zetri meraih Juara II Lomba Pengolahan Limbah dan mempersiapkan diri mengikuti Jambore. Prestasi ini bukan sekadar piala di lemari pajangan, melainkan validasi bahwa model pemberdayaan berbasis lingkungan yang mereka bangun layak direplikasi.

Baca Juga  Pilbup Solok, JFP-Candra Unggul di Aie Batumbuak

“Kami percaya, sampah bukan musuh, tapi bahan baku yang belum tergarap. Ketika lingkungan dijaga, ekonomi keluarga pun ikut terjaga,” ujar Zetri.

Bersama suami, ia membuktikan  kepedulian terhadap lingkungan dapat menciptakan peluang ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.Kisah Zetri dan  Zaherman adalah cerminan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan tingkat atas atau teknologi mahal. Ia bisa lahir dari dapur rumah, dari kandang kerbau, dan dari tangan-tangan terampil yang peduli. Kolaborasi antara sains sederhana, seni daur ulang, dan kewirausahaan sosial telah membuktikan bahwa kepedulian lingkungan berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.

Nagari Sungai Buluh Utara kini tidak hanya lebih bersih, tetapi juga lebih produktif. Mereka telah mengajarkan kita satu pelajaran berharga: di balik setiap limbah yang terbuang, tersimpan peluang emas bagi mereka yang mau berpikir kreatif dan bertindak nyata. Inspirasi dari nagari ini layak menjadi viral, bukan di media sosial semata, tapi dalam tindakan nyata setiap rumah tangga di Indonesia. (r)