LUBUK BASUNG – Budaya membaca dan menulis harus kita tingkatkan. Guru harus menjadi role model bagi siswanya dalam kegiatan berliterasi. Menanamkan budaya membaca di kalangan siswa harus menjadi prioritas bagi sekolah untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter dan memiliki daya saing untuk merebut peluang.
Hal itu disampaikan Bunda Literasi Kabupaten Agam Yenni Andriwarman ketika tampil sebagai narasumber pada acara Talkshow dan Bedah Buku, Gebyar Gerakan Literasi IV SMPN 3 Ampek Angkek Kabupaten Agam kemarin.
Menurut Yenni Andriwarman upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah seperti mewajibkan siswa membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai merupakan langkah baik. Kegemaran membaca dapat ditanamkan kepada siswa sehingga menjadi budaya melalui pembiasaan.
Ketua TP PKK Kabupaten Agam itu, juga memuji program unggulan sekolah yang dipimpin Yetti Yulia itu satu siswa satu buku dan satu guru satu buku. Dengan komitmen dan dukungan dari stake holder pendidikan, sehingga sekolah ini telah melahirkan sebanyak 250 buku karya guru dan siswa.
Sementara itu, Bupati Agam yang diwakili Staf ahli SDM Aryati menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah, guru dan siswa SMPN 3 Ampek Angkek yang konsisten mengusung kegiatan Gebyar Gerakan Literasi setiap tahun.
Diakui, kata mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Agam ini, kegiatan Gebyar Literasi tahun ini jauh lebih maju karena sekolah ini menerapkan literasi digital. Semua buku, baik yang ditulis oleh guru maupun siswa sudah menjadi buku digital dan memiliki “barcode”. Hebatnya lagi, sekolah ini juga memiliki majalah bernama “Spenta Mags”, sebagai wadah untuk menyalurkan tulisan siswa dan guru.
Hadir pada kegiatan Gebyar literasi IV SMPN 3 Ampek Angkek Agam itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Linda Roza, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diwakili Kabid SMP, Ketua Dewan Pendidikan Agam Junaidi, Kepala SMP se Kabupaten Agam, Tokoh masyarakat, ninik mamak dan bundo kanduang setempat. (as)












